Pilihan yang Mengubah Takdir
CINCINSLOT - Fajar mulai menyingsing, mewarnai langit dengan semburat jingga pucat. Desa masih sunyi, namun suasananya terasa tegang, seolah udara menyimpan rahasia yang belum terungkap. Laras duduk di tepi jendela rumahnya, memeluk lutut, pikirannya dipenuhi bayangan malam sebelumnya.
Ia masih bisa merasakan dinginnya tangan Arsen saat menggenggamnya, serta tatapan penuh kecemasan di mata vampir itu sebelum menghilang ke dalam kegelapan.
Tiba-tiba, angin berputar pelan di halaman. Daun-daun berdesir, dan dari bayangan pohon beringin tua, Arsen muncul kembali — kali ini dengan luka samar di lengannya.
Laras segera berlari menghampirinya.
“Arsen! Kau terluka!” serunya panik.
Arsen mencoba tersenyum, meski wajahnya pucat. “Ini… bukan apa-apa. Aku hanya bertemu dengan salah satu pemburu tadi malam.”
Laras menggenggam lengannya dengan hati-hati. “Kau berbohong. Kau hampir tidak kembali.”
Arsen menunduk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat rapuh.
“Laras… mereka semakin dekat. Bukan hanya aku yang mereka incar — tapi kau juga. Karena kau bersamaku.”
Hening sejenak. Angin pagi berembus lembut di antara mereka.
Laras menarik napas panjang, lalu menatap Arsen dengan tekad yang membara. “Jika cinta kita membuatku dalam bahaya, maka aku akan menghadapinya. Aku tidak akan bersembunyi.”
Arsen terkejut. “Tapi aku tidak bisa kehilanganmu…”
Laras mengangkat wajah Arsen dengan lembut. “Dan aku tidak bisa hidup tanpa mengetahui bahwa kau aman.”
Saat itu, tanah bergetar samar. Dari kejauhan, denting lonceng berbunyi — tanda bahwa para pemburu vampir telah memasuki wilayah desa.
Mata Arsen berubah gelap pekat.
“Ada dua pilihan, Laras,” katanya pelan.
Kau tetap di desa, dan aku pergi selamanya untuk melindungimu dari jauh…
Atau kau ikut denganku ke dunia kegelapan, dan kita menghadapi mereka bersama.
Laras menatap mata Arsen lama-lama. Jantungnya berdebar kencang.
Dan saat langkah kaki berat mulai terdengar di ujung jalan desa…
Laras akhirnya membuka mulutnya.
Langkah ke Dalam Kegelapan
CINCINSLOT - Laras berdiri diam di hadapan Arsen. Denting lonceng para pemburu semakin jelas terdengar, diiringi langkah kaki berat yang mengguncang jalan tanah desa. Angin berputar kencang, menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka.
Arsen menatap Laras penuh harap sekaligus takut. “Laras… ini mungkin keputusan terberat dalam hidupmu. Jika kau ikut denganku, kau tidak akan pernah kembali menjadi manusia biasa.”
Laras menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah rumahnya, melihat cahaya lampu minyak yang masih menyala, mengingat ibunya, ladang padi, dan kehidupan sederhana yang selama ini ia jalani.
Namun kemudian ia menatap Arsen lagi — sosok yang telah mengubah hatinya selamanya.
Dengan napas bergetar, Laras akhirnya berkata, “Aku memilihmu, Arsen.”
Arsen terdiam, terkejut sekaligus tersentuh. “Kau… benar-benar rela meninggalkan semuanya?”
Laras mengangguk tegas. “Jika dunia ini tidak bisa menerima cinta kita, maka aku akan pergi ke dunia yang bisa.”
Tiba-tiba, tanah bergetar lebih kuat. Tiga sosok pemburu vampir muncul di ujung jalan, membawa obor dan pedang bercahaya perak. Mata mereka tajam, penuh kebencian terhadap makhluk malam.
“Arsen!” teriak salah satu pemburu. “Kau tidak bisa lari lagi!”
Arsen langsung berdiri di depan Laras, melindunginya. Matanya berubah merah, taringnya muncul, dan aura gelap mengelilingi tubuhnya.
Ia menoleh ke Laras. “Pegang tanganku, dan jangan lepaskan apa pun yang terjadi.”
Laras menggenggam tangan Arsen erat-erat.
Dalam sekejap, kabut hitam menyelimuti mereka berdua. Angin berputar kencang, membuat para pemburu terhuyung. Saat kabut menghilang… Laras dan Arsen sudah lenyap.
Mereka berpindah ke sebuah hutan gelap yang belum pernah Laras lihat sebelumnya — tempat di mana bulan selalu bersinar, tetapi matahari jarang menyentuh tanah.
Laras terengah-engah, tapi masih berdiri tegak.
Arsen menatapnya lembut. “Selamat datang… di duniamu yang baru.”
Laras menatap sekelilingnya — pohon tinggi, langit gelap, dan makhluk-makhluk malam yang mengintai dari kejauhan.
Ia menarik napas panjang.
“Aku tidak takut,” katanya pelan. “Selama aku bersamamu.”
Arsen tersenyum tipis, lalu memegang wajah Laras dengan penuh kasih.
Namun, jauh di belakang mereka, suara lolongan terdengar — tanda bahwa bahaya belum berakhir.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar