CINCINSLOT - Angin malam berdesir pelan menyusuri lorong-lorong istana tua yang telah lama ditinggalkan. Cahaya bulan menembus jendela pecah, memantulkan bayangan besar bertanduk yang berdiri sendirian di aula utama.
Pangeran Arka—atau makhluk yang kini menyandang wujud mengerikan itu—menatap pantulan dirinya di pecahan cermin. Mata merah menyala. Taring tajam. Cakar yang mampu merobek baja. Ia mengepalkan tangannya.
“Apa yang telah kulakukan…” gumamnya lirih.
Sejak pertemuannya dengan gadis desa bernama Elara, sesuatu dalam dirinya berubah. Untuk pertama kalinya sejak kutukan itu menelannya, ia tidak hanya merasakan amarah… tetapi juga rasa takut. Takut menyakitinya. Takut melihat kebencian di mata gadis itu.
Namun yang ia lihat malam itu justru berbeda.
Elara tidak lari.
Elara tidak menjerit.
Ia menatapnya—dengan iba.
—
Keesokan harinya, Elara kembali.
Dengan keranjang kecil berisi ramuan dan roti hangat, ia melangkah melewati gerbang istana yang dipenuhi duri hitam. Jantungnya berdebar keras, tapi langkahnya tidak goyah.
“Pangeran Arka?” panggilnya lembut.
Bayangan besar muncul dari balik pilar. Mata merah itu kembali menatapnya, kali ini tidak dengan amarah, melainkan kebingungan.
“Kau kembali,” suara berat itu bergema, seperti gemuruh badai yang tertahan.
Elara tersenyum tipis. “Aku membawa obat untuk lukamu. Semalam kau terluka oleh sihir duri itu, bukan?”
Arka terdiam. Tidak ada seorang pun yang peduli sejak ia berubah menjadi monster. Semua ksatria yang dulu bersumpah setia kini memburunya. Rakyatnya menganggapnya ancaman.
Tapi gadis ini… datang membawa obat.
“Kau tidak takut padaku?” tanyanya, nyaris berbisik.
Elara menatapnya lama. “Aku takut,” jawabnya jujur. “Tapi aku lebih takut jika membiarkan seseorang menderita sendirian.”
Kata-kata itu menghantam dinding es di hati Arka.
Dengan ragu, ia duduk. Tubuh raksasanya membuat lantai bergetar. Elara mendekat, tangannya gemetar saat membersihkan luka di lengan berbulu hitam itu. Sentuhannya lembut. Hangat.
Dan untuk pertama kalinya sejak kutukan itu mengubahnya, Arka merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan—
Detak hati yang bergetar bukan karena amarah…
Melainkan karena harapan.
—
Namun di kejauhan, sepasang mata mengawasi mereka dari balik kabut hutan.
Penyihir yang mengutuk Arka belum pergi.
Dan melihat kedekatan mereka, bibirnya melengkung tipis.
“Cinta?” bisiknya sinis.
“Kalau begitu, biarlah cinta itu yang menghancurkannya.”
Kabut hitam mulai bergerak perlahan menuju istana.
Sementara di dalam aula tua itu, tanpa mereka sadari, takdir mulai menuliskan babak baru—
babak di mana cinta dan kutukan akan saling berhadapan.
Bayangan di Antara Cahaya
CINCINSLOT - Langit sore memerah seperti pertanda bahaya.
Elara duduk di tangga aula istana, sementara Pangeran Arka berdiri tak jauh darinya. Tubuh besarnya masih tampak mengerikan, namun sorot matanya tak lagi sebuas dulu.
“Aku tidak mengerti,” ucap Arka pelan. “Mengapa kau tetap datang?”
Elara tersenyum kecil. “Karena aku melihatmu… bukan hanya wujudmu.”
Angin tiba-tiba berhenti.
Suasana menjadi sunyi—terlalu sunyi.
Arka mengangkat kepalanya. Indra tajamnya menangkap sesuatu yang asing. Bau sihir gelap. Dingin. Licin seperti bayangan yang merayap.
“Elara, mundur!” suaranya menggelegar.
Namun terlambat.
Kabut hitam menyembur dari sela-sela pilar istana, membentuk pusaran besar di tengah aula. Dari dalamnya muncul sosok berjubah hitam dengan tongkat bercahaya ungu—penyihir yang telah merenggut wujud Arka.
“Ternyata benar,” suara perempuan itu terdengar lembut namun beracun.
“Monster pun bisa jatuh cinta.”
Arka menggeram, berdiri di depan Elara untuk melindunginya. “Pergi dari sini!”
Penyihir itu tertawa kecil. “Kau masih belum mengerti, Arka. Kutukan ini tidak akan pernah hilang… kecuali cinta yang kau harapkan itu benar-benar murni.”
Ia mengangkat tongkatnya.
Kilatan cahaya ungu melesat ke arah Elara.
Arka melompat, tubuh besarnya menahan serangan itu. Ledakan energi menghantam dadanya, membuatnya terhempas keras ke dinding batu. Retakan menjalar di tembok tua.
“Arka!” Elara berteriak.
Dengan napas berat, Arka bangkit kembali. Mata merahnya kini menyala lebih terang—bukan karena amarah semata, tetapi karena tekad melindungi.
“Kau ingin membuktikan cinta?” ejek sang penyihir.
“Kalau begitu, mari kita uji.”
Tanah bergetar. Dari lantai istana, duri-duri hitam tumbuh dan melingkar cepat, mengarah pada Elara.
Arka berlari, meraih gadis itu dan memeluknya erat dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencakar duri-duri yang mendekat. Kulitnya terluka, darah hitam menetes ke lantai, namun ia tak mundur.
Elara menatapnya, air mata mengalir di pipinya.
“Kau akan mati kalau terus begini…”
Arka menunduk, suara beratnya melembut.
“Jika harus memilih antara hidup sebagai monster… atau mati melindungimu… aku tidak akan ragu.”
Kata-kata itu membuat jantung Elara bergetar hebat.
Cahaya hangat tiba-tiba memancar dari dadanya. Lembut. Keemasan.
Duri-duri hitam mulai berasap saat cahaya itu menyentuhnya.
Sang penyihir tertegun. “Mustahil…”
Untuk sesaat, bayangan di tubuh Arka bergetar. Sisik hitam di lengannya meredup, memperlihatkan sekilas kulit manusia di baliknya.
Namun cahaya itu segera melemah.
Elara terjatuh ke pelukan Arka, kelelahan.
Sang penyihir tersenyum tipis.
“Menarik,” katanya pelan. “Sangat menarik.”
Kabut hitam kembali menyelimutinya sebelum menghilang.
Aula kembali sunyi. Retakan dan duri tersisa sebagai saksi.
Arka memeluk Elara yang tak sadarkan diri. Untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal penting—
Kutukan itu memang bisa dipatahkan.
Tapi harganya… mungkin jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar