CINCINSLOT - Malam itu terasa… berbeda.
Tidak ada angin. Tidak ada suara. Bahkan detak jam di dinding pun seolah menghilang. Semuanya sunyi—terlalu sunyi hingga membuat dada terasa sesak.
Raka membuka matanya perlahan.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Mimpi itu lagi…
Sudah seminggu terakhir ia terus memimpikan hal yang sama—sebuah tempat gelap, luas, dan di tengahnya berdiri sebuah gerbang besar. Gerbang yang tidak biasa.
Hitam.
Tinggi menjulang.
Dipenuhi ukiran aneh yang seperti… bergerak.
Dan setiap kali ia melihatnya—
ada suara yang memanggilnya.
“Datanglah…”
Raka duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya kasar.
“Ini cuma mimpi…” gumamnya.
Namun malam ini terasa berbeda.
Lebih nyata.
Lebih… dekat.
Tiba-tiba—
TOK… TOK… TOK…
Raka membeku.
Suara ketukan itu tidak berasal dari pintu kamarnya.
Melainkan…
dari dalam lemari.
Perlahan, ia menoleh.
Pintu lemari itu… sedikit terbuka.
Padahal ia ingat jelas—tadi ia sudah menutupnya rapat.
“Siapa di sana…?”
Tidak ada jawaban.
Hanya sunyi.
Namun…
ketukan itu terdengar lagi.
Lebih pelan.
Lebih dalam.
Seperti sesuatu… mencoba keluar.
Jantung Raka berdegup kencang.
Logikanya mengatakan untuk tidak mendekat.
Tapi entah kenapa—
kakinya justru melangkah.
Satu.
Dua.
Tiga langkah…
Ia berdiri tepat di depan lemari.
Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.
“Ini cuma perasaanku…”
Ia menarik napas.
Dan—
membuka lemari itu.
Gelap.
Kosong.
Namun tidak seperti biasanya.
Bagian dalam lemari itu… terasa terlalu dalam.
Seolah bukan ruang kecil seperti seharusnya.
Raka menyipitkan mata.
“Apa ini…?”
Tiba-tiba—
sesuatu bergerak di dalam kegelapan.
Dan dalam sekejap—
cahaya merah menyala dari dalamnya.
Menyilaukan.
Mengerikan.
Raka mundur satu langkah.
Namun terlambat.
Sebuah tangan hitam muncul.
Meraih pergelangan tangannya.
Kuat.
Dingin.
“AKHIRNYA…”
Suara itu.
Sama seperti di mimpinya.
Dalam.
Menggema.
Bukan suara manusia.
Raka berusaha melepaskan diri.
“LEPASKAN AKU!!”
Namun tarikan itu terlalu kuat.
Ia terseret masuk.
Kamar itu menghilang.
Dunia berubah.
Dan dalam sekejap—
Raka terjatuh.
Keras.
Napasnya tercekat.
Ia membuka mata.
Dan yang ia lihat—
membuat darahnya terasa membeku.
Gerbang itu.
Berdiri di hadapannya.
Sama persis seperti dalam mimpinya.
Lebih besar.
Lebih gelap.
Lebih… hidup.
Ukiran di permukaannya bergerak seperti makhluk yang bernapas.
Dan di tengahnya—
sebuah simbol menyala merah.
“Ini… bukan mimpi…”
Raka berdiri perlahan.
Tubuhnya gemetar.
Namun matanya tidak bisa berpaling.
Gerbang itu…
seolah memanggilnya.
“Datanglah…”
Suara itu kembali terdengar.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
“Buka aku…”
Raka menelan ludah.
“Apa yang akan terjadi… kalau aku melakukannya…?”
Hening.
Lalu—
suara itu menjawab.
Dengan bisikan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Takdirmu… akan dimulai.”
Angin dingin berhembus.
Tanah bergetar pelan.
Dan tanpa sadar—
Raka melangkah maju.
Satu langkah lagi…
tangannya hampir menyentuh gerbang itu—
DUARR!!
Suara keras menggema.
Cahaya merah meledak.
Dan dari dalam gerbang—
sesuatu mencoba keluar.
Mata Raka membesar.
Karena untuk pertama kalinya—
ia menyadari satu hal.
Gerbang itu bukan hanya memanggilnya…
tapi juga ingin membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.
Sesuatu yang Terbangun
CINCINSLOT - Ledakan cahaya merah itu membuat Raka terpental ke belakang.
Tubuhnya menghantam tanah keras, napasnya tercekat. Kepalanya berdengung, pandangannya berputar.
Namun satu hal yang jelas—
gerbang itu… mulai terbuka.
Perlahan.
Mengeluarkan suara berderit yang dalam dan mengerikan, seperti sesuatu yang sudah lama terkunci… akhirnya dipaksa bangkit.
Raka berusaha bangkit, meski lututnya gemetar.
“Tidak… ini salah… aku harus pergi dari sini…”
Namun kakinya tidak bergerak.
Seolah ada sesuatu yang menahannya.
Seolah… tempat itu tidak mengizinkannya pergi.
Dari celah gerbang yang mulai terbuka—
kegelapan keluar.
Bukan sekadar bayangan.
Tapi sesuatu yang hidup.
Merayap.
Bernafas.
Dan perlahan… membentuk sosok.
Raka membeku.
“Apa itu…”
Sosok itu tinggi.
Lebih tinggi dari gerbang itu sendiri.
Tubuhnya tersusun dari bayangan yang terus berubah, seperti asap hitam yang tidak pernah diam.
Dan di tengahnya—
dua mata merah menyala.
Menatap langsung ke arah Raka.
“Pembawa kunci…”
Suara itu menggema.
Bukan di telinga.
Tapi langsung di dalam kepala Raka.
Raka mundur satu langkah.
“Aku bukan siapa-siapa! Aku cuma—”
“Kau yang membuka…”
Suara itu memotong.
Berat.
Dingin.
“Berarti kau… milikku.”
Jantung Raka serasa berhenti.
“Apa maksudmu—?!”
Tiba-tiba—
kegelapan itu bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Dalam sekejap, sosok itu sudah berada di depan Raka.
Tangannya yang seperti asap hitam meraih dagu Raka, mengangkat wajahnya paksa.
Dingin.
Menusuk.
Raka mencoba melawan, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak.
“Di dalam dirimu… ada sesuatu…”
Bisikan itu semakin dekat.
“Sesuatunya… yang bahkan kau tidak sadari.”
Mata Raka melebar.
“Apa…?”
Sosok itu mendekat.
Hampir menyentuh wajahnya.
“Aku bisa merasakannya…”
Tiba-tiba—
cahaya muncul dari dada Raka.
Putih.
Terang.
Berdenyut.
Sosok itu langsung mundur.
Seperti terbakar.
“Ini… tidak mungkin…”
Raka sendiri terkejut.
“A-apa ini…?!”
Cahaya itu semakin kuat.
Mengusir kegelapan di sekitarnya.
Namun bersamaan dengan itu—
Raka merasakan sakit yang luar biasa.
“AAARGH!!”
Ia berlutut, memegangi dadanya.
Seolah sesuatu di dalam dirinya… dipaksa bangun.
“Tidak… ini belum waktunya…” suara sosok itu berubah.
Bukan marah.
Tapi… waspada.
“Kalau begitu… aku akan menunggumu.”
Kegelapan itu perlahan mundur.
Kembali ke dalam gerbang.
Namun sebelum menghilang—
mata merah itu menatap Raka untuk terakhir kalinya.
“Ketika kau siap…”
Gerbang itu mulai menutup.
“Kau sendiri yang akan datang kepadaku.”
BRAAAK!!
Gerbang tertutup dengan keras.
Cahaya merah padam.
Sunyi.
Segalanya… menghilang.
—
Raka tersentak bangun.
Ia kembali di kamarnya.
Terbaring di lantai.
Napasnya terengah.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
“Ini… mimpi lagi…?”
Namun saat ia melihat ke arah lemari—
pintunya terbuka.
Dan di lantai…
terdapat jejak hitam.
Seperti bekas sesuatu yang keluar… dari dalamnya.
Jantung Raka berdegup kencang.
Perlahan, ia menyentuh dadanya.
Dan di sana—
ia merasakan sesuatu.
Berdenyut.
Sama seperti cahaya tadi.
“Pembawa kunci…”
Suara itu kembali terngiang di kepalanya.
Raka menatap tangannya yang gemetar.
“Kalau itu bukan mimpi…”
Ia menelan ludah.
“Berarti… itu nyata.”
Dan entah kenapa—
di dalam dirinya…
ada bagian kecil yang merasa—
ini baru permulaan.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar