Minggu, 22 Maret 2026

Cerita Romantis ( Takdir di Antara Dua Dunia ) eps 6

 

CINCINSLOT Langit Eryndor tidak lagi sama.

Retakan besar kini membelah langit seperti jurang tanpa dasar.

Dari dalamnya, kegelapan tidak hanya keluar…

ia mulai hidup.

Angin berhenti.

Suara pertempuran mereda.

Seolah seluruh dunia menahan napas.

Di udara, Lyra masih melayang dengan sayap cahaya yang bersinar terang.

Namun matanya kini menatap satu titik—

retakan besar di langit itu.

Perasaan aneh muncul di dalam dirinya.

Bukan hanya takut…

tapi juga sesuatu yang lebih dalam.

Seolah… ia mengenali sesuatu di sana.

Di bawah, Kael dan Seren berdiri dengan tegang.

“Apa itu…?” bisik Seren.

Kael menggeleng pelan.

“Bukan makhluk biasa…”

Komandan kegelapan di depan mereka tersenyum perlahan.

Namun kali ini—

senyumnya berbeda.

Lebih… tunduk.

“Dia… akhirnya bangkit…”

Lyra menatapnya.

“Siapa?”

Namun sebelum ada jawaban—

DUUUUUM!!!

Suara besar mengguncang langit.

Retakan itu terbuka lebih lebar.

Dan dari dalamnya—

muncul bayangan raksasa.

Tidak berbentuk jelas.

Namun aura yang dipancarkannya membuat udara terasa berat.

Bahkan cahaya Lyra sedikit bergetar.

Para penjaga cahaya langsung berlutut.

Beberapa bahkan tidak sanggup berdiri.

Seren menggertakkan giginya.

“Ini… tekanan kekuatan…”

Kael mengepalkan tangannya.

“Mustahil… sekuat ini…”

Bayangan itu perlahan membentuk sosok.

Sayap hitam yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka lihat.

Mata merah yang bersinar seperti api.

Dan suara yang menggema ke seluruh dunia—

“Cahaya… akhirnya muncul kembali.”

Lyra membeku.

Suara itu…

terasa langsung masuk ke dalam jiwanya.

“Siapa… kau…?”

Sosok itu tersenyum.

“Kau sudah melupakanku…?”

Komandan kegelapan langsung berlutut di udara.

“Tuanku…”

Lyra terdiam.

Jantungnya berdetak sangat keras.

“Tuanku…?”

Sosok itu menatap Lyra.

“Aku adalah awal… dan akhir dari kegelapan.”

“Aku adalah yang menumbangkan kerajaan cahaya…”

Suara itu semakin dalam.

“…dan aku adalah yang akan menyelesaikan apa yang dulu belum selesai.”

Mata Lyra membesar.

Potongan-potongan ingatan muncul lagi di kepalanya.

Istana yang runtuh.

Cahaya yang padam.

Jeritan…

dan sosok kegelapan yang sama.

“Kau…”

Air mata jatuh dari mata Lyra.

“Kau yang… menghancurkan segalanya…”

Sosok itu tersenyum puas.

“Benar.”

Ia mengangkat tangannya.

Energi kegelapan yang sangat besar berkumpul.

Bahkan langit mulai runtuh di sekitarnya.

“Kali ini… tidak akan ada yang tersisa.”

Kael langsung berdiri di depan Lyra.

“Jangan dengarkan dia!”

Seren juga mengangkat senjatanya, meski tubuhnya gemetar.

“Kami tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!”

Namun sosok itu hanya melirik mereka sekilas.

Dan dalam sekejap—

BRAAAK!

Gelombang energi menghantam mereka.

Kael dan Seren terpental jauh.

“Kael!” teriak Lyra.

Ia mencoba bergerak—

namun tubuhnya terasa berat.

Seolah kegelapan itu menahannya.

Sosok itu mendekat perlahan.

Setiap langkahnya membuat udara retak.

“Sekarang… kembalilah padaku.”

Lyra menatapnya dengan gemetar.

Namun perlahan—

ia mengepalkan tangannya.

Cahaya di tubuhnya kembali menyala.

Meski tertahan.

Meski berat.

“Aku… tidak akan…”

Ia mengangkat kepalanya.

Matanya bersinar.

“…menyerah.”

Cahaya emas kembali membesar.

Melawan tekanan kegelapan itu.

Sosok tersebut berhenti.

Lalu tersenyum tipis.

“Menarik…”

“Kau benar-benar putri dari ibumu.”

Langit kembali bergetar.

Cahaya dan kegelapan saling menekan.

Namun kali ini—

taruhannya bukan hanya satu dunia.

Melainkan keberadaan kedua dunia sekaligus.

Di Ambang Kehilangan

CINCINSLOT Langit Eryndor kini benar-benar berubah menjadi medan kehancuran.

Cahaya emas dan kegelapan pekat saling menekan, menciptakan tekanan yang membuat udara terasa hampir tak bisa dihirup.

Di tengah itu—

Lyra masih berdiri, berusaha melawan kekuatan yang jauh melampaui dirinya.

Namun tubuhnya mulai gemetar.

Cahaya di sekelilingnya berdenyut tidak stabil.

Di hadapannya, sosok Penguasa Kegelapan melangkah perlahan.

Setiap langkahnya terasa seperti menghancurkan harapan.

“Berjuanglah sebanyak yang kau mau,” ucapnya dingin.

“Hasilnya tidak akan berubah.”

Lyra menggertakkan giginya.

“Aku… belum kalah…”

Namun tiba-tiba—

BRUK!

Di kejauhan, tubuh seseorang jatuh keras ke tanah.

Lyra menoleh.

Matanya membesar.

Kael.

Tubuhnya tergeletak di antara reruntuhan, tidak bergerak.

Darah mengalir di tanah di sekitarnya.

“Kael…?”

Suara Lyra bergetar.

Ia mencoba berlari ke arahnya—

namun tekanan kegelapan menahannya.

“Jangan… ganggu aku!” teriaknya, berusaha melepaskan diri.

Namun kekuatan itu terlalu kuat.

Penguasa Kegelapan hanya menatapnya dengan tenang.

“Perhatikan baik-baik.”

“Ini harga dari perlawananmu.”

Lyra menatap Kael yang tidak bergerak.

Air matanya mulai jatuh.

“Tidak… bangunlah…”

Di sisi lain, Seren mencoba berdiri.

Tubuhnya juga terluka parah.

“Lyra… jangan… kehilangan fokus…”

Namun suaranya lemah.

Hampir tak terdengar.

Lyra menggenggam tangannya erat.

Cahaya di tubuhnya mulai bergetar lebih kuat.

Namun kali ini—

bukan karena kendali.

Melainkan karena emosi.

“Kenapa…”

Suaranya bergetar.

“Kenapa semua orang harus terluka…?”

Langit bergetar.

Cahaya di sekelilingnya berubah.

Bukan lagi lembut.

Namun… liar.

Penguasa Kegelapan memperhatikan dengan penuh minat.

“Ya… seperti itu…”

“Biarkan emosimu menguasaimu.”

Lyra mengangkat kepalanya.

Air matanya terus mengalir.

Namun matanya kini bersinar jauh lebih terang.

“Aku… tidak akan kehilangan siapa pun lagi…”

Cahaya di tubuhnya meledak.

WOOOOOOOSH!

Gelombang energi besar menyapu area di sekitarnya.

Tanah retak.

Langit bergetar.

Tekanan kegelapan sempat terdorong mundur.

Kael yang tergeletak sedikit bergerak.

Matanya terbuka perlahan.

“Lyra…?”

Ia melihat ke arah cahaya itu.

Dan untuk pertama kalinya—

ia terlihat takut.

“Tidak… itu bukan… kendali…”

Seren juga membelalakkan mata.

“Dia… kehilangan keseimbangan…”

Lyra kini melayang di udara.

Sayap cahayanya membesar.

Namun bentuknya mulai berubah.

Lebih tajam.

Lebih… berbahaya.

Cahaya di sekitarnya berputar liar seperti badai.

Penguasa Kegelapan tersenyum lebar.

“Bagus…”

“Inilah yang aku tunggu.”

Lyra mengangkat tangannya.

Energi besar terkumpul.

Namun bukan hanya kegelapan yang ia lawan—

ia juga mulai kehilangan dirinya sendiri.

“Lyra!” teriak Kael, berusaha bangkit.

“Berhenti! Kau akan menghancurkan semuanya!”

Namun Lyra tidak menjawab.

Matanya kosong.

Terfokus pada satu hal—

menghancurkan.

Seren menggertakkan giginya.

“Kalau ini terus berlanjut…”

“Dia akan menjadi sama seperti yang dia lawan…”

Langit kembali retak lebih besar.

Kekuatan Lyra dan kegelapan mulai tidak terkendali.

Dua kekuatan besar yang saling bertabrakan…

tanpa batas.

Kael memaksakan dirinya berdiri.

Meski tubuhnya hampir tidak kuat.

“Lyra…”

Ia melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Dengan sisa tenaga yang ada—

ia berteriak sekuat mungkin.

“LYRA!!!”

Untuk sesaat—

cahaya itu bergetar.

Mata Lyra sedikit berubah.

Seolah ada bagian kecil dari dirinya yang masih mendengar.

Namun—

apakah itu cukup untuk menghentikannya?

Atau justru…

sudah terlambat?








**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar