CINCINSLOT - Langit keemasan Eryndor kini retak oleh cahaya merah gelap.
Kabut hitam mulai keluar dari celah-celah langit seperti luka yang terbuka.
Angin berubah dingin.
Suasana damai yang tadi sempat terasa… kini lenyap.
Lyra berdiri di tengah reruntuhan kota, jantungnya berdebar kencang.
“Ini… benar-benar terjadi…”
Di sampingnya, Kael sudah bersiap dengan pedangnya.
Wajahnya serius.
“Mereka tidak akan menunggu.”
Di depan mereka, Seren mengangkat tangannya.
Cahaya putih keemasan muncul di telapak tangannya, lalu berubah menjadi tombak bercahaya.
“Formasi bertahan!” teriaknya.
Para penjaga bersayap langsung bergerak.
Mereka membentuk barisan, sayap cahaya mereka terbuka, menerangi area di sekitar.
Langit kembali bergetar.
CRAAACK!
Retakan semakin besar.
Dan dari dalamnya—
makhluk-makhluk bayangan mulai turun.
Mereka jatuh seperti hujan hitam dari langit.
Beberapa memiliki sayap gelap.
Beberapa berbentuk seperti monster besar dengan mata merah menyala.
Lyra mundur satu langkah.
“Terlalu banyak…”
Kael menatap ke depan.
“Kita tidak punya pilihan selain bertarung.”
Tiba-tiba—
RAAAARGH!
Salah satu makhluk menyerang.
Dengan cepat, Seren melompat ke depan.
SLASH!
Tombak cahayanya menembus tubuh makhluk itu.
Makhluk tersebut langsung hancur menjadi asap hitam.
“Sekarang!” teriak Seren.
Pertempuran dimulai.
Para penjaga cahaya melesat ke udara, bertarung melawan makhluk bayangan yang terus turun dari langit.
Cahaya dan kegelapan bertabrakan di udara.
Ledakan kecil terjadi di mana-mana.
Kael berlari ke depan.
Ia menebas satu makhluk, lalu menghindari serangan lain.
Meski masih belum sepenuhnya pulih, gerakannya cepat dan terlatih.
“Lyra! Tetap di belakangku!”
Namun—
Lyra tidak bergerak.
Ia menatap tangannya.
Cahaya kecil mulai muncul lagi.
Namun kali ini berbeda.
Lebih kuat.
Lebih… stabil.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Di sekitarnya, angin mulai berputar.
Seren yang sedang bertarung melirik ke arahnya.
Matanya membesar.
“Tidak mungkin…”
Lyra melangkah maju.
“Kalau aku punya kekuatan ini…”
Ia menatap ke arah langit yang dipenuhi makhluk bayangan.
“…aku tidak bisa hanya diam.”
Kael menoleh.
“Lyra, tunggu—”
Namun sudah terlambat.
Lyra mengangkat tangannya tinggi.
Cahaya emas besar berkumpul di sekelilingnya.
Semua orang berhenti sejenak.
Bahkan makhluk bayangan.
Untuk sesaat—
semua terasa hening.
Kemudian—
WOOOOOOOSH!
Ledakan cahaya besar menyapu langit.
Makhluk-makhluk bayangan yang berada di dekatnya langsung hancur.
Langit yang retak seolah terdorong mundur oleh cahaya itu.
Para penjaga terdiam.
Kael menatap Lyra dengan tidak percaya.
“Dia… mengendalikan kekuatannya…”
Lyra terengah-engah.
Namun kali ini, ia tidak jatuh.
Ia masih berdiri.
Namun di kejauhan—
sebuah sosok besar muncul dari dalam retakan langit.
Lebih besar.
Lebih gelap.
Aura kegelapannya jauh lebih kuat dari yang lain.
Seren langsung menatapnya dengan tegang.
“Bukan… mereka sudah mengirimnya…”
Kael menggenggam pedangnya lebih erat.
“Komandan kegelapan…”
Lyra menatap ke atas.
Jantungnya kembali berdebar.
Ia baru saja menggunakan kekuatannya untuk pertama kali…
dan musuh yang lebih besar sudah menunggunya.
Sosok itu perlahan tersenyum dari kegelapan.
“Jadi… ini dia…”
“cahaya yang mereka cari.”
Langit kembali bergetar.
Dan pertempuran ini—
baru saja memasuki tahap yang lebih berbahaya.
Darah yang Terpilih
CINCINSLOT - Langit Eryndor masih bergemuruh.
Cahaya emas dari serangan Lyra perlahan memudar, namun sisa energinya masih bergetar di udara.
Di hadapan mereka—
sosok besar itu kini turun dari retakan langit.
Sayap gelapnya terbentang lebar, menutupi cahaya keemasan.
Matanya merah menyala, menatap langsung ke arah Lyra.
Semua penjaga cahaya terdiam.
Bahkan Seren terlihat tegang.
“Dia… benar-benar datang…” bisiknya.
Kael melangkah maju, berdiri di depan Lyra.
“Jangan mendekat.”
Namun sosok itu hanya tersenyum.
Senyum dingin yang membuat udara terasa semakin berat.
“Aku tidak datang untuk kalian.”
Tatapannya terkunci pada Lyra.
“Aku datang untuknya.”
Lyra merasakan tubuhnya menegang.
Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang bereaksi.
“Siapa… kamu?”
Makhluk itu sedikit memiringkan kepalanya.
“Namaku… tidak penting bagimu.”
“Tapi darah yang mengalir dalam dirimu… sangat penting bagi kami.”
Lyra membeku.
“Apa maksudmu…?”
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Energi kegelapan berputar di sekelilingnya.
“Sudah lama kami mencari pewaris cahaya itu.”
Seren langsung melangkah maju.
“Tinggalkan dia!”
Ia melempar tombak cahayanya.
WHOOSH!
Namun makhluk itu hanya mengangkat satu tangan—
dan menghentikan serangan itu dengan mudah.
BRAK!
Tombak cahaya hancur di udara.
Semua orang terkejut.
Kael mengepalkan tangannya.
“Dia jauh lebih kuat dari sebelumnya…”
Makhluk itu kembali menatap Lyra.
“Kau tidak tahu siapa dirimu… bukan?”
Lyra terdiam.
Jantungnya berdetak keras.
“Aku…”
Makhluk itu tersenyum tipis.
“Biarkan aku mengingatkanmu.”
Tiba-tiba—
ia mengangkat tangannya ke arah Lyra.
Cahaya merah gelap melesat cepat.
WHOOSH!
Kael mencoba menghalangi—
tapi terlambat.
Cahaya itu mengenai Lyra.
Namun—
bukan melukainya.
Melainkan…
membuat sesuatu bangkit di dalam dirinya.
Lyra terdiam.
Matanya membesar.
Di dalam pikirannya—
muncul bayangan.
Sebuah istana bercahaya.
Langit keemasan yang sama seperti Eryndor.
Seorang wanita dengan sayap cahaya besar berdiri di depan singgasana.
Wanita itu menatapnya…
dengan senyum lembut.
“Anakku…”
Suara itu menggema di dalam kepalanya.
Lyra tersentak.
“A-apa… itu…?”
Di dunia nyata—
cahaya di tubuh Lyra tiba-tiba membesar.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Lebih murni.
Para penjaga langsung berlutut.
Seren membeku.
Matanya berkaca-kaca.
“Tidak mungkin…”
Ia berbisik pelan—
“Itu… cahaya kerajaan…”
Kael menatap Lyra dengan napas tertahan.
“Lyra…”
Makhluk kegelapan itu tersenyum puas.
“Sekarang kau mulai mengingat…”
Lyra memegang dadanya.
Air matanya jatuh tanpa sadar.
“Aku… melihat seseorang…”
Seren melangkah mendekat perlahan.
Suaranya bergetar.
“Itu… Ratu Aurelia…”
Lyra menatapnya.
“Ratu…?”
Seren mengangguk.
Matanya tidak lepas dari Lyra.
“Penguasa terakhir kerajaan cahaya di Eryndor…”
Ia berhenti sejenak.
“…dan ibumu.”
Dunia seakan berhenti.
Lyra membeku.
“Apa…?”
Kael juga terdiam.
Makhluk kegelapan itu tertawa pelan.
“Sekarang kau mengerti, bukan?”
“Kau bukan manusia biasa.”
“Kau adalah kunci antara dua dunia.”
Cahaya di tubuh Lyra semakin kuat.
Namun di saat yang sama—
retakan langit kembali melebar.
Lebih besar.
Lebih gelap.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
“Dan sekarang… saatnya membawamu pulang.”
Kael langsung berdiri di depan Lyra.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Seren juga mengangkat senjatanya.
“Kami akan melindunginya.”
Lyra berdiri di tengah mereka.
Hatinya kacau.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Namun satu hal kini jelas—
takdirnya bukan lagi miliknya sendiri.
Langit Eryndor kembali bergetar.
Dan pertempuran untuk merebut pewaris cahaya pun dimulai.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar