CINCINSLOT - Api peperangan memang telah padam. Langit tidak lagi merah darah. Desa kembali dibangun. Kastil gelap yang dulu berdiri angkuh kini hanya menyisakan reruntuhan batu hitam.
Namun kedamaian tidak selalu berarti akhir.
Laras berdiri di tepi tebing tempat semuanya pernah hampir berakhir. Angin malam menerpa rambut panjangnya. Matanya yang dulu menyala merah kini kembali hangat… tetapi sesekali, kilatan cahaya merah itu masih muncul.
Arsen mendekat dari belakang.
“Apa kau merasakannya juga?” tanyanya pelan.
Laras mengangguk.
“Ada sesuatu yang belum selesai.”
Sejak pertarungan terakhir, kekuatan Laras berubah. Ia bukan lagi hanya gadis desa. Ia bukan sepenuhnya vampir. Ia adalah sesuatu yang baru—perpaduan terang dan gelap. Dan keseimbangan itu… menarik perhatian dunia lain.
Malam itu, tanah bergetar.
Di reruntuhan altar tua, simbol yang dulu digunakan untuk membangkitkan kegelapan kembali menyala samar. Bukan merah. Bukan hitam.
Melainkan cahaya perak.
Dari dalam lingkaran sihir itu muncul sosok berkerudung putih. Wajahnya pucat seperti bulan, matanya bersinar dingin.
“Akhirnya,” suara itu bergema, “penjaga keseimbangan telah terbangun.”
Arsen berdiri di depan Laras, refleks melindungi.
“Kau siapa?”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Aku bukan musuhmu… tapi dunia ini akan menjadi jika kekuatan itu tak dikendalikan.”
Ternyata, pertarungan mereka bukanlah akhir dari kegelapan… melainkan awal dari ujian baru.
Laras menggenggam tangan Arsen.
“Kali ini… kita tidak hanya melindungi diri kita. Kita melindungi dunia.”
Langit malam terbelah oleh cahaya perak yang menyapu cakrawala.
Dan takdir baru pun dimulai.
Rahasia Darah Abadi
CINCINSLOT - Cahaya perak dari altar tua belum juga padam.
Sosok berkerudung putih itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat udara terasa berat, seolah dunia menahan napas.
“Aku adalah Penjaga Gerbang Antar-Dimensi,” katanya. “Dan kekuatanmu, Laras… bukan hanya milik dunia ini.”
Arsen mengepalkan tangan. Aura gelap samar mengelilinginya.
“Jangan mendekatinya.”
Sosok itu mengangkat tangan. Dalam sekejap, bayangan masa lalu muncul di udara seperti cermin pecah.
Laras melihat dirinya kecil… seorang bayi yang dibungkus kain putih, ditinggalkan di tepi hutan saat bulan merah menggantung di langit.
Namun ada sesuatu yang membuat napasnya tercekat.
Di samping bayi itu… berdiri seorang vampir muda yang terluka parah.
Arsen.
Laras menoleh cepat. “Apa ini…?”
Wajah Arsen menegang.
“Aku tidak pernah ingin kau tahu…”
Ternyata malam ketika Laras ditemukan warga desa bukanlah kebetulan. Arsenlah yang menyelamatkannya dari pembantaian klan vampir kuno. Ia menyembunyikan identitasnya dan mengawasi Laras dari jauh selama bertahun-tahun.
“Kenapa?” suara Laras bergetar.
Arsen menunduk. “Karena kau bukan manusia biasa… dan bukan vampir biasa. Darahmu adalah darah keseimbangan. Jika musuh tahu, mereka akan memburumu.”
Sosok berkerudung putih berbicara lagi.
“Dan kini gerbang antar-dimensi mulai terbuka. Ada makhluk yang lebih tua dari vampir… lebih haus dari kegelapan. Mereka mencium kekuatan itu.”
Tanah kembali bergetar.
Di langit, retakan cahaya perak berubah menjadi celah hitam. Dari dalamnya terdengar suara gemuruh… seperti ribuan bisikan.
Laras merasakan kekuatannya berdenyut.
Ia memegang tangan Arsen.
“Kali ini, jangan sembunyikan apa pun dariku.”
Arsen menatapnya, mata merahnya lembut.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”
Celah di langit membesar.
Dan dari dalamnya… sebuah tangan hitam raksasa mulai meraih keluar.
Pertarungan yang lebih besar dari dunia mereka telah dimulai.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar