CINCINSLOT - Pagi datang… tapi tidak membawa ketenangan.
Raka berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan wajah pucat. Matanya sedikit memerah karena kurang tidur, namun itu bukan yang membuatnya gelisah.
Melainkan—
denyutan di dadanya.
Sejak kejadian semalam, ia terus merasakannya.
Seperti ada sesuatu… hidup di dalam dirinya.
“Ini bukan normal…” gumamnya pelan.
Ia membuka kancing bajunya sedikit.
Dan di sana—
tepat di tengah dadanya—
muncul tanda.
Samar.
Bercahaya putih.
Berbentuk seperti simbol aneh yang… mirip dengan ukiran di gerbang itu.
Jantungnya berdegup kencang.
“Jadi… ini yang mereka maksud dengan ‘kunci’…”
Tiba-tiba—
TOK!
Suara keras terdengar dari luar kamar.
Raka tersentak.
“Apa itu…?”
Ia membuka pintu perlahan.
Rumahnya… sunyi.
Terlalu sunyi.
“Ibu…?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah keluar.
Langkahnya pelan, hati-hati.
Namun semakin jauh ia berjalan—
ia mulai merasakan sesuatu.
Udara terasa berat.
Dingin.
Dan…
gelap.
Padahal ini pagi hari.
Raka menoleh ke arah jendela.
Langit masih cerah.
Namun di dalam rumah—
bayangan terlihat lebih pekat dari seharusnya.
Seolah… ada sesuatu yang bersembunyi di dalamnya.
“Tidak… jangan mulai lagi…” bisiknya.
Namun terlambat.
Bayangan di lantai—
bergerak.
Raka langsung mundur.
“Apa itu?!”
Bayangan itu memanjang… merayap… lalu perlahan naik ke dinding.
Membentuk sosok.
Lebih kecil dari yang semalam.
Namun tetap mengerikan.
Mata merah itu kembali muncul.
“Kau… sudah mulai bangun…”
Suara itu sama.
Namun kali ini… lebih dekat.
Raka menggertakkan giginya.
“Aku tidak tahu apa yang kau inginkan… tapi pergi dari sini!”
Sosok itu tertawa pelan.
“Kau masih menolak…”
Ia melangkah mendekat.
“Padahal… kau sendiri yang membukanya.”
Raka mundur.
Namun kali ini—
ia tidak jatuh.
Ia tidak panik seperti sebelumnya.
Ia mengingat sesuatu.
Cahaya itu.
Yang muncul dari dalam dirinya.
“Kalau itu benar…” bisiknya, “berarti aku juga bisa melawannya…”
Ia menutup matanya.
Mencoba merasakan denyutan itu.
Fokus.
Tarik napas.
Dan—
cahaya itu muncul lagi.
Dari dadanya.
Lebih terang dari sebelumnya.
Sosok bayangan itu langsung berhenti.
“Menarik…”
Raka membuka mata.
Matanya sedikit bersinar.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak takut.
“Pergi,” katanya tegas.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya itu merambat ke lengannya.
Menyala di telapak tangannya.
Sosok bayangan itu mundur.
Namun tidak hilang.
“Bagus… sangat bagus…”
Suaranya terdengar… puas.
“Semakin cepat kau bangun… semakin cepat pula gerbang itu akan terbuka.”
Raka terdiam.
“Apa maksudmu…?”
Bayangan itu tersenyum—meski wajahnya tidak jelas.
“Kunci tidak diciptakan untuk tetap tertutup…”
Dan dalam sekejap—
ia menghilang.
Rumah kembali normal.
Cahaya pagi masuk seperti biasa.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Raka tahu—
semuanya sudah berubah.
Ia menatap tangannya.
Cahaya itu perlahan padam.
Namun rasa hangatnya masih ada.
“Kalau aku ini ‘kunci’…”
Ia menatap ke arah lemari di kamarnya.
Wajahnya serius.
“…berarti aku juga yang bisa menentukan apakah gerbang itu terbuka… atau tidak.”
Angin berhembus pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
Raka tidak hanya takut.
Ia mulai… penasaran.
Mereka yang Mengetahui
CINCINSLOT - Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Raka duduk di kelas, menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat apa pun. Suara guru hanya terdengar seperti gema jauh yang tidak bermakna.
Pikirannya masih tertinggal di rumah.
Di bayangan itu.
Di gerbang itu.
Dan… pada satu hal yang tidak bisa ia abaikan lagi—
dirinya sendiri.
“Kunci…”
Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Kalau aku memang itu… berarti semuanya akan terus datang…”
“Raka.”
Suara itu memotong pikirannya.
Ia menoleh.
Seorang gadis berdiri di samping mejanya.
Rambutnya hitam panjang, wajahnya tenang… tapi tatapannya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang baru saja ia lihat.
“Ada yang mau bicara sama kamu.”
Raka mengernyit. “Siapa?”
Gadis itu tidak langsung menjawab.
“Kalau kamu masih mau hidup tenang…” katanya pelan, “ikut aku.”
Jantung Raka langsung berdegup kencang.
“Siapa kamu sebenarnya?”
Gadis itu menatapnya lurus.
“Orang yang tahu tentang gerbang itu.”
Sunyi.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
Tanpa banyak pikir, Raka berdiri.
“Ayo.”
Mereka berjalan keluar sekolah.
Menuju bagian belakang gedung yang jarang dilewati orang.
Sepi.
Sunyi.
Persis seperti yang tidak disukai Raka sekarang.
“Sekarang bicara,” kata Raka tegas. “Kamu tahu apa tentang itu?”
Gadis itu berbalik.
Menatapnya dalam-dalam.
“Namaku Nara.”
Ia melangkah mendekat.
“Dan kamu… sudah membuka sesuatu yang tidak seharusnya disentuh manusia.”
Raka menghela napas kasar. “Aku sudah dengar kalimat itu berkali-kali. Jelaskan yang sebenarnya.”
Nara mengangguk kecil.
“Gerbang yang kamu lihat… itu bukan sekadar pintu.”
“Aku tahu.”
“Itu adalah segel.”
Raka terdiam.
“Segel untuk sesuatu yang tidak bisa dibiarkan bebas,” lanjut Nara. “Sesuatu yang sudah lama terkunci… dan sekarang mulai bangkit.”
Raka mengingat sosok bermata merah itu.
“Makhluk itu… apa dia yang ada di balik gerbang?”
Nara menggeleng.
“Bukan.”
Raka terkejut. “Bukan?!”
“Dia hanya penjaga… atau mungkin, utusan.”
Nara menatapnya tajam.
“Yang ada di balik gerbang itu… jauh lebih buruk.”
Dingin menjalar di punggung Raka.
“Lalu… kenapa aku…?”
Nara menatap dadanya.
“Kamu membawa kunci.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Semua orang bilang itu… tapi tidak ada yang menjelaskan kenapa aku!”
Hening.
Untuk pertama kalinya—
Nara terlihat ragu.
Namun akhirnya ia berkata pelan—
“Karena kamu bukan manusia biasa, Raka.”
Dunia terasa berhenti.
“Apa…?”
Sebelum Raka sempat bereaksi—
ANGIN DINGIN BERHEMBUS.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Bayangan di sekitar mereka… bergerak.
Nara langsung menoleh.
“Dia datang lebih cepat…”
“Siapa—?!”
Belum sempat Raka menyelesaikan kalimatnya—
bayangan itu muncul.
Namun kali ini—
lebih besar.
Lebih nyata.
Dan… lebih berbahaya.
Mata merah itu menatap mereka berdua.
“Kau tidak sendiri lagi… pembawa kunci…”
Raka mundur satu langkah.
“Nara…”
Namun Nara justru melangkah maju.
Tatapannya berubah.
Lebih serius.
Lebih siap.
“Raka, dengarkan aku,” katanya cepat. “Apa pun yang terjadi—jangan biarkan dia menyentuhmu.”
“Apa?!”
Namun sudah terlambat.
Bayangan itu menyerang.
Cepat.
Langsung menuju Raka.
“NARA!!”
Nara mengangkat tangannya.
Dan—
cahaya biru muncul.
Berbeda dari cahaya Raka.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
DUA KEKUATAN BERTABRAKAN.
Ledakan kecil mengguncang area itu.
Raka terpental ke belakang.
Matanya membesar.
“Kamu juga… punya kekuatan?!”
Nara tidak menjawab.
Ia fokus menahan serangan.
Namun terlihat jelas—
ia mulai kewalahan.
“Kekuatanmu belum bangkit sepenuhnya…” suara bayangan itu mengejek.
Ia menekan lebih kuat.
Cahaya biru mulai retak.
“Nara!” teriak Raka.
Ia mengepalkan tangannya.
Cahaya di dadanya kembali menyala.
Lebih kuat.
Lebih panas.
“Berhenti…”
Ia melangkah maju.
“Aku bilang—BERHENTI!!”
Cahaya putih meledak dari tubuhnya.
Langsung menghantam bayangan itu.
Makhluk itu tersentak mundur.
Untuk pertama kalinya—
ia terlihat terkejut.
“Kau… berkembang lebih cepat…”
Raka berdiri di depan Nara.
Melindunginya.
Napasnya berat.
Namun matanya penuh tekad.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi…”
Ia menatap makhluk itu.
“Tapi aku tidak akan membiarkanmu mengambil apa pun dariku.”
Sunyi.
Makhluk itu tersenyum tipis.
“Bagus…”
Suaranya berubah… lebih dalam.
“Semakin kuat kau… semakin dekat pula waktunya.”
Dan dalam sekejap—
ia menghilang.
Angin berhenti.
Dunia kembali normal.
Raka terdiam.
Napasnya belum stabil.
Nara menatapnya.
Matanya sedikit melebar.
“Kamu… lebih berbahaya dari yang kupikirkan…”
Raka menoleh.
“Apa maksudmu…?”
Nara terdiam sejenak.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu tidak belajar mengendalikan kekuatanmu…”
Ia menatap lurus ke mata Raka.
“…kamu bukan hanya akan membuka gerbang itu.”
Hening.
“Tapi juga… menghancurkan dunia ini.”
Jantung Raka berdegup keras.
Dan untuk pertama kalinya—
ia mulai sadar.
Bahwa ini bukan hanya tentang bertahan.
Tapi tentang—
memilih apa yang akan ia hancurkan… atau selamatkan.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar