CINCINSLOT - Angin kembali tenang.
Namun ketenangan itu… terasa menipu.
Raka masih berdiri di tempatnya, napasnya belum sepenuhnya stabil setelah ledakan energi tadi. Cahaya di dadanya perlahan meredup, tapi sensasinya masih terasa—hangat… sekaligus menekan.
Nara di belakangnya mencoba berdiri tegak, meski terlihat lelah.
“Kamu… benar-benar belum tahu cara mengendalikan itu, ya…” gumamnya.
Raka menoleh. “Aku bahkan tidak tahu apa ini sebenarnya.”
Nara menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.
“Kalau begitu, kamu harus tahu sekarang. Kita tidak punya banyak waktu.”
Raka langsung serius. “Jelaskan.”
Mereka berpindah ke atap gedung sekolah.
Langit mulai berubah jingga, menandakan senja akan datang.
Namun bagi Raka—warna langit itu justru terasa seperti peringatan.
Nara berdiri menghadap langit.
“Kunci yang ada di dalam dirimu…” katanya pelan,
“bukan sekadar alat untuk membuka gerbang.”
Raka mengernyit. “Lalu?”
“Itu adalah inti dari segel itu sendiri.”
Raka membeku.
“Maksudmu… aku ini bagian dari segel?”
Nara mengangguk.
“Dulu, segel itu diciptakan untuk menutup sesuatu yang tidak bisa dihancurkan. Tapi karena kekuatannya terlalu besar… segel itu tidak bisa berdiri sendiri.”
Ia menoleh ke arah Raka.
“Jadi, sebagian dari kekuatan itu… dipindahkan ke manusia.”
Raka menelan ludah.
“Dan aku salah satunya?”
“Bukan salah satu,” jawab Nara serius.
“Kamu yang terakhir.”
Sunyi.
Angin berhembus pelan.
Namun kata-kata itu terasa jauh lebih dingin dari apa pun.
“Kalau aku yang terakhir…” suara Raka pelan, “berarti kalau aku—”
“Segel itu akan runtuh,” potong Nara.
Jantung Raka berdegup kencang.
“Dan yang ada di balik gerbang itu… akan bebas sepenuhnya.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Jadi… selama ini aku cuma… kunci berjalan?”
“Tidak,” kata Nara cepat. “Kamu juga satu-satunya yang bisa mengendalikan gerbang itu.”
Raka menatapnya.
“Artinya… kamu punya pilihan.”
Hening sejenak.
Namun sebelum Raka bisa menjawab—
SUARA RETAKAN TERDENGAR.
KREEEKK…
Langit… retak.
Raka dan Nara langsung menoleh.
“Apa itu—?!”
Di udara, tepat di atas sekolah—
muncul celah hitam.
Kecil.
Namun jelas.
Seperti sobekan di langit.
Dan dari dalamnya—
sesuatu mengintip.
Mata merah.
Sama seperti sebelumnya.
Namun kali ini—
lebih banyak.
Lebih dari satu.
Raka merasakan dadanya berdenyut keras.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“Mereka… menemukanmu,” bisik Nara.
“‘Mereka’…?” Raka gemetar.
Celah itu semakin melebar.
Dan dari dalamnya—
satu per satu bayangan mulai keluar.
Lebih kecil dari makhluk sebelumnya.
Namun jumlahnya… puluhan.
“Kali ini bukan utusan…” kata Nara tegang.
“Ini pasukan pemburu.”
Raka mundur selangkah.
“Mereka datang untuk…?”
Nara menatapnya.
“Mengambil kuncinya.”
Detik berikutnya—
mereka menyerang.
Cepat.
Serempak.
Langsung menuju Raka.
“NARA!!”
Nara melompat ke depan.
Cahaya biru meledak dari tangannya.
Menghancurkan beberapa bayangan sekaligus.
Namun—
jumlah mereka terlalu banyak.
“Raka! Sekarang bukan waktunya ragu!” teriak Nara. “Gunakan kekuatanmu!”
Raka menggertakkan giginya.
“Tapi aku tidak tahu caranya!”
“RASAKAN!”
Raka menutup matanya.
Fokus.
Denyutan itu—
di dadanya.
Ia mencoba merasakannya.
Mengikutinya.
Bukan melawan.
Dan—
cahaya itu bangkit lagi.
Lebih besar.
Lebih kuat.
Tubuhnya bersinar terang.
Mata Raka terbuka—
bersinar putih.
“Aku… bisa merasakannya…”
Ia mengangkat tangannya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak sekadar melepaskan kekuatan.
Ia… mengarahkannya.
BOOM!
Gelombang cahaya menyapu langit.
Menghancurkan bayangan-bayangan itu sekaligus.
Langit kembali bersih.
Celah itu tertutup.
Sunyi.
Raka terengah.
Namun kali ini—
ia tidak jatuh.
Ia berdiri.
Nara menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
“Kamu… baru saja…”
Raka menatap tangannya.
Cahaya itu perlahan menghilang.
“Ternyata… aku bisa…”
Namun—
senyum kecil itu tidak bertahan lama.
Karena di dadanya—
tanda itu mulai menyala lebih terang.
Lebih panas.
Lebih… tidak stabil.
Raka meringis.
“Kenapa… ini terasa sakit…?”
Nara langsung panik.
“Itu bukan cuma kekuatanmu yang bangkit…”
Raka menatapnya, napasnya mulai tidak teratur.
“Lalu… apa lagi…?”
Nara menatap tanda di dadanya dengan wajah pucat.
“Itu… tanda kalau gerbangnya juga ikut bangun.”
Sunyi.
Dan di kejauhan—
suara itu terdengar lagi.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
“Datanglah…”
Raka membeku.
Karena kali ini—
ia tidak hanya mendengar suara itu.
Ia… ingin mengikutinya.
Panggilan yang Tak Bisa Ditolak
CINCINSLOT - “Datanglah…”
Suara itu tidak lagi terdengar seperti bisikan jauh.
Kini… terasa sangat dekat.
Seolah berada tepat di belakang telinga Raka.
Ia membeku.
Napasnya mulai tidak teratur.
Tangannya gemetar.
“Nara…” suaranya pelan, hampir tak terdengar, “aku… mendengarnya lagi…”
Nara langsung menegang.
“Jangan dengarkan!” katanya cepat. “Fokus ke sini, ke aku!”
Namun Raka tidak menjawab.
Tatapannya kosong.
Seolah pikirannya… ditarik ke tempat lain.
“Raka!”
Perlahan—
ia melangkah maju.
Menuju tepi atap.
“Nara… aku harus ke sana…”
“Apa?! Ke mana?!”
Raka menatap ke arah langit.
Ke arah tempat celah itu tadi muncul.
“Aku… tahu tempatnya…”
Jantung Nara berdegup kencang.
“Itu bukan pikiranmu sendiri!” teriaknya. “Itu gerbang yang memanggilmu!”
Namun Raka tetap melangkah.
Satu langkah lagi—
ia hampir jatuh dari atap.
“NARA… aku harus—”
PLAK!
Nara menarik tangannya kuat.
Menahan tubuh Raka tepat sebelum ia jatuh.
“Kamu sadar tidak sih?! Itu bukan kamu!” bentaknya.
Raka tersentak.
Untuk sesaat—
kesadarannya kembali.
“Apa yang… barusan…?”
Ia menatap ke bawah.
Jarak yang bisa saja merenggut nyawanya.
Tubuhnya langsung lemas.
“Aku hampir…”
Nara menghela napas panjang.
“Semakin kuat kekuatanmu… semakin kuat juga pengaruh gerbang itu.”
Raka terdiam.
“Artinya… aku tidak hanya membukanya…”
Ia menatap tangannya.
“Tapi juga… terhubung dengannya.”
Nara mengangguk pelan.
“Dan kalau kamu tidak belajar mengendalikannya…”
Ia menatap serius.
“Kamu bisa kehilangan dirimu sendiri.”
Sunyi.
Angin malam mulai berhembus.
Langit berubah gelap.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Karena tiba-tiba—
TANDA DI DADA RAKA MENYALA TERANG.
Lebih terang dari sebelumnya.
Lebih panas.
Raka langsung berlutut.
“AAARGH!!”
“Raka!!”
Nara berlari mendekat.
“Apa yang terjadi?!”
Raka mencengkeram dadanya.
“Sesuatu… masuk…”
Matanya membesar.
“Bukan… ini seperti… sesuatu yang bangun dari dalam…”
Cahaya putih di dadanya berubah.
Mulai bercampur dengan—
warna merah.
Nara langsung panik.
“Tidak… ini buruk…”
“Apa maksudmu…?!” Raka kesakitan.
Nara menggertakkan giginya.
“Itu bukan cuma kekuatanmu… itu bagian dari yang ada di balik gerbang!”
Raka membeku.
“Apa…?”
Tiba-tiba—
ia melihat sesuatu.
Bukan dengan matanya.
Tapi di dalam pikirannya.
Gerbang itu.
Terbuka lebih lebar.
Dan di dalamnya—
sepasang mata.
Jauh lebih besar.
Jauh lebih mengerikan.
Menatapnya.
Langsung ke dalam jiwanya.
“Kau… milikku…”
Suara itu.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Lebih nyata.
Raka menjerit.
“DIAM!!!”
Cahaya di tubuhnya meledak.
Namun kali ini—
tidak stabil.
Energi liar menyebar ke sekeliling.
Angin berputar kencang.
Langit kembali retak.
Nara terdorong mundur.
“Raka, hentikan! Kamu kehilangan kendali!”
Namun Raka tidak bisa mendengar.
Matanya bersinar—
putih… dan merah.
Tubuhnya perlahan terangkat dari tanah.
“Aku… tidak bisa… menahannya…”
Suaranya berubah.
Bercampur dengan sesuatu yang lain.
Lebih gelap.
Lebih dingin.
Dan dalam sekejap—
Raka mengangkat tangannya.
Mengarah ke langit.
Celah hitam terbuka kembali.
Lebih besar dari sebelumnya.
Lebih tidak stabil.
Nara membeku.
“Tidak… kalau ini terbuka sepenuhnya—”
Dari dalam celah itu—
kegelapan mulai turun.
Namun kali ini…
bukan bayangan kecil.
Bukan utusan.
Melainkan—
sesuatu yang jauh lebih besar.
“Raka… dengarkan aku!” teriak Nara. “Kalau kamu tidak berhenti sekarang, kamu benar-benar akan membuka gerbang itu!”
Namun—
di dalam diri Raka—
ia masih berjuang.
Di tengah kegelapan yang mencoba mengambil alih—
ia mencoba bertahan.
“Ini… bukan aku…”
Ia mengepalkan tangannya.
“Aku tidak akan… jadi milikmu…”
Cahaya putih di dalam dirinya berdenyut.
Melawan merah.
Berusaha merebut kembali kendali.
Dan di saat itu—
Nara melihat sesuatu.
Cahaya itu…
tidak sendiri.
Seolah ada kekuatan lain… yang juga mencoba membantu Raka dari dalam.
“Raka… kamu masih bisa melawannya!”
Raka membuka matanya.
Setengah sadar.
Setengah hilang.
“Bantu… aku…”
Nara mengangguk.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya biru muncul lagi.
Namun kali ini—
ia tidak menyerang.
Ia mengarahkan cahaya itu ke Raka.
“Mengalir… ikut denganku…” bisiknya.
Cahaya biru menyatu dengan cahaya putih Raka.
Menstabilkannya.
Perlahan—
warna merah mulai memudar.
Celah di langit mengecil.
Kegelapan berhenti turun.
Raka menjerit sekali lagi—
dan—
semuanya berhenti.
Cahaya padam.
Langit kembali normal.
Raka jatuh ke tanah.
Tak bergerak.
“Nara…?”
Tidak ada jawaban.
Ia pingsan.
Nara langsung berlutut di sampingnya.
Napasnya berat.
Namun ia lega.
“Syukurlah…”
Ia menatap wajah Raka yang pucat.
Namun di matanya—
ada kekhawatiran yang lebih dalam.
“Kalau ini terus berlanjut…”
bisiknya pelan,
“bukan hanya gerbang itu yang akan terbuka…”
Ia menatap langit.
“…tapi sesuatu yang jauh lebih besar akan bangkit melalui dia.”
Angin malam kembali berhembus.
Namun kali ini—
membawa firasat buruk.
Bahwa waktu mereka…
tidak banyak lagi.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar