CINCINSLOT - Malam setelah serangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Elara terbangun di ruang kecil dalam menara istana yang mulai runtuh. Cahaya lilin menari di dinding batu, dan di sudut ruangan, sosok besar itu duduk membelakanginya.
Arka.
Ia tampak lebih diam dari biasanya.
“Elara… kau sudah sadar?” suaranya berat, namun kali ini terdengar rapuh.
Elara bangkit perlahan. “Aku baik-baik saja. Kau yang terluka.”
Arka tertawa kecil, pahit. “Luka ini tidak seberapa dibandingkan kutukan yang kubawa.”
Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Cahaya bulan menyinari mahkota emas yang masih bertengger di kepalanya—mahkota yang menjadi sumber kutukan itu.
“Aku mendengar kata-kata penyihir itu,” kata Elara pelan. “Ia mengatakan cinta murni bisa mematahkan kutukan.”
Arka terdiam.
“Ada syaratnya,” ucapnya akhirnya. “Kutukan ini hanya akan hancur jika seseorang mencintaiku sepenuhnya… dan tetap memilihku bahkan setelah mengetahui seluruh kegelapan dalam diriku.”
Elara menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Arka mengepalkan tangannya. Bayangan hitam merambat di lengannya, membentuk gambaran masa lalu—seperti ilusi yang hidup.
Ia memperlihatkan malam sebelum kutukan itu terjadi.
Pesta kerajaan. Tarian. Kemewahan.
Lalu… kesombongan.
Pangeran Arka yang dulu, angkuh dan penuh kebanggaan, menolak seorang wanita berjubah hitam di hadapan semua orang. Ia menertawakannya. Menghinanya.
Wanita itu adalah penyihir.
“Aku tidak dikutuk tanpa alasan,” suara Arka melemah. “Aku memang pantas menerima hukuman. Aku menyakiti orang dengan kesombonganku.”
Elara terdiam lama.
Ia tidak melihat monster.
Ia melihat pria yang menyesal.
“Setiap orang pernah membuat kesalahan,” bisiknya. “Tapi tidak semua orang mau mengakuinya.”
Arka menoleh. Mata merahnya meredup perlahan.
“Jika kau tahu semua ini… kau masih akan tinggal?”
Pertanyaan itu bukan ancaman.
Bukan pula tuntutan.
Itu ketakutan.
Elara melangkah mendekat. Meski tubuhnya kecil dibandingkan sosok besar di hadapannya, keberaniannya tak tergoyahkan.
“Aku tidak tahu apakah perasaanku cukup untuk mematahkan kutukan,” katanya jujur. “Tapi aku tahu satu hal… aku tidak melihat monster ketika aku memandangmu.”
Jantung Arka bergetar keras.
Untuk sesaat, cahaya keemasan kembali muncul di dada Elara—lebih terang dari sebelumnya.
Namun tiba-tiba—
Angin dingin menyapu ruangan.
Suara bisikan terdengar di seluruh menara.
“Kalau begitu… mari kita uji kesetiaannya.”
Dinding retak.
Tanah bergetar.
Dari luar, pasukan bayangan muncul, dipanggil oleh penyihir untuk memburu mereka.
Arka segera berdiri di depan Elara.
“Ini belum berakhir,” katanya tegas. “Dan jika cinta adalah satu-satunya jalan… maka aku akan berjuang sampai akhir.”
Di kejauhan, kilat menyambar langit malam.
Ujian cinta sejati baru saja dimulai.
Di Antara Hidup dan Pengorbanan
CINCINSLOT - Hujan turun deras membasahi reruntuhan istana.
Pasukan bayangan menyerbu dari segala arah—makhluk hitam tanpa wajah dengan mata ungu menyala. Mereka bergerak seperti kabut yang hidup, meluncur di lantai batu dan memanjat dinding menara.
Arka berdiri di gerbang aula, tubuh besarnya menjadi perisai terakhir.
“Elara, tetap di belakangku!” perintahnya tegas.
Makhluk pertama menerjang.
Arka mengayunkan cakarnya, menghantamnya hingga hancur menjadi serpihan asap. Namun dua, tiga, sepuluh makhluk lain langsung menggantikannya.
Elara tidak tinggal diam. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat sensasi cahaya hangat yang pernah muncul dari dadanya.
“Aku harus percaya…” bisiknya.
Sementara itu, di tengah pertempuran, salah satu bayangan berhasil menyelinap dan melukai bahu Arka dengan bilah gelapnya. Darah hitam menetes deras.
Arka terhuyung.
“Elara… lari…” suaranya melemah.
Namun Elara justru melangkah maju.
“Tidak!” serunya.
Ia berdiri tepat di hadapan Arka, menghadapi pasukan bayangan yang mendekat. Ketakutan menyergapnya, tapi ia tidak mundur.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Makhluk-makhluk itu melompat serentak.
Dalam detik itu, Elara memeluk Arka erat—tanpa ragu, tanpa syarat.
Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya.
Terang. Hangat. Murni.
Pasukan bayangan menjerit, tubuh mereka terbakar oleh cahaya itu dan menghilang satu per satu. Hujan seolah berhenti sesaat, langit terbelah oleh sinar yang memancar dari menara tua.
Arka terdiam dalam pelukan Elara.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan bahkan sebelum kutukan itu—diterima sepenuhnya.
Namun cahaya itu mulai redup.
Elara terjatuh berlutut, napasnya memburu.
“Kenapa… belum cukup?” gumamnya lemah.
Di udara, suara penyihir terdengar kembali, menggema seperti bisikan dari dimensi lain.
“Cinta saja tidak cukup,” katanya dingin.
“Harus ada pengorbanan.”
Arka menegang.
“Pengorbanan apa?” raungnya marah.
Kabut hitam perlahan membentuk siluet sang penyihir di atas reruntuhan.
“Jika dia benar-benar mencintaimu… dia harus rela kehilanganmu.”
Kata-kata itu menghantam seperti petir.
Elara menatap Arka, kebingungan.
Sementara Arka mulai memahami makna mengerikan dari syarat itu.
Kutukan hanya akan hancur jika Elara memilih kebahagiaannya sendiri… dengan melepaskannya selamanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—
Arka merasa benar-benar takut kehilangan.
Hujan kembali turun.
Dan di bawah langit kelabu itu, cinta mereka diuji bukan oleh kebencian…
melainkan oleh pilihan yang paling menyakitkan.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar