CINCINSLOT - Namun ketenangan itu terasa… salah.
Laras berdiri di halaman kastil yang mulai dibangun kembali. Angin berhembus lembut, tapi bayangannya di tanah bergerak sepersekian detik lebih lambat darinya.
Arsen menyadarinya.
“Kau merasakannya lagi?”
Laras mengangguk pelan.
“Bukan seperti kemarin. Ini bukan kekuatan liar… ini seperti seseorang sedang… belajar.”
Di dimensi yang retaknya hampir tertutup, sepasang mata itu tidak lagi hanya mengamati.
Ia berpikir.
Bukan entitas buas seperti sebelumnya.
Yang ini lebih halus. Lebih sabar.
Di tengah reruntuhan altar, sosok berjubah putih muncul kembali.
“Makhluk dari Dimensi Bayangan tidak semuanya sama,” katanya. “Yang tadi adalah penjebol batas. Tapi ada satu lagi… Pengamat.”
Arsen menegang.
“Pengamat?”
“Ia tidak menyerang,” lanjutnya. “Ia memahami. Ia mencari celah… dalam jiwa.”
Malam itu, Laras bermimpi.
Ia berdiri di ruang kosong tanpa batas. Di depannya, versi dirinya sendiri muncul—namun matanya sepenuhnya hitam, tanpa cahaya.
“Aku bukan musuhmu,” versi itu tersenyum.
“Aku adalah kemungkinanmu.”
Laras tersentak bangun. Nafasnya memburu.
Arsen langsung memegang tangannya.
“Apa yang kau lihat?”
“Aku,” jawab Laras lirih. “Versi diriku… tanpa keseimbangan.”
Di kejauhan, seekor gagak hitam bertengger di puncak menara kastil. Matanya berkilau perak sesaat… lalu kembali gelap.
Pengamat telah menemukan cara baru.
Bukan dengan merobek langit.
Tapi dengan meragukan hati.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan itu, Laras merasa takut.
Bukan pada makhluk luar.
Tapi pada kemungkinan… bahwa kekuatannya sendiri bisa menjadi awal kehancuran.
Arsen memeluknya erat.
“Kalau dunia melawanmu,” bisiknya,
“aku akan tetap berdiri di sisimu.”
Namun di dalam bayangan yang tidak bergerak sesuai cahaya…
sesuatu tersenyum.
Bayangan yang Tidak Tunduk pada Cahaya

CINCINSLOT - Sejak malam mimpi itu, Laras mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Bayangan para penjaga kastil kadang bergerak sepersekian detik terlambat.
Api obor bergetar meski tak ada angin.
Dan suara langkah… terdengar dua kali.
Arsen juga merasakannya.
“Kita tidak diserang,” katanya pelan. “Kita sedang… dipelajari.”
Di balai utama kastil, seorang pelayan tiba-tiba terjatuh. Tubuhnya kaku. Matanya terbuka, tapi pupilnya menghitam sepenuhnya.
“Lihat bayangannya!” teriak salah satu penjaga.
Bayangan pelayan itu berdiri… meski tubuhnya masih tergeletak.
Laras merasakan denyutan di dadanya. Energi keseimbangan dalam dirinya bergetar keras.
Bayangan itu menoleh ke arah Laras.
Lalu tersenyum.
Suara yang sama seperti di mimpinya terdengar—tidak dari udara… tapi dari dalam pikirannya.
“Jika kau adalah batas… maka izinkan aku menguji ketahanannya.”
Bayangan itu meloncat keluar dari tubuh pelayan dan menyebar ke lantai seperti tinta hitam.
Orang-orang panik.
Arsen menarik pedangnya.
“Laras, jangan biarkan ia masuk ke dalam dirimu.”
Namun sudah terlambat.
Bayangan itu melesat dan menyentuh kaki Laras.
Sekejap.
Dunia menjadi sunyi.
Laras berdiri di ruang putih tanpa ujung. Di depannya, versi hitam dirinya muncul lagi—kali ini lebih nyata.
“Kau menahan cahaya dan gelap sekaligus,” kata versi itu lembut.
“Tapi apakah kau yakin manusia dalam dirimu cukup kuat?”
Tiba-tiba gambaran muncul—desa terbakar. Arsen terluka. Kastil runtuh. Semua akibat satu ledakan kekuatan dari dirinya sendiri.
“Itu bukan nyata,” Laras berbisik.
“Belum,” jawab bayangan itu.
Di dunia nyata, tubuh Laras mulai memancarkan energi tak stabil. Tanah retak di bawahnya. Obor-obor padam.
Arsen berlari dan memeluknya dari belakang, menahan tubuhnya yang gemetar.
“Laras! Dengarkan suaraku!”
Di dalam ruang putih, suara Arsen terdengar samar.
Bayangan tersenyum tipis.
“Pilihlah. Kendalikan aku… atau aku akan tumbuh dalam keraguanmu.”
Laras memejamkan mata.
Ia tidak melawan.
Ia tidak menyerang.
Ia mengulurkan tangan ke arah versi gelap itu.
“Aku tidak menyangkalmu,” katanya tenang.
“Kau bagian dariku. Tapi kau tidak akan mengendalikanku.”
Untuk pertama kalinya, bayangan itu tampak terkejut.
Cahaya perak-merah menyelimuti ruang putih itu. Versi gelap Laras tidak hancur—ia menyatu, menjadi siluet yang berdiri di belakang Laras seperti sayap bayangan.
Di dunia nyata, energi liar mereda.
Laras terjatuh ke pelukan Arsen, napasnya berat tapi stabil.
Pelayan yang kerasukan tersadar, lemas namun selamat.
Sosok berjubah putih muncul dari sudut aula.
“Pengamat tidak bisa menguasai hati yang menerima kegelapannya,” katanya pelan. “Tapi ia tidak akan berhenti.”
Di atap kastil, bayangan gagak kembali muncul.
Kali ini, ia berbicara.
“Menarik… sangat menarik.”
Dan untuk pertama kalinya, bayangan itu memiliki bentuk wajah samar—wajah yang belum sepenuhnya terlihat.
Permainan baru saja dimulai.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar