Kamis, 09 April 2026

Cerita Fantasi ( Gerbang Terlarang Itu Memanggil Namaku ) Eps 4

 

CINCINSLOT Angin malam berhembus pelan.


Namun kali ini… terasa berbeda.

Lebih dingin.

Lebih berat.

Seolah membawa sesuatu yang tidak terlihat… tapi nyata.

Raka terbaring di atas tempat tidur di ruang UKS sekolah. Nafasnya perlahan mulai stabil, namun wajahnya masih pucat.

Nara duduk di sampingnya.

Menatapnya tanpa berkedip.

“Cepat bangun…” bisiknya pelan. “Kita tidak punya waktu…”

Seolah menjawab—

jari Raka bergerak sedikit.

Matanya perlahan terbuka.

Pandangan pertama yang ia lihat—

Nara.

“Kamu… masih di sini…” gumamnya lemah.

Nara menghela napas lega.

“Jelas. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu.”

Raka mencoba bangkit, namun langsung meringis.

Dadanya terasa nyeri.

“Gerbang itu…” katanya pelan, “aku melihatnya lagi…”

Nara langsung serius.

“Apa yang kamu lihat?”

Raka menatap langit-langit.

Matanya kosong… tapi penuh ketakutan.

“Gerbangnya… hampir terbuka sepenuhnya.”

Sunyi.

Nara mengepalkan tangannya.

“Secepat itu…”

Raka menoleh.

“Dan… ada sesuatu di dalamnya.”

“Aku tahu.”

“Bukan,” Raka menggeleng pelan, “yang ini… berbeda.”

Ia menelan ludah.

“Dia melihatku.”

Jantung Nara berdetak lebih cepat.

“Apa maksudmu?”

Raka duduk perlahan.

“Bukan seperti sebelumnya… bukan sekadar bayangan atau utusan…”

Wajahnya memucat.

“Ini… seperti sesuatu yang sadar.”

Hening.

Dan itu jauh lebih menakutkan.

Tiba-tiba—

lampu di ruangan berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu—

padam.

“Nara…”

“Aku tahu.”

Kegelapan menyelimuti ruangan.

Namun tidak sepenuhnya.

Karena—

dari jendela—

cahaya merah masuk.

Perlahan.

Nara langsung menoleh.

Dan apa yang ia lihat—

membuat napasnya tercekat.

“Raka…”

Raka ikut melihat.

Dan ia langsung membeku.

Di langit—

retakan besar terbuka.

Lebih besar dari sebelumnya.

Lebih liar.

Seolah langit itu sendiri… tidak mampu menahannya lagi.

Dan dari dalamnya—

cahaya merah mengalir seperti darah.

“Aku… melakukan ini…?” bisik Raka.

Nara tidak menjawab.

Namun wajahnya mengatakan semuanya.

Ya.

Tiba-tiba—

SUARA GEMURUH BESAR TERDENGAR.

Tanah bergetar.

Kaca jendela retak.

Dan dari dalam retakan langit itu—

sesuatu turun.

Bukan bayangan kecil.

Bukan pasukan.

Melainkan—

sebuah tangan raksasa.

Hitam.

Dipenuhi retakan merah menyala.

Meraih keluar dari celah itu.

Raka mundur tanpa sadar.

“Tidak… ini tidak mungkin…”

Tangan itu terus turun.

Seolah mencoba meraih dunia ini.

“Gerbangnya… sudah tidak stabil…” kata Nara tegang. “Kalau ini terus berlanjut—”

“Dia akan masuk sepenuhnya…” lanjut Raka pelan.

Dan kali ini—

tidak ada yang bisa menghentikannya.

Tiba-tiba—

denyutan di dada Raka kembali muncul.

Lebih kuat.

Lebih menyakitkan.

Ia terjatuh berlutut.

“AAARGH!!”

“Raka!”

Nara berlari mendekat.

Namun sebelum ia bisa menyentuhnya—

cahaya dari tubuh Raka meledak.

Putih.

Biru.

Dan merah.

Bercampur.

Tidak stabil.

“Tidak… dia kehilangan kendali lagi!”

Raka menjerit.

Namun kali ini—

ia tidak melawan.

Ia… tenggelam.

Dalam suara itu.

Dalam panggilan itu.

“Datanglah…”

Matanya berubah.

Separuh putih.

Separuh merah.

“Aku… harus…”

Ia berdiri perlahan.

Menghadap ke arah langit.

“Nara…” suaranya berubah, “ini bukan hanya panggilan…”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya besar berkumpul.

“Ini… perintah.”

“Raka, hentikan!” teriak Nara. “Itu bukan kamu!”

Namun Raka tidak berhenti.

Ia melangkah maju.

Menuju jendela.

Menuju langit yang retak.

“Kalau aku tidak pergi…”

Ia tersenyum samar.

“Dia akan datang ke sini…”

Jantung Nara serasa diremas.

“Dan itu lebih buruk…”

Hening.

Air mata mulai jatuh dari mata Nara.

“Jadi kamu mau menyerah?!”

Raka terdiam.

Untuk sesaat—

cahaya putih di matanya bergetar.

Seperti mencoba kembali.

“Aku… tidak menyerah…”

Ia menatap Nara.

Untuk terakhir kalinya.

“Aku hanya… memilih.”

“Memilih apa…?”

Raka tersenyum kecil.

Namun kali ini—

penuh luka.

“Menjadi yang menutupnya… dari dalam.”

Mata Nara membesar.

“Jangan—”

Namun terlambat.

Raka melompat.

Keluar dari jendela.

Menuju langit yang retak.

“NARAAAA!!”

Teriakan itu menggema.

Namun tubuh Raka sudah terangkat oleh cahaya.

Menuju celah hitam itu.

Tangan raksasa itu… menunggunya.

Dan dalam satu kilatan—

Raka menghilang ke dalam gerbang.

Langit bergetar.

Cahaya meledak.

Dan—

sunyi.

Nara jatuh berlutut.

Air matanya tidak berhenti.

“Kenapa… kamu selalu memilih jalan itu…”

Ia menatap langit.

Yang kini perlahan… menutup kembali.

“Tapi… aku tidak akan membiarkanmu sendirian di sana…”

Tatapannya berubah.

Dari sedih…

menjadi tekad.

“Aku akan datang menyusulmu, Raka.”

Karena kini—

pertarungan sebenarnya…

baru saja dimulai.

Dunia di Balik Gerbang

CINCINSLOT Gelap.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Hanya… kehampaan.

Raka membuka matanya perlahan.

Tubuhnya terasa ringan… namun juga asing.

“Aku… di mana…?”

Suaranya menggema—bukan di udara, tapi di dalam ruang yang tak terlihat.

Ia mencoba berdiri.

Namun tanah di bawahnya… bukan tanah.

Lebih seperti permukaan hitam yang berdenyut, seperti makhluk hidup.

Raka menatap sekeliling.

Tidak ada langit.

Tidak ada batas.

Hanya kegelapan… yang seolah mengawasinya.

“Jadi… ini dunia di balik gerbang…”

Tiba-tiba—

langkah kaki terdengar.

Raka langsung menoleh.

Dari kejauhan—

seseorang berjalan mendekat.

Perlahan.

Tenang.

Siluetnya mulai terlihat.

Tinggi.

Berselimut bayangan.

Dan ketika ia cukup dekat—

Raka membeku.

Wajah itu…

sama dengannya.

“Apa… ini…”

Sosok itu tersenyum tipis.

“Akhirnya… kita bertemu.”

Suara itu—

sama.

Namun lebih dalam.

Lebih dingin.

“Kamu… siapa?”

Sosok itu berhenti beberapa langkah di depan Raka.

Menatapnya lurus.

“Aku adalah dirimu… yang seharusnya.”

Jantung Raka berdegup keras.

“Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Sosok itu mengangkat tangannya.

Dan—

cahaya merah muncul di dadanya.

Sama seperti milik Raka.

Namun lebih gelap.

Lebih pekat.

“Kita berbagi kunci yang sama…”

Raka mundur satu langkah.

“Tidak… aku tidak seperti kamu.”

Sosok itu tertawa pelan.

“Masih menyangkal…”

Ia melangkah mendekat.

“Padahal kau sudah merasakannya, bukan?”

Raka terdiam.

Karena… itu benar.

Ia pernah merasakan dorongan itu.

Panggilan itu.

Keinginan untuk membuka semuanya.

“Semakin kau melawan…” bisik sosok itu,
“semakin kuat aku.”

Raka mengepalkan tangannya.

“Kalau kamu bagian dari kekuatan itu…”

Ia menatap tajam.

“Berarti aku juga bisa menghentikanmu.”

Sosok itu tersenyum.

“Kalau kau bisa.”

Dalam sekejap—

ia menghilang.

Dan muncul tepat di depan Raka.

Cepat.

Terlalu cepat.

DUAAK!

Raka terpental.

Tubuhnya menghantam permukaan hitam itu.

“AARGH!”

Ia mencoba bangkit.

Namun sosok itu sudah berdiri di atasnya.

“Di sini… aku adalah segalanya.”

Ia menunduk.

Matanya menyala merah.

“Dan kau… hanya tamu.”

Raka menggertakkan giginya.

“Kalau begitu… aku akan merebutnya.”

Cahaya putih di dadanya menyala.

Namun—

langsung ditekan oleh cahaya merah.

Lebih kuat.

Lebih dominan.

“Kau lihat?” kata sosok itu. “Kau belum siap.”

Ia mengangkat tangan—

siap menghabisi.

Namun tiba-tiba—

cahaya biru muncul.

Menahan serangan itu.

Raka dan sosok itu sama-sama terkejut.

Dari kejauhan—

sebuah suara terdengar.

“Dia tidak sendirian.”

Raka menoleh.

Matanya membesar.

“Nara…?”

Di kejauhan—

Nara berdiri.

Dikelilingi cahaya biru.

Nafasnya berat.

Namun matanya penuh tekad.

“Aku bilang… aku akan menyusulmu.”

Raka terdiam.

“Kenapa kamu… datang ke sini…?”

Nara tersenyum kecil.

“Karena kamu tidak pernah bisa melakukan ini sendirian.”

Sosok merah itu tertawa.

“Menarik…”

Ia menatap Nara.

“Jadi… ini yang menjaga sisi manusiamu.”

Nara melangkah maju.

Cahaya birunya semakin kuat.

“Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya.”

Sosok itu tersenyum dingin.

“Kalau begitu… kalian berdua akan hancur bersama.”

Kegelapan di sekitar mereka mulai bergerak.

Berputar.

Mengurung.

Pertarungan… tidak bisa dihindari lagi.

Raka berdiri perlahan.

Menatap Nara.

“Terima kasih… sudah datang.”

Nara menatapnya balik.

“Jangan mati dulu.”

Raka tersenyum tipis.

“Tidak akan.”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya putih kembali menyala.

Namun kali ini—

tidak sendiri.

Cahaya biru dari Nara mendekat.

Menyatu.

Menguatkan.

Dan untuk pertama kalinya—

Raka merasa…

ia benar-benar tidak sendirian.

“Kalau kamu adalah aku…” kata Raka pelan,
“maka aku akan mengalahkanmu… dengan diriku sendiri.”

Sosok merah itu menyeringai.

“Coba saja.”

Dan dalam sekejap—

dua kekuatan bertabrakan.

Cahaya dan kegelapan.

Manusia dan bayangan.

Dua sisi dari satu jiwa—

bertarung untuk menentukan…

siapa yang akan bertahan.










**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

πŸ‘‰ Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar