Darah dan Bayangan
CINCINSLOT - Kabut pagi belum sepenuhnya hilang ketika hutan vampir diguncang suara terompet perak. Kali ini bukan sekadar ancaman dari kejauhan — para pemburu benar-benar datang dalam jumlah besar.
Api obor mereka menyala seperti barisan bintang yang jatuh ke bumi. Bau besi dan perak memenuhi udara.
Arsen berdiri di tepi tebing batu bersama Laras. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat puluhan pemburu bergerak masuk ke wilayah klan.
“Mereka tidak pernah datang sebanyak ini,” gumam Arsen.
Vampir wanita pemimpin klan muncul di belakang mereka.
“Mereka tahu tentang bulan berdarah. Mereka tahu tentang Laras.”
Laras mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan kekuatannya berdenyut — lebih stabil dibanding sebelumnya, namun masih liar.
“Aku penyebabnya,” katanya pelan.
Arsen langsung menoleh. “Tidak. Mereka memburu kita sejak lama. Kau hanya menjadi alasan baru bagi mereka.”
Tiba-tiba, panah berujung perak melesat dan menancap di pohon dekat mereka.
“Serangan dimulai!” teriak salah satu vampir.
Hutan berubah menjadi medan perang. Api menyambar dedaunan. Vampir dan pemburu saling berhadapan dalam kilatan gerakan cepat dan suara logam beradu.
Arsen terjun lebih dulu, menyerang dua pemburu dengan kecepatan bayangan. Laras mengikuti — kali ini bukan dengan ragu, tetapi dengan tekad.
Seorang pemburu menyerangnya dari belakang, namun Laras berbalik dengan refleks tajam. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, merasakan detak jantungnya yang cepat.
Untuk sesaat, naluri haus darahnya muncul.
Matanya memerah.
Namun Laras menahan diri.
“Aku bukan monster,” bisiknya.
Ia melempar pemburu itu menjauh tanpa melukainya lebih jauh.
Di sisi lain, Arsen terluka oleh bilah perak yang mengenai bahunya. Ia terhuyung, darah gelap menetes di tanah.
“ARSEN!” teriak Laras.
Amarah membara dalam dirinya. Tanah di sekelilingnya bergetar, akar-akar pohon menjalar keluar seperti hidup, menahan para pemburu yang mendekat.
Angin berputar kencang, membentuk pusaran hitam di sekeliling Laras.
Para vampir berhenti sejenak — mereka belum pernah melihat kekuatan seperti itu.
Pemimpin pemburu melangkah maju, wajahnya tertutup topeng perak.
“Dia bukan vampir biasa. Tangkap dia hidup-hidup!”
Laras berdiri di depan Arsen yang terluka, napasnya berat.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.”
Bulan kembali tertutup awan gelap. Cahaya meredup.
Dan saat pemimpin pemburu mengangkat pedangnya untuk serangan terakhir…
kekuatan dalam diri Laras meledak seperti badai.
Rahasia Darah Bulan
CINCINSLOT - Ledakan kekuatan Laras menghantam tanah seperti badai hitam. Akar-akar pohon menjalar liar, angin berputar membentuk pusaran, dan cahaya merah samar menyelimuti tubuhnya.
Para pemburu terlempar mundur. Bahkan vampir klan pun mundur beberapa langkah, menatap Laras dengan campuran kagum dan takut.
Arsen yang terluka mencoba bangkit.
“Laras… kendalikan dirimu!” serunya lemah.
Namun sebelum kekuatan itu benar-benar lepas kendali, vampir wanita pemimpin klan melangkah maju dan mengangkat tangannya tinggi ke langit.
“Cukup!”
Cahaya bulan menembus awan gelap, menyinari Laras tepat di tengah pusaran energi. Perlahan, badai mereda. Akar kembali masuk ke tanah. Angin berhenti.
Laras terengah-engah. Matanya masih menyala merah samar.
Pemimpin klan menatapnya dalam-dalam.
“Sudah waktunya kau mengetahui kebenaran.”
Laras menoleh, masih gemetar. “Kebenaran… apa?”
Wanita itu mendekat, suaranya kini lebih lembut.
“Kau tidak berubah seperti vampir biasa. Darahmu… telah tersentuh bulan sejak kau lahir.”
Semua terdiam.
Arsen menatap Laras tak percaya. “Apa maksudnya?”
Wanita itu melanjutkan,
“Bertahun-tahun lalu, saat bulan berdarah muncul untuk pertama kalinya dalam satu abad… seorang bayi manusia lahir di desa terdekat dari hutan ini. Bayi itu membawa tanda energi bulan.”
Laras membeku.
“Itu… aku?”
Wanita itu mengangguk perlahan.
“Kau bukan manusia biasa, dan kini bukan vampir biasa. Kau adalah Darah Bulan — makhluk yang lahir dari keseimbangan antara terang dan gelap.”
Para vampir mulai berbisik satu sama lain.
Pemimpin pemburu yang masih berdiri, meski terluka, tertawa pelan.
“Jadi legenda itu benar… Karena itulah kami harus menangkapnya!”
Laras menatap tangannya sendiri. Semua potongan terasa menyatu — kekuatan yang terlalu besar, penglihatannya yang tajam sejak kecil, mimpi-mimpi tentang bulan yang selalu datang.
Arsen berjalan mendekat meski bahunya masih berdarah.
“Jadi… sejak awal kau memang ditakdirkan berbeda,” bisiknya.
Laras menatapnya, mata merahnya kini lebih lembut.
“Aku tidak peduli takdir apa yang menantiku. Aku hanya tahu satu hal.”
Ia berdiri tegak, aura gelap dan cahaya bulan menyatu di sekelilingnya.
“Aku akan melindungi mereka yang kucintai.”
Bulan bersinar terang kembali. Para pemburu mundur, menyadari bahwa mereka bukan hanya melawan vampir — tetapi sesuatu yang jauh lebih besar.
Namun pemimpin pemburu menatap Laras tajam sebelum menghilang ke dalam hutan.
“Ini belum berakhir, Darah Bulan.”
Hutan kembali sunyi.
Arsen memegang tangan Laras.
“Sekarang semuanya berubah.”
Laras mengangguk pelan.
“Kalau begitu… kita ubah dunia ini bersama.”
Di bawah cahaya bulan, legenda Darah Bulan resmi dimulai.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar