CINCINSLOT - Hujan belum berhenti.
Reruntuhan istana dipenuhi kabut tipis yang menyisakan bau tanah basah dan sihir gelap. Elara berdiri terpaku setelah mendengar syarat dari penyihir itu.
“Jika dia benar-benar mencintaimu… dia harus rela kehilanganmu.”
Arka menjauh beberapa langkah. Untuk pertama kalinya, ia tidak berdiri di depan Elara sebagai pelindung—melainkan sebagai seseorang yang sedang memikirkan perpisahan.
“Arka… apa maksudnya?” suara Elara bergetar.
Arka menunduk. Air hujan mengalir di wajahnya, bercampur dengan darah hitam dari lukanya.
“Itu berarti… kutukan ini hanya akan hancur jika kau memilih hidup tanpa aku,” katanya pelan. “Jika kau melepaskanku sepenuhnya.”
Elara menggeleng keras. “Tidak. Itu tidak masuk akal!”
“Justru sangat masuk akal,” jawab Arka pahit. “Kutukan ini lahir dari kesombongan dan keinginanku untuk memiliki segalanya. Cinta sejati bukan tentang memiliki… tapi tentang merelakan.”
Kata-kata itu seperti pisau yang perlahan mengiris hati Elara.
Angin bertiup kencang. Kabut kembali bergerak, dan siluet penyihir muncul di atas dinding runtuh.
“Waktu kalian tidak banyak,” ujarnya dingin. “Saat bulan purnama mencapai puncaknya malam ini, keputusan harus dibuat.”
Elara menggenggam tangan Arka. Meski besar dan berbulu, tangan itu kini terasa hangat.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” bisiknya.
Arka menatapnya lama. Mata merahnya perlahan meredup, menyisakan kesedihan yang dalam.
“Dan justru karena itulah… kau harus belajar melepaskanku.”
Langit mulai terbuka. Bulan purnama muncul utuh, bersinar terang di antara awan.
Tanah bergetar.
Mahkota emas di kepala Arka mulai memancarkan cahaya gelap. Rantai bayangan muncul dari tanah, melilit tubuhnya perlahan.
Elara menjerit. “Hentikan ini!”
“Ini bagian dari ujian,” Arka berkata sambil menahan rasa sakit. “Elara… dengarkan aku.”
Rantai semakin erat.
“Jika kau tetap memilihku karena takut kehilanganku… kutukan ini tidak akan pernah hancur.”
Air mata mengalir di pipi Elara.
“Aku mencintaimu,” katanya akhirnya, suaranya patah. “Bukan karena aku takut sendirian… tapi karena kau mengajarkanku arti keberanian dan penyesalan.”
Cahaya lembut mulai muncul kembali dari dadanya.
“Tapi jika melepaskanmu adalah satu-satunya cara menyelamatkanmu…” napasnya terputus, “maka aku akan melakukannya.”
Ia perlahan melepaskan tangan Arka.
Detik itu terasa seperti keabadian.
Rantai bayangan bergetar hebat. Mahkota di kepala Arka retak—retakan kecil yang memancarkan cahaya putih dari dalamnya.
Arka tersenyum tipis, meski tubuhnya terseret oleh bayangan.
“Terima kasih… telah mencintaiku sebagai manusia.”
Ledakan cahaya memenuhi istana.
Elara menutup mata.
Dan ketika cahaya itu mereda—
Sosok monster itu menghilang.
Yang tersisa hanyalah seorang pria terbaring di lantai batu, tanpa mahkota… tanpa taring… tanpa mata merah menyala.
Arka telah kembali menjadi manusia.
Namun ia tak bergerak.
“Elara…” bisiknya lemah.
Dan dunia kembali sunyi.
Mahkota yang Terlupakan
CINCINSLOT - Angin malam masih berembus pelan di antara reruntuhan istana.
Elara berlutut di samping tubuh Arka yang terbaring tak bergerak. Wajahnya kini sepenuhnya manusia—tanpa taring, tanpa mata merah menyala, tanpa bayangan gelap yang dulu menyelimutinya.
“Arka… bangunlah,” bisiknya lirih.
Perlahan, kelopak mata pria itu bergerak.
“Elara…” suaranya serak, lemah, tetapi nyata.
Air mata Elara jatuh tanpa bisa ditahan. Ia memeluknya erat, seolah takut pria itu akan kembali menghilang jika dilepaskan.
“Aku pikir… aku kehilanganmu.”
Arka tersenyum tipis. “Aku juga.”
Namun keheningan malam itu terasa berbeda. Tidak ada lagi bisikan sihir, tidak ada aura gelap. Kutukan benar-benar telah hancur.
Atau begitulah yang mereka kira.
Di atas lantai batu, tak jauh dari mereka, tergeletak sesuatu yang berkilau samar di bawah cahaya bulan.
Mahkota emas itu.
Retak di beberapa bagian, namun masih utuh.
Elara berdiri perlahan. “Mahkota itu… seharusnya ikut hancur.”
Arka menatapnya dengan sorot mata yang kini sepenuhnya manusia—namun ada bayangan kegelisahan di sana.
“Itu bukan sekadar simbol kerajaan,” katanya pelan. “Itu adalah sumber kesombonganku. Sumber kutukan.”
Mahkota itu tiba-tiba berdenyut pelan. Retakannya memancarkan cahaya tipis berwarna keunguan.
Tanah kembali bergetar ringan.
“Elara… jangan sentuh itu,” Arka memperingatkan.
Namun sebelum mereka sempat bergerak, bayangan tipis membentuk sosok di belakang mahkota. Sosok penyihir itu muncul kembali, lebih samar dari sebelumnya.
“Kalian pikir semuanya telah berakhir?” suaranya kini terdengar lebih lemah, namun tetap dingin.
“Elara telah lulus ujian. Kutukanmu hancur, Arka,” lanjutnya. “Namun… mahkota itu menyimpan sisa ambisi yang belum terselesaikan.”
Arka berdiri, meski tubuhnya masih lemah.
“Apa yang kau inginkan lagi?” tanyanya tegas.
Penyihir itu tersenyum samar. “Aku tidak menginginkan apa pun. Tapi kerajaanmu masih menunggumu. Dan manusia… mudah sekali kembali pada kesalahan lamanya.”
Mahkota itu perlahan terangkat dari tanah.
“Kekuatan selalu memanggil pemiliknya.”
Cahaya dari retakan mahkota mulai menyatu, seakan memperbaiki dirinya sendiri.
Elara menggenggam tangan Arka.
“Kita tidak membutuhkan mahkota untuk membuktikan siapa dirimu.”
Arka menatap mahkota itu lama. Dalam kilatan singkat, ia teringat masa lalunya—ambisi, perang, keinginan untuk memperluas wilayah, keinginan untuk ditakuti.
Lalu ia menatap Elara.
Dan memilih.
Dengan langkah mantap, ia berjalan ke arah mahkota yang melayang di udara. Penyihir itu menyeringai, mengira ia akan kembali mengenakannya.
Namun Arka tidak memakainya.
Ia menangkap mahkota itu—dan menjatuhkannya ke lantai batu dengan keras.
Retakan pada emas itu melebar.
“Aku tidak lagi membutuhkan simbol untuk menjadi pemimpin,” katanya tegas. “Jika rakyatku menerimaku, itu karena siapa diriku sekarang. Bukan karena mahkota ini.”
Elara tersenyum bangga.
Penyihir itu mulai memudar.
“Cinta telah mengubahmu… lebih dari yang kuduga,” gumamnya sebelum lenyap bersama kabut malam.
Mahkota itu akhirnya hancur menjadi serpihan emas yang berubah menjadi debu cahaya.
Angin malam meniupnya hingga lenyap.
Keheningan kembali.
Arka menoleh pada Elara.
“Tanpa mahkota… tanpa kutukan… apakah kau masih ingin berjalan di sisiku?”
Elara tersenyum lembut.
“Aku tidak pernah mencintai mahkotamu. Aku mencintaimu.”
Di bawah cahaya bulan yang kini terasa lebih hangat, mereka berdiri bersama—bukan lagi sebagai pangeran terkutuk dan gadis desa.
Melainkan sebagai dua jiwa yang telah memilih satu sama lain.
Namun jauh di ufuk timur, cahaya fajar menyingsing… dan bersama itu, babak baru kehidupan mereka dimulai.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar