CINCINSLOT - Langit Eryndor kini hampir sepenuhnya berubah.
Retakan merah gelap semakin melebar, seperti luka yang tak bisa disembuhkan.
Kabut hitam turun perlahan, menyelimuti kota cahaya yang sudah terluka.
Di tengah medan itu—
Lyra berdiri, tubuhnya masih dikelilingi cahaya emas yang berdenyut.
Namun matanya kini berbeda.
Lebih dalam.
Lebih… sadar.
Di depannya, sosok besar dari kegelapan melayang perlahan.
Sayap hitamnya terbentang luas.
Tatapannya dingin… namun penuh minat.
“Jadi kau sudah mulai mengingat siapa dirimu,” katanya pelan.
Kael melangkah maju.
Pedangnya terangkat.
“Kalau ingin mendekatinya… kau harus melewatiku dulu.”
Makhluk itu menoleh pelan.
Lalu tersenyum.
“Kau?”
Suaranya merendahkan.
“Makhluk pelarian yang bahkan tidak bisa melindungi dunianya sendiri?”
Kael mengepalkan tangannya.
Namun kali ini—
ia tidak ragu.
“Aku mungkin pernah gagal…”
Ia melangkah maju.
“Tapi kali ini… aku tidak akan mundur.”
Dalam sekejap—
Kael melesat maju.
SWOOOOSH!
Pedangnya mengarah langsung ke tubuh makhluk itu.
CLAAANG!
Benturan keras terjadi.
Namun makhluk itu menahan serangan itu hanya dengan satu tangan.
Tanpa kesulitan.
“Lemah.”
Ia mendorong Kael.
BRAK!
Kael terpental jauh, menghantam reruntuhan batu.
“Kael!” teriak Lyra.
Makhluk itu melangkah perlahan ke arah Kael.
Setiap langkahnya membuat tanah retak.
“Pertarungan ini bahkan tidak seimbang.”
Namun tiba-tiba—
WHOOSH!
Sebuah cahaya melesat dari samping.
Seren.
Ia menyerang dengan tombak cahaya yang menyala terang.
Makhluk itu menghindar, namun kali ini sedikit mundur.
Seren berdiri di depan Kael.
“Kau tidak sendirian.”
Kael bangkit perlahan.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Namun ia tersenyum tipis.
“Terima kasih…”
Makhluk itu menghela napas pelan.
“Menjengkelkan.”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Energi kegelapan besar berkumpul di sekelilingnya.
Langit semakin gelap.
Petir hitam mulai menyambar.
“Kalau begitu… aku akan mengakhiri ini dengan cepat.”
Lyra menatap ke arah mereka.
Jantungnya berdebar kencang.
Ia melihat Kael dan Seren yang terus berusaha menahannya.
Mereka bertarung… untuknya.
Tangannya perlahan mengepal.
Cahaya emas kembali muncul.
Namun kali ini—
lebih stabil.
Lebih kuat.
“Aku tidak bisa hanya berdiri…”
Ia melangkah maju.
Kael yang melihat itu langsung berteriak.
“Lyra, jangan—!”
Namun Lyra sudah berdiri di depan mereka.
Menghadap langsung makhluk itu.
Makhluk itu tersenyum.
“Akhirnya… kau datang sendiri.”
Lyra menatapnya tanpa rasa takut.
Cahaya di tubuhnya semakin terang.
“Aku tidak akan lari lagi.”
Makhluk itu mengangkat tangannya.
“Bagus.”
“Karena aku akan membawamu sekarang.”
Ia melepaskan serangan kegelapan besar.
BOOOOOOM!
Namun—
Lyra mengangkat tangannya.
Cahaya emas besar muncul.
BRAAAAAK!
Dua kekuatan itu bertabrakan di udara.
Gelombang energi menyebar ke seluruh medan perang.
Tanah retak.
Udara bergetar.
Kael menatap dengan tak percaya.
“Dia… menahannya…”
Lyra menggertakkan giginya.
Tubuhnya bergetar menahan kekuatan itu.
Namun ia tidak mundur.
“Aku… tidak akan… kalah…”
Cahaya di tubuhnya semakin terang.
Untuk sesaat—
bayangan wanita bersayap muncul di belakangnya.
Ratu Aurelia.
Makhluk itu terdiam.
Untuk pertama kalinya—
wajahnya berubah serius.
“Jadi… benar-benar dia…”
Lyra membuka matanya.
Cahaya emas menyala terang seperti matahari.
“Ini… kekuatanku!”
BOOOOOOOOM!
Ledakan cahaya besar menghancurkan serangan kegelapan itu.
Makhluk tersebut terpental jauh ke udara.
Seluruh medan perang terdiam.
Namun di tengah cahaya yang menyebar—
makhluk itu masih berdiri.
Tersenyum.
Namun kali ini…
senyum penuh tantangan.
“Sangat menarik…”
Ia menatap Lyra.
“Kalau begitu… mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan.”
Langit kembali bergetar.
Dan duel sebenarnya—
baru saja dimulai.
Cahaya yang Melampaui Batas
CINCINSLOT - Langit Eryndor dipenuhi cahaya dan kegelapan yang saling bertabrakan.
Di tengah udara yang bergetar—
Lyra dan sang Komandan Kegelapan saling berhadapan.
Cahaya emas dari tubuh Lyra menyala terang, sementara aura hitam pekat dari lawannya terus meluas seperti bayangan yang ingin menelan segalanya.
Di bawah mereka, Kael dan Seren hanya bisa menyaksikan.
Pertarungan ini… sudah melampaui mereka.
Komandan itu tersenyum tipis.
“Sekarang… kau mulai terlihat seperti pewaris sejati.”
Lyra tidak menjawab.
Tatapannya fokus.
Tenang.
Namun penuh tekad.
“Aku tidak peduli siapa aku di masa lalu,” katanya pelan.
“Aku hanya tahu… aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dunia ini.”
Komandan itu tertawa rendah.
“Kalimat yang indah.”
“Tapi kekuatan tanpa kendali… hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”
Tanpa peringatan—
ia menghilang.
SWOOOSH!
Dalam sekejap, ia muncul tepat di depan Lyra.
SLASH!
Serangan gelapnya menghantam.
Namun—
Lyra mengangkat tangannya.
CLAAANG!
Perisai cahaya muncul, menahan serangan itu.
Benturan itu menciptakan gelombang energi yang menyapu langit.
Lyra terpental sedikit ke belakang.
Namun ia segera menyeimbangkan diri.
“Cepat sekali…”
Komandan itu muncul kembali di belakangnya.
“Masih terlalu lambat.”
BRAK!
Lyra terpukul dan jatuh ke tanah.
“Lyra!” teriak Kael.
Namun sebelum ia bisa mendekat—
Seren menahannya.
“Jangan! Ini pertarungannya.”
Di tanah, Lyra mencoba bangkit.
Napasnya berat.
Tubuhnya terasa lelah.
Namun ia mengepalkan tangannya.
“Aku… tidak boleh kalah…”
Komandan itu turun perlahan dari udara.
Langkahnya tenang.
Seolah sudah tahu hasilnya.
“Kau kuat.”
“Tapi belum cukup.”
Ia mengangkat tangannya.
Energi kegelapan besar berkumpul.
Langit menjadi gelap sepenuhnya.
Petir hitam menyambar di mana-mana.
“Serangan ini… akan mengakhiri semuanya.”
Lyra menatap ke atas.
Cahaya di tubuhnya mulai bergetar.
Ia merasa kekuatannya hampir habis.
Namun tiba-tiba—
suara lembut terdengar lagi di dalam dirinya.
“Lyra…”
Ia membeku.
Suara itu…
ibunya.
“Jangan takut pada kekuatanmu…”
“Terimalah… dan jadilah cahaya itu.”
Air mata Lyra jatuh.
Tangannya perlahan terbuka.
“Aku… mengerti sekarang…”
Cahaya di tubuhnya berubah.
Tidak lagi bergejolak.
Namun… stabil.
Tenang.
Namun jauh lebih kuat.
Di belakangnya—
sayap cahaya mulai terbentuk.
Perlahan.
Indah.
Menyilaukan.
Kael membelalakkan mata.
“Sayap itu…”
Seren berbisik pelan.
“Dia… sudah sepenuhnya bangkit…”
Komandan kegelapan menatapnya.
Untuk pertama kalinya—
ia terlihat benar-benar serius.
“Menarik…”
Lyra melayang perlahan ke udara.
Matanya bersinar lembut seperti matahari.
Ia menatap lawannya.
“Sekarang… aku siap.”
Komandan itu tersenyum.
“Bagus.”
Ia melepaskan serangan kegelapan raksasa.
BOOOOOOOOM!
Langit seperti runtuh.
Namun—
Lyra mengangkat tangannya.
Sayap cahayanya terbentang.
WOOOOOOOSH!
Gelombang cahaya emas besar melesat.
Dua kekuatan itu bertabrakan.
BRAAAAAAAK!!!
Ledakan raksasa terjadi di langit.
Seluruh Eryndor bergetar.
Cahaya menyapu kegelapan.
Untuk sesaat—
semua menjadi putih.
Dan ketika cahaya itu perlahan menghilang—
satu sosok masih berdiri di udara.
Lyra.
Namun—
di kejauhan, dalam kabut yang tersisa…
Komandan kegelapan itu masih belum jatuh.
Ia tertawa pelan.
“Luar biasa…”
“Kau benar-benar pewaris yang layak.”
Ia mengangkat kepalanya.
Matanya menyala.
“Kalau begitu… saatnya permainan ini berakhir.”
Langit kembali retak.
Namun kali ini—
lebih besar dari sebelumnya.
Sesuatu yang jauh lebih mengerikan mulai bangkit dari dalamnya.
Lyra menatap ke atas.
Jantungnya berdegup pelan.
Ia tahu…
pertarungan ini belum selesai.
Bahkan—
ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih besar.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh ๐๐๐..
๐ Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar