Janji di Bawah Bulan Berdarah
CINCINSLOT - Hutan gelap menyambut Laras dengan bisikan angin dingin. Pohon-pohon menjulang tinggi, daun-daunnya berkilau seperti perak di bawah cahaya bulan. Di kejauhan terdengar langkah makhluk malam — ada yang mengintai, ada yang mengawasi.
Laras berdiri di samping Arsen, masih menggenggam tangannya erat-erat. Jantungnya berdegup cepat, bukan hanya karena takut, tetapi karena ia tahu hidupnya telah berubah selamanya.
Arsen menatapnya dengan lembut. “Laras… mulai malam ini, dunia ini akan menjadi rumahmu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian.”
Laras mengangguk. “Aku tahu. Dan aku tidak menyesal.”
Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul sosok wanita bergaun hitam panjang. Matanya pucat, kulitnya seputih porselen — seorang vampir tua yang penuh wibawa.
Ia menatap Laras tajam.
“Jadi… inikah manusia yang kau bawa, Arsen?” suaranya dingin namun berkelas.
Arsen berdiri tegak. “Dia bukan sekadar manusia. Dia pilihanku.”
Vampir wanita itu mendekat, mengelilingi Laras perlahan. “Manusia rapuh tidak bertahan lama di dunia ini.”
Laras menarik napas dalam, lalu menatap balik wanita itu tanpa gentar. “Aku tidak rapuh. Dan aku akan bertahan.”
Sejenak, wanita itu terdiam — lalu tersenyum tipis.
“Menarik… sangat menarik.”
Ia mengangkat tangannya, dan langit berubah merah gelap — bulan berdarah mulai muncul.
Arsen menegang. “Ini tanda bahwa dunia vampir sedang berubah.”
Wanita itu menatap Laras. “Jika kau ingin benar-benar hidup di sini, ada satu harga yang harus kau bayar.”
Laras menoleh ke Arsen. “Apa pun itu… aku siap.”
Wanita itu berbisik, “Kau harus memilih:
Tetap menjadi manusia di dunia vampir — rapuh, tapi bebas memilih takdirmu.
Atau berubah menjadi vampir — kuat, abadi… tetapi kehilangan sebagian kemanusiaanmu.”
Bulan berdarah semakin terang. Angin berputar kencang.
Arsen menggenggam tangan Laras. “Apa pun pilihanmu… aku akan tetap mencintaimu.”
Laras menatap langit, lalu menutup mata sejenak.
Saat ia membuka mata kembali… ia sudah siap menjawab.
Harga Keabadian
CINCINSLOT - Bulan berdarah menggantung rendah di langit, memancarkan cahaya merah yang menembus celah-celah pepohonan. Hutan terasa semakin sunyi, seolah menahan napas menunggu keputusan Laras.
Vampir wanita berpakaian hitam itu berdiri tak bergerak, matanya menatap Laras tajam namun penuh rasa ingin tahu. Arsen masih menggenggam tangan Laras, jemarinya sedikit bergetar.
Laras menatap Arsen lama-lama. Di matanya terpantul semua kenangan: desanya, ibunya, sawah, sungai kecil tempat ia sering duduk di sore hari — dan juga cinta yang ia temukan di tengah kegelapan.
Ia menarik napas dalam.
“Aku sudah membuat pilihanku,” katanya pelan, namun mantap.
Arsen menatapnya cemas. “Laras… kau tidak perlu terburu-buru.”
Laras tersenyum tipis. “Aku tidak ragu lagi.”
Ia berbalik menghadap vampir wanita itu.
“Aku memilih… untuk berubah menjadi vampir.”
Angin mendadak berputar kencang. Daun-daun beterbangan, dan bulan berdarah semakin bersinar terang. Arsen terkejut.
“Laras… apakah kau benar-benar yakin?” tanyanya lirih.
Laras menggenggam wajah Arsen. “Jika dunia ini akan menjadi rumahku, maka aku ingin menjadi bagian darinya — dan tetap bersamamu selamanya.”
Vampir wanita itu mengangguk perlahan. “Keputusanmu berani… dan berbahaya.”
Ia melangkah mendekat, meletakkan tangannya di dahi Laras. Cahaya merah mengalir dari bulan, menyelimuti tubuh Laras seperti api yang tidak membakar.
Laras memejamkan mata. Tubuhnya terasa panas, lalu dingin, lalu ringan seperti melayang.
Saat ia membuka mata kembali… sesuatu telah berubah.
Matanya berkilau lebih tajam. Pendengarannya lebih peka. Ia bisa merasakan detak jantung makhluk lain di sekitarnya. Dan yang paling mengejutkan — ia bisa melihat dunia dalam nuansa baru: lebih terang, lebih jelas, lebih hidup.
Arsen menatapnya tak berkedip.
“Laras… kau cantik,” bisiknya.
Laras menatap tangannya sendiri — kulitnya masih terlihat manusia, namun ada aura gelap lembut di sekelilingnya.
Vampir wanita itu tersenyum tipis. “Mulai malam ini, kau bukan lagi sekadar manusia. Kau bagian dari dunia kami.”
Namun sebelum Laras sempat menjawab, terdengar suara gemuruh dari kejauhan — para pemburu vampir telah menemukan jejak mereka.
Arsen langsung berdiri di depan Laras.
“Ini ujian pertamamu,” katanya tegas. “Tetap di belakangku… atau berdiri di sampingku?”
Laras menatap Arsen, lalu melangkah maju sejajar dengannya.
“Aku berdiri di sampingmu.”
Di bawah cahaya bulan berdarah, manusia yang kini menjadi vampir itu siap menghadapi takdir barunya — bersama cinta yang telah mengubah hidupnya selamanya.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar