Minggu, 12 April 2026

Cerita Fantasi ( Gerbang Terlarang Itu Memanggil Namaku ) Eps 7

 

CINCINSLOT Gelap.

Namun bukan kehampaan seperti sebelumnya.

Kali ini—

gelap itu hidup.

Bergerak.

Menekan.

Menghimpit.

Raka berdiri di dalam ruang tanpa batas itu, tubuhnya terasa berat… seperti terikat oleh sesuatu yang tak terlihat.

Di sekelilingnya—

rantai kegelapan melilit.

Mengikat tangan.

Mengikat kaki.

Bahkan… mencoba menelan cahaya di dalam dirinya.

“Akhirnya… kau terdiam…”

Suara itu bergema.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Sosok besar itu muncul lagi.

Namun kini—

bukan dari gerbang.

Melainkan dari dalam kegelapan itu sendiri.

“Kau pikir bisa melawanku dari dalam?” suaranya dingin.
“Ini adalah wilayahku.”

Raka terdiam.

Napasnya berat.

Namun matanya—

tidak lagi ragu.

“Kalau ini wilayahmu…”

Ia mengepalkan tangannya.

“…berarti aku harus merebutnya.”

Sosok itu tertawa pelan.

“Masih melawan… meski sudah terikat seperti itu?”

Raka menunduk.

Melihat rantai yang membelenggunya.

Lalu—

ia tersenyum tipis.

“Kalau aku bisa dikunci…”

Ia mengangkat kepalanya.

“…berarti aku juga bisa membuka.”

Cahaya putih di dadanya menyala.

Kecil.

Namun stabil.

Rantai kegelapan itu mulai bergetar.

“Tidak akan kubiarkan…” suara makhluk itu berubah tajam.

Kegelapan menekan lebih kuat.

Mencoba memadamkan cahaya itu.

Namun—

Raka tidak berhenti.

Ia menutup matanya.

Mengingat sesuatu.

Suara.

Wajah.

Perasaan.

Nara.

Dan—

cahaya itu membesar.

“Ini bukan cuma kekuatanku…”

Rantai mulai retak.

“Ini… pilihanku.”

CRACK!!

Satu rantai putus.

Makhluk itu langsung bergerak.

“Cukup!”

Kegelapan menyerang.

Langsung menelan Raka.

Namun—

cahaya itu meledak dari dalam.

Menahan.

Melawan.

Raka membuka matanya.

Kini—

tidak hanya putih.

Namun bercampur merah… yang lebih stabil.

“Aku tidak akan jadi wadahmu…”

Ia menarik tangannya.

Rantai kedua hancur.

“Aku bukan gerbang…”

Rantai ketiga putus.

“Aku… adalah penjaga.”

BOOM!!

Semua rantai hancur sekaligus.

Cahaya besar memenuhi ruang itu.

Makhluk itu mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya—

ia terlihat… terganggu.

“Kau… benar-benar berusaha mengendalikannya…”

Raka berdiri tegak.

Cahaya di tubuhnya kini seimbang.

Putih dan merah menyatu… tanpa saling menghancurkan.

“Bukan mengendalikannya…”

Ia menatap makhluk itu.

“Tapi menentukannya.”

Sunyi.

Makhluk itu menatapnya lama.

Lalu—

tersenyum tipis.

“Kalau begitu… buktikan.”

Dalam sekejap—

kegelapan berubah.

Menjadi badai.

Menghantam Raka dari segala arah.

Namun kali ini—

Raka tidak terdorong.

Ia berdiri.

Mengangkat tangannya.

Cahaya menyebar.

Membentuk perisai.

Menahan semuanya.

Di luar—

di dunia nyata—

Nara melihat tubuh Raka.

Masih berdiri.

Namun dikelilingi kegelapan yang berputar liar.

“Raka…”

Ia menggertakkan giginya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana…”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya biru muncul lagi.

“...tapi aku tidak akan diam saja!”

Ia menembakkan cahaya itu ke arah Raka.

Namun bukan untuk menyerang.

Melainkan—

membantu.

Di dalam—

Raka merasakan sesuatu.

Hangat.

Dingin.

Namun menenangkan.

“Nara…”

Cahaya biru itu menyatu dengan cahaya putihnya.

Membuatnya lebih stabil.

Lebih kuat.

Raka tersenyum.

“Terima kasih…”

Makhluk itu menatap mereka.

Kini benar-benar serius.

“Kalau begitu… aku akan menghancurkan kalian berdua sekaligus.”

Ia mengangkat tangannya—

dan seluruh kegelapan berkumpul.

Membentuk satu serangan besar.

Lebih besar dari sebelumnya.

Lebih mematikan.

Raka menarik napas dalam.

“Ini… kesempatan terakhir…”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya putih, merah, dan biru—

menyatu.

Untuk pertama kalinya—

tiga kekuatan menjadi satu.

Makhluk itu menyerang.

Raka juga.

DUA Kekuatan bertabrakan.

Ledakan besar terjadi.

Menghancurkan ruang itu.

Membutakan segalanya.

Sunyi.


Beberapa saat kemudian…

Cahaya perlahan mereda.

Raka berdiri.

Masih di tempatnya.

Masih sadar.

Namun—

luka terlihat di tubuhnya.

Napasnya berat.

Di depannya—

makhluk itu masih ada.

Namun—

retakan muncul di tubuhnya.

Untuk pertama kalinya—

ia terluka.

“Kau…”

Suaranya berubah.

Lebih rendah.

Lebih serius.

“Benar-benar… ancaman.”

Raka menatapnya.

Lelah.

Namun tersenyum.

“Dan aku belum selesai.”

Makhluk itu terdiam.

Lalu—

perlahan tertawa.

“Bagus…”

Tubuhnya mulai menghilang.

“Kita akan bertemu lagi…”

Suaranya memudar.

“Dan saat itu… tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu.”

Kegelapan menghilang.

Ruang kembali sunyi.


Raka terjatuh.

Kembali ke dunia nyata.

Nara langsung menangkapnya.

“Raka!”

Napas Raka lemah.

Namun ia tersenyum kecil.

“Aku… masih di sini…”

Nara menahan air mata.

“Jangan pergi lagi…”

Raka menutup matanya perlahan.

“Belum… waktunya…”

Sunyi.

Namun kali ini—

bukan ketenangan palsu.

Melainkan…

awal dari harapan.

Janji di Ambang Kehancuran

CINCINSLOT Angin malam berhembus pelan.

Untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu—

dunia terasa… tenang.

Namun bukan karena semuanya telah berakhir.

Melainkan karena—

sesuatu sedang menunggu waktu yang tepat.

Raka terbaring di ruang UKS.

Matanya tertutup.

Napasnya pelan… namun stabil.

Di sampingnya, Nara duduk diam.

Tidak tidur.

Tidak bergerak.

Hanya menatap Raka… seolah takut kehilangan dalam satu kedipan.

“Kamu selalu seperti ini…” bisiknya pelan.
“Selalu menanggung semuanya sendiri…”

Tangannya menggenggam tangan Raka.

Hangat.

Masih hidup.

Dan itu cukup… untuk membuatnya bertahan.

Beberapa saat kemudian—

jari Raka bergerak.

Matanya perlahan terbuka.

“Nara…”

Nara langsung tersentak.

“Kamu bangun!”

Raka tersenyum lemah.

“Aku masih hidup, kan…?”

Nara menahan air mata.

“Sayangnya, iya.”

Raka tertawa pelan… lalu meringis.

“Sepertinya… aku belum bisa istirahat lama.”

Nara menatapnya serius.

“Raka… yang tadi itu…”

Ia ragu.

“Makhluk itu… kamu melukainya, kan?”

Raka terdiam sejenak.

Lalu mengangguk pelan.

“Sedikit…”

Ia menatap langit-langit.

“Tapi itu tidak cukup.”

Sunyi.

“Kita belum siap…”

Nara mengepalkan tangannya.

“Lalu kita harus jadi siap.”

Raka menoleh.

Dan untuk pertama kalinya—

ia melihat sesuatu di mata Nara.

Bukan hanya keberanian.

Tapi juga… tekad yang tidak akan goyah.

Tiba-tiba—

GETARAN HALUS TERASA.

Raka langsung duduk.

“Kamu merasakannya…?”

Nara mengangguk.

“Iya…”

Namun kali ini—

tidak ada retakan.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada serangan.

Justru—

cahaya kecil muncul.

Di udara.

Lembut.

Berwarna keemasan.

Raka mengernyit.

“Apa itu…?”

Cahaya itu perlahan membentuk sesuatu.

Sebuah simbol.

Berbeda dari tanda di dada Raka.

Namun… terasa familiar.

Hangat.

Tenang.

Dan saat Raka mendekat—

simbol itu berpendar lebih terang.

Seolah… merespons dirinya.

“Ini… bukan dari gerbang…” kata Raka pelan.

Nara juga mendekat.

“Ini kebalikannya…”

Raka menatapnya.

“Kebalikannya…?”

Nara mengangguk.

“Kalau yang tadi itu kegelapan…”

Ia menatap cahaya itu.

“Ini… mungkin sesuatu yang pernah menahannya.”

Sunyi.

Raka mengulurkan tangannya.

Dan saat ia menyentuh cahaya itu—

sebuah ingatan masuk ke pikirannya.

Kilatan.

Suara.

Dan—

sebuah tempat.

Raka melihat sebuah kuil tua.

Tersembunyi.

Rusak.

Namun masih berdiri.

Di tengah kehampaan.

Dan di dalamnya—

sebuah lingkaran cahaya.

Lebih besar.

Lebih kuat.

Dan di tengahnya—

segel lain.

Raka tersentak kembali.

Napasnya cepat.

“Aku… melihat sesuatu…”

Nara langsung mendekat.

“Apa?”

Raka menatapnya.

“Kita tidak sendirian.”

“...Maksudmu?”

“Ada sesuatu… yang pernah menahan makhluk itu sebelumnya…”

Ia mengepalkan tangannya.

“Dan mungkin… masih ada.”

Mata Nara melebar.

“Kamu tahu di mana itu?”

Raka mengangguk pelan.

“Tempat itu… memanggilku juga.”

Sunyi.

Namun kali ini—

bukan panggilan gelap.

Melainkan—

panggilan untuk harapan.

Nara tersenyum kecil.

“Kalau begitu… kita punya tujuan.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

Ia berdiri perlahan.

Meski tubuhnya masih lemah—

matanya kembali kuat.

“Kalau kita tidak bisa hanya menahannya…”

Ia menatap ke depan.

“…maka kita harus menemukan cara untuk benar-benar menghentikannya.”

Nara berdiri di sampingnya.

“Dan kita lakukan itu bersama.”

Raka tersenyum.

Untuk pertama kalinya—

tanpa beban.

“Bersama.”

Namun—

di kejauhan—

di balik ruang yang tak terlihat—

makhluk itu membuka matanya.

Retakan di tubuhnya… mulai pulih.

Dan senyum tipis kembali muncul.

“Menarik…”

Ia berbisik.

“Semakin kalian mencari harapan…”

Matanya menyala merah.

“Semakin besar kehancuran yang akan datang.”

Perjalanan baru pun dimulai.

Bukan hanya untuk bertahan.

Namun untuk—

menemukan kunci yang sebenarnya.








**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Sabtu, 11 April 2026

Cerita Fantasi ( Gerbang Terlarang Itu Memanggil Namaku ) Eps 6

 

CINCINSLOT Sunyi.

Dunia di balik gerbang itu kini terasa… lebih tenang.

Namun bukan ketenangan yang menenangkan.

Melainkan ketenangan sebelum sesuatu yang jauh lebih besar terjadi.

Raka berdiri diam.

Tatapannya masih tertuju pada gerbang yang telah menutup.

Namun bayangan makhluk itu… masih jelas di pikirannya.

“Apa itu benar-benar… bisa dikalahkan…?” bisiknya pelan.

Nara berdiri di sampingnya.

Tidak menjawab.

Karena ia pun… tidak tahu.

Tiba-tiba—

RUANG DI SEKITAR MEREKA BERGETAR.

Namun kali ini… berbeda.

Bukan karena kegelapan.

Bukan karena makhluk itu.

Melainkan—

cahaya putih.

Hangat.

Lembut.

Sangat kontras dengan dunia ini.

Raka langsung menoleh.

“Apa lagi sekarang…?”

Dari kejauhan—

sebuah sosok muncul.

Perlahan.

Tenang.

Diselimuti cahaya.

Langkahnya ringan… seolah tidak menyentuh tanah.

Dan saat ia semakin dekat—

Raka membeku.

“Tidak mungkin…”

Sosok itu berhenti.

Menatap Raka dengan mata yang penuh… kenangan.

“Raka…”

Suara itu lembut.

Sangat familiar.

Jantung Raka berdegup kencang.

“Ibu…?”

Nara langsung terkejut.

“Apa?!”

Sosok itu tersenyum hangat.

Senyum yang sama… yang selalu Raka ingat.

Namun—

ada sesuatu yang berbeda.

Matanya.

Terlalu tenang.

Terlalu… tidak nyata.

“Kamu sudah sejauh ini…” katanya pelan.
“Aku bangga padamu.”

Air mata Raka jatuh tanpa sadar.

“Apa… ini benar kamu…?”

Ia melangkah mendekat.

Ragu.

Takut.

Namun juga… rindu.

Nara langsung menahannya.

“Raka, tunggu! Ini mencurigakan!”

Namun Raka tidak mendengar.

“Ibu… kenapa kamu di sini…?”

Sosok itu mengulurkan tangan.

“Aku selalu di sini…”

Raka hampir menyentuhnya—

namun tiba-tiba—

Nara menariknya mundur.

“JANGAN!!”

Raka tersentak.

“Apa yang kamu lakukan?!”

Nara menatap sosok itu tajam.

“Itu bukan ibumu.”

Sunyi.

Sosok itu terdiam.

Lalu—

perlahan… senyumnya berubah.

Menjadi lebih tipis.

Lebih dingin.

“Kau cukup peka…” katanya.

Suara itu…

mulai berubah.

Lebih dalam.

Lebih asing.

Raka membeku.

“Ibu…?”

Namun sosok itu—

mulai retak.

Cahaya putih di tubuhnya pecah.

Dan dari baliknya—

kegelapan muncul.

Raka mundur.

“Tidak…”

Wajah sosok itu berubah.

Tidak lagi hangat.

Tidak lagi manusia.

Melainkan—

topeng.

Untuk sesuatu yang lain.

“Aku hanya ingin melihat… seberapa kuat hatimu,” kata suara itu.

Kini sepenuhnya dingin.

“Dan ternyata… masih mudah goyah.”

Raka mengepalkan tangannya.

Matanya bergetar.

“Kenapa… kamu melakukan itu…?”

Sosok itu tersenyum tipis.

“Karena hati yang lemah… lebih mudah dihancurkan.”

Dalam sekejap—

ilusi itu hancur.

Sosok itu menghilang.

Digantikan oleh bayangan gelap yang melayang di udara.

Tidak sebesar makhluk sebelumnya.

Namun…

lebih licik.

“Dia mengirimku…” kata bayangan itu.

“Untuk menguji… dan memecahmu.”

Raka menunduk.

Tubuhnya gemetar.

Namun bukan karena takut.

Karena marah.

“Kamu… berani menggunakan wajah itu…”

Cahaya di tubuhnya mulai menyala.

Lebih kuat.

Lebih panas.

“Kamu pikir aku akan jatuh lagi…?”

Ia mengangkat kepalanya.

Matanya bersinar tajam.

“Tidak kali ini.”

Bayangan itu tertawa.

“Kalau begitu… buktikan.”

Ia menyerang.

Cepat.

Langsung ke arah Raka.

Namun—

kali ini berbeda.

Raka tidak mundur.

Tidak ragu.

Ia melangkah maju.

Cahaya putih dan merah menyatu di tangannya.

Dan—

BOOM!

Satu serangan.

Langsung menembus bayangan itu.

Makhluk itu terkejut.

“Apa—?!”

Tubuhnya mulai hancur.

“Aku sudah cukup melihat ilusi…” kata Raka dingin.

“Sekarang… aku tahu mana yang nyata.”

Bayangan itu mencoba bertahan.

Namun gagal.

Tubuhnya hancur sepenuhnya.

Menghilang tanpa sisa.

Sunyi kembali.

Nara menatap Raka.

Kali ini…

dengan rasa berbeda.

“Kamu… berubah.”

Raka menatap tangannya.

Lalu menghela napas pelan.

“Bukan berubah…”

Ia menatap ke depan.

Ke arah gerbang.

“Aku hanya… mulai mengerti.”

Nara tersenyum kecil.

“Bagus.”

Namun—

tiba-tiba—

gerbang itu bergetar lagi.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Raka dan Nara langsung menoleh.

“Apa sekarang lagi…?”

Gerbang itu tidak terbuka.

Namun—

retakan muncul di sekitarnya.

Dan dari dalam—

cahaya merah menyembur keluar.

Disertai suara itu.

Lebih jelas.

Lebih dekat.

“Kau semakin menarik…”

Raka membeku.

“Itu dia…”

Suara itu… kembali.

Namun kali ini—

lebih kuat.

Lebih nyata.

Dan lebih dekat dari sebelumnya.

Seolah—

ia tidak lagi hanya di balik gerbang.

Nara mengepalkan tangannya.

“Raka…”

Namun Raka tidak menjawab.

Tatapannya serius.

Karena kini—

ia sadar satu hal.

Makhluk itu… sedang mencari jalan lain untuk keluar.

Dan mungkin—

gerbang bukan satu-satunya cara.

Celah yang Tak Terlihat

CINCINSLOT Suara itu… masih bergema.

Namun kali ini—

tidak berasal dari gerbang.

Raka berdiri diam.

Matanya menyipit.

“Ini… bukan dari sana…”

Nara langsung menoleh cepat.

“Maksudmu…?”

Raka memegang dadanya.

Tanda itu kembali berdenyut.

Namun berbeda.

Bukan seperti panggilan.

Melainkan… seperti peringatan.

“Dia… tidak mencoba keluar lewat gerbang lagi…”

Napas Raka menjadi berat.

“Dia mencoba… masuk lewat yang lain.”

Sunyi.

Dan dalam sekejap—

RUANG DI SEKITAR MEREKA RETAK.

Namun bukan dari satu titik.

Melainkan—

di mana-mana.

Seperti kaca yang pecah.

Retakan kecil muncul di udara.

Tipis.

Hampir tak terlihat.

Namun jumlahnya… ratusan.

Nara membeku.

“Ini tidak mungkin…”

Raka menatap sekeliling.

Wajahnya menegang.

“Celah…”

“Celah?”

“Dia membuat celah kecil…” suara Raka pelan, “bukan satu gerbang besar… tapi banyak pintu kecil…”

Jantung Nara berdegup kencang.

“Kalau begitu… dia bisa masuk ke mana saja…”

Raka mengangguk pelan.

“Dan kita tidak bisa menutup semuanya…”

Tiba-tiba—

SSTTT…

Sebuah retakan di dekat mereka… terbuka sedikit.

Dan dari dalamnya—

sesuatu keluar.

Bukan makhluk besar.

Bukan bayangan utuh.

Melainkan—

potongan.

Seperti tangan.

Namun tidak lengkap.

Terbuat dari kegelapan yang cair.

Menyentuh dunia ini.

Nara langsung menyerang.

Cahaya biru menghantamnya.

Namun—

tangan itu hancur… lalu muncul lagi dari celah lain.

“Apa?!”

Raka langsung mengerti.

“Percuma… selama celahnya ada, dia bisa terus muncul…”

Tiba-tiba—

lebih banyak celah terbuka.

Dan dari masing-masing—

potongan-potongan makhluk itu keluar.

Tangan.

Wajah setengah.

Bayangan mata.

Semua tidak utuh.

Namun… hidup.

“Dia… menyebar…” bisik Nara.

“Dia tidak perlu keluar sepenuhnya…” lanjut Raka,
“dia hanya perlu masuk… sedikit demi sedikit…”

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Salah satu bayangan mendekat ke Raka.

Lebih cepat dari yang lain.

Dan sebelum ia sempat bereaksi—

bayangan itu menembus tubuhnya.

“NGH—!”

Raka membeku.

Matanya membesar.

“Raka!!”

Namun semuanya… terlambat.

Bayangan itu masuk.

Ke dalam dirinya.

Cahaya di dadanya langsung bergejolak.

Putih dan merah saling bertabrakan.

Tidak stabil.

“AARGH!!”

Raka jatuh berlutut.

Tubuhnya gemetar hebat.

“Dia… masuk…”

Nara panik.

“Tidak… tidak boleh…”

Ia mencoba membantu.

Namun—

lebih banyak bayangan datang.

Menghalanginya.

“Kamu tidak akan bisa menyentuhnya…” suara itu terdengar lagi.

Namun kini—

bukan dari luar.

Melainkan dari dalam tubuh Raka.

“Kami… sudah di dalam.”

Nara membeku.

Matanya melebar.

“Tidak…”

Tubuh Raka perlahan berdiri.

Namun gerakannya… aneh.

Kaku.

Seolah bukan dia yang mengendalikan.

Matanya terbuka.

Separuh putih.

Separuh… merah pekat.

“Nara…”

Suaranya keluar.

Namun bukan sepenuhnya miliknya.

“Aku… di sini…”

Nara mundur satu langkah.

Air matanya jatuh.

“Raka… lawan…”

Namun Raka tersenyum.

Senyum yang bukan miliknya.

“Kau terlambat…”

Tiba-tiba—

Raka mengangkat tangannya.

Kegelapan muncul di sekitarnya.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih liar.

“Sekarang… aku tidak perlu gerbang lagi…”

Nara menggertakkan giginya.

“Tidak… aku tidak akan membiarkan ini!”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya biru meledak.

Namun kali ini—

Raka menahannya.

Dengan mudah.

“Kekuatanmu… tidak cukup…”

Langit mulai retak lagi.

Namun kali ini—

bukan dari luar.

Melainkan dari dalam ruang itu sendiri.

Karena pusatnya—

adalah Raka.

Namun—

di dalam dirinya—

Raka masih ada.

Terjebak.

Berjuang.

Di dalam kegelapan—

ia melihat dirinya sendiri.

Terikat.

Namun belum hilang.

“Bangkit…”

Suara itu.

Bukan suara makhluk itu.

Namun… sesuatu yang lain.

Lebih lembut.

Lebih dalam.

“Ini tubuhmu…”

Raka mengepalkan tangannya.

“Aku… belum kalah…”

Cahaya putih di dalam dirinya mulai menyala lagi.

Kecil.

Namun ada.

Dan di dunia luar—

mata Raka berkedip.

Sekilas—

warna putih muncul.

Nara melihatnya.

“Raka…!”

Ia tersenyum.

“Ya… itu kamu…”

Namun—

kegelapan menekan lagi.

Lebih kuat.

“Tidak akan kubiarkan…”

Pertarungan kini bukan hanya di luar—

tapi juga di dalam.

Dan jika Raka kalah—

maka bukan hanya gerbang yang terbuka.

Melainkan—

dunia akan memiliki penguasa baru… melalui dirinya.









**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND