CINCINSLOT - Kerajaan Arvandor dikenal sebagai negeri yang makmur. Sungainya jernih, ladangnya luas, dan istananya menjulang megah di tengah kota seperti lambang kejayaan.
Di balik gerbang emas istana itu, hiduplah seorang pangeran bernama Elvarion.
Ia memiliki segalanya.
Wajah tampan yang membuat para bangsawan iri. Kecerdasan yang membuat para guru bangga. Keberanian yang membuat prajurit hormat.
Rakyat mencintainya.
Atau setidaknya… mereka percaya mereka mencintainya.
Namun tidak ada yang benar-benar mengenalnya.
Di ruang singgasananya, Elvarion berdiri menatap cermin besar berbingkai emas. Mahkota kecil bertatahkan permata terletak di kepalanya.
“Aku akan menjadi raja terhebat dalam sejarah,” ucapnya pelan pada bayangannya sendiri.
Seorang pelayan muda masuk membawa surat permohonan bantuan dari desa perbatasan yang dilanda gagal panen.
“Yang Mulia, rakyat memohon—”
Elvarion mengangkat tangan, menghentikannya.
“Kirimkan perintah kepada bendahara. Kurangi bantuan. Kita tidak bisa terus memanjakan mereka.”
“Tapi, Yang Mulia, anak-anak di sana—”
“Cukup.”
Nada suaranya dingin. Tidak marah. Tidak kasar. Hanya… tak peduli.
Baginya, kerajaan adalah sistem. Bukan hati.
Malam itu, pesta musim gugur digelar untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-23. Aula istana dipenuhi cahaya lilin dan tawa bangsawan.
Elvarion berjalan di antara tamu seperti bintang di langit malam.
Semua memujinya.
Semua tersenyum padanya.
Namun di sudut aula, seorang wanita tua berjubah lusuh berdiri diam.
Tidak ada yang tahu dari mana ia datang.
Tatapannya tajam, menembus keramaian.
Elvarion melihatnya dan wajahnya langsung berubah.
“Siapa yang membiarkan pengemis masuk ke pestaku?” katanya keras.
Para penjaga mendekat, namun wanita itu tidak bergerak.
“Aku hanya meminta sedikit makanan dan kehangatan,” katanya lirih.
“Tempatmu bukan di sini,” jawab Elvarion. “Istana bukan tempat bagi orang sepertimu.”
Keheningan jatuh.
Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menyala aneh di bawah bayangan tudungnya.
“Orang sepertiku?” ia mengulang pelan.
Angin dingin tiba-tiba berhembus di dalam aula tertutup.
Lampu-lampu lilin bergoyang liar.
Para tamu mulai gelisah.
“Berhati-hatilah dengan kata-katamu, Pangeran,” bisiknya. “Karena kadang mahkota membuat seseorang lupa… bagaimana rasanya menjadi manusia.”
Elvarion mendengus.
“Bawa dia pergi.”
Saat penjaga menyentuh wanita itu—
Ledakan cahaya gelap memenuhi ruangan.
Gaunnya berubah menjadi jubah hitam pekat. Rambut putihnya terurai panjang. Tongkat berukir muncul di tangannya.
Jeritan memenuhi aula.
“Aku bukan pengemis,” suaranya kini menggema seperti ribuan bisikan.
“Aku adalah penyihir yang datang menguji hati calon raja.”
Elvarion mundur satu langkah.
Namun harga dirinya menahannya untuk menunjukkan rasa takut.
“Keluar dari kerajaanku,” katanya dingin.
Senyum tipis terukir di bibir penyihir itu.
“Kerajaanmu?” katanya pelan. “Kita akan lihat… siapa yang benar-benar memegang kekuasaan.”
Cahaya di matanya menyala semakin terang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Elvarion merasakan sesuatu yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
Ketakutan.
Malam Saat Mahkota Menghitam
CINCINSLOT - Aula istana yang semula penuh musik kini berubah menjadi lautan ketakutan.
Para bangsawan berlarian. Gelas kristal jatuh pecah. Lampu-lampu padam satu per satu, seolah malam menelan cahaya.
Penyihir itu melayang beberapa jengkal dari lantai, jubah hitamnya berputar seperti asap.
Elvarion berdiri tegak, meski jantungnya berdebar keras.
“Apa yang kau inginkan?” tanyanya tajam.
“Aku tidak menginginkan apa pun,” jawab sang penyihir. “Aku hanya ingin menunjukkan kebenaran.”
Tongkatnya terangkat.
Cahaya gelap melesat menuju mahkota emas di kepala Elvarion.
Mahkota itu bergetar.
Permata-permatanya meredup.
Lantai bergetar hebat. Angin berputar liar di dalam ruangan tertutup.
“Mahkota itu seharusnya melambangkan kebijaksanaan dan kasih,” suara penyihir menggema. “Namun di kepalamu… ia hanyalah lambang kesombongan.”
“Aku tidak takut padamu!” bentak Elvarion.
“Bukan aku yang harus kau takuti,” bisiknya lembut.
“Melainkan dirimu sendiri.”
Dalam sekejap, cahaya hitam menyelimuti tubuh sang pangeran.
Ia menjerit.
Rasa panas membakar kulitnya. Tulangnya terasa seperti dipatahkan dan disusun ulang. Tangannya memanjang, kukunya berubah tajam. Suaranya berubah menjadi geraman berat.
Para tamu menjerit histeris.
Ketika cahaya itu mereda—
Sosok Elvarion tak lagi sama.
Tubuhnya tinggi besar dengan kulit gelap kasar seperti batu. Matanya menyala merah. Taring tajam terlihat di balik bibirnya.
Namun mahkota emas itu… tetap berada di kepalanya.
Kini terlihat mengerikan.
Elvarion menatap tangannya sendiri dengan napas terengah.
“A-apa yang kau lakukan…?” suaranya kini berat dan asing.
Penyihir itu turun perlahan ke lantai.
“Aku hanya mencabut topengmu,” katanya tenang. “Inilah wujud hatimu.”
“Batalkan ini!” raungnya.
Kutukan ini hanya akan patah,” lanjut penyihir, mengabaikan teriakannya, “jika ada seseorang yang mencintaimu bukan karena wajahmu… bukan karena mahkotamu… melainkan karena hatimu yang tulus.”
Ia mendekat, menatap mata merah Elvarion.
“Dan kau harus belajar memilikinya terlebih dahulu.”
Dengan satu ayunan tongkat, ia menghilang dalam pusaran asap hitam.
Keheningan menyelimuti aula.
Tak ada satu pun bangsawan yang berani mendekat.
Raja—ayah Elvarion—menatap putranya dengan mata penuh keterkejutan… dan ketakutan.
“Pengawal!” teriak seseorang.
Pasukan kerajaan segera mengepung Elvarion.
Ia mundur perlahan.
“Ayah…” panggilnya lirih.
Namun Raja hanya terdiam.
Tatapan bangganya telah berubah menjadi keraguan.
Untuk pertama kalinya, Elvarion merasa benar-benar sendirian.
Dan malam itu—
Pangeran paling sempurna di Arvandor…
menjadi monster yang ditakuti seluruh kerajaan.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar