CINCINSLOT - Ledakan cahaya mengguncang seluruh ruang kegelapan itu.
Putih. Biru. Merah.
Tiga warna saling bertabrakan, menciptakan gelombang energi yang merobek permukaan dunia hitam di bawah kaki mereka.
Raka terlempar ke belakang.
Nara juga terdorong, namun masih mampu bertahan dengan satu lutut di tanah.
Di depan mereka—
sosok merah itu berdiri.
Tidak terluka.
Tidak goyah.
Malah… tersenyum.
“Bagus…” katanya pelan. “Kalian mulai mengerti cara bertarung di sini.”
Raka menggertakkan giginya.
“Kalau ini dunia pikiran… berarti aku yang menentukan!”
Sosok itu tertawa.
“Kalau kau cukup kuat.”
Dalam sekejap—
lingkungan berubah.
Tanah menghilang.
Langit runtuh.
Dan Raka tiba-tiba berdiri… di tempat lain.
Ia kembali ke kamarnya.
Lampu redup.
Lemari terbuka.
Persis seperti malam pertama.
Raka membeku.
“Ini…?”
“Kenanganmu.”
Suara itu muncul dari belakangnya.
Raka menoleh—
dan melihat dirinya sendiri.
Versi yang lebih lemah.
Lebih takut.
Lebih… manusia.
“Ini kamu… sebelum semuanya berubah,” kata sosok merah, kini berdiri di sampingnya.
“Apa yang kau lakukan…?”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Aku hanya menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”
Raka melihat dirinya yang lama.
Ketakutan.
Ragu.
Tidak berdaya.
“Tanpa kekuatan ini…” lanjut sosok itu, “kau bukan siapa-siapa.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Diam.”
“Tanpa gerbang itu…” suaranya semakin dalam,
“kau tetap hanya manusia biasa… yang tidak berarti.”
“AKU BILANG DIAM!!”
Cahaya putih meledak.
Menghancurkan ilusi itu.
Ruangan kembali ke kegelapan.
Nara muncul di sampingnya.
“Raka! Itu jebakan! Dia mencoba menghancurkan mentalmu!”
Raka terengah.
“Aku tahu…”
Ia menatap ke depan.
“Dan aku tidak akan jatuh lagi.”
Sosok merah itu mengangguk pelan.
“Bagus… berarti kita bisa lanjut.”
Tiba-tiba—
puluhan bayangan muncul di sekitar mereka.
Lebih besar.
Lebih ganas.
“Kali ini… lihat seberapa kuat kau mempertahankan dirimu.”
Nara bersiap.
Cahaya biru menyala.
“Kita lakukan bersama.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Mereka berdiri berdampingan.
Untuk pertama kalinya—
benar-benar selaras.
Bayangan itu menyerang.
Cepat.
Brutal.
Namun—
Raka tidak mundur.
Ia melangkah maju.
Cahaya putih menyapu.
Menghancurkan satu per satu.
Nara melindungi dari sisi lain.
Cahaya biru menahan serangan balik.
Gerakan mereka mulai sinkron.
Tanpa kata.
Tanpa ragu.
Dan perlahan—
jumlah bayangan itu berkurang.
Hingga akhirnya—
semuanya hancur.
Sunyi kembali.
Namun kali ini—
Raka tidak terengah.
Ia berdiri tegak.
Lebih kuat.
Lebih tenang.
Sosok merah itu menatapnya.
Untuk pertama kalinya—
tidak tersenyum.
“Kau… berubah.”
Raka menatapnya balik.
“Karena aku tidak lagi menolak diriku sendiri.”
Cahaya di dadanya menyala.
Namun kini—
lebih stabil.
Lebih seimbang.
“Kalau kamu bagian dariku…”
Ia melangkah maju.
“…maka aku tidak perlu menghancurkanmu.”
Sosok itu mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Raka mengangkat tangannya.
Cahaya putih dan sedikit merah muncul.
Menyatu.
“Aku akan mengendalikannya.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya—
sosok merah itu terlihat… ragu.
“Itu tidak mungkin…”
Raka tersenyum tipis.
“Coba saja.”
Ia melangkah lebih dekat.
Cahaya itu semakin terang.
Namun bukan untuk menyerang.
Melainkan—
menyerap.
Sosok merah itu mencoba melawan.
Namun tubuhnya mulai larut.
“Kau… tidak bisa…!”
“Ini tubuhku.”
Cahaya menyelimuti mereka berdua.
Nara melihat dari kejauhan.
Matanya melebar.
“Raka… kamu mencoba menyatu dengannya?!”
Raka tidak menjawab.
Namun ekspresinya tenang.
“Aku tidak akan jadi budaknya…”
Sosok merah itu mulai menghilang.
“Aku akan jadi tuannya.”
Cahaya meledak.
Seluruh dunia kegelapan itu bergetar.
Dan dalam satu kilatan—
semuanya kembali sunyi.
Raka berdiri.
Sendiri.
Namun berbeda.
Matanya terbuka.
Kini—
tidak hanya putih.
Tapi juga… memiliki kilatan merah.
Seimbang.
Terkendali.
Nara mendekat perlahan.
“Kamu… berhasil?”
Raka menatap tangannya.
Lalu tersenyum kecil.
“Untuk sekarang… ya.”
Namun—
di kejauhan—
gerbang itu kembali muncul.
Lebih besar.
Lebih dekat.
Dan kali ini—
perlahan… terbuka dengan sendirinya.
Raka menatapnya.
Serius.
“Sepertinya… ini belum selesai.”
Angin kegelapan berhembus.
Dan dari dalam gerbang—
suara itu kembali terdengar.
Lebih dalam.
Lebih mengerikan.
“Bagus…”
Raka membeku.
Karena ia sadar—
yang berbicara kali ini…
bukan lagi bagian dari dirinya.
Dia yang Sebenarnya Terbangun
CINCINSLOT - Gerbang itu terbuka.
Perlahan.
Namun kali ini… bukan karena Raka.
Bukan karena kekuatannya lepas kendali.
Tapi karena—
sesuatu dari dalam… memang ingin keluar.
Angin kegelapan berputar.
Lebih berat.
Lebih menekan.
Nara langsung mundur beberapa langkah.
“Raka… ini berbeda…”
Raka tidak menjawab.
Tatapannya terpaku pada gerbang itu.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak hanya merasakan panggilan.
Ia merasakan… ketakutan.
Yang murni.
Yang dalam.
“Yang ini…” bisiknya pelan,
“bukan bagian dariku…”
Gerbang terbuka lebih lebar.
Cahaya merah menyembur keluar.
Namun bukan cahaya biasa—
melainkan seperti… darah yang menyala.
Dan dari dalamnya—
sesuatu melangkah keluar.
Langkah pertama—
membuat seluruh ruang bergetar.
Langkah kedua—
udara terasa hancur.
Langkah ketiga—
ia terlihat.
Sosok tinggi.
Diselimuti kegelapan pekat.
Namun bukan seperti bayangan sebelumnya.
Ini… lebih nyata.
Lebih padat.
Lebih… hidup.
Matanya terbuka.
Kosong.
Namun menyala merah di dalam kehampaan itu.
Raka membeku.
“Itu…”
Nara gemetar.
“Itu… inti dari gerbang…”
Makhluk itu menatap mereka.
Dan untuk pertama kalinya—
ia berbicara.
“Sudah lama… aku menunggu…”
Suaranya tidak keras.
Namun mengguncang segalanya.
Raka merasa tubuhnya berat.
Seolah dunia ini… menolaknya berdiri.
“Kau…” mata makhluk itu tertuju pada Raka,
“yang membawa kunci…”
Raka menggertakkan giginya.
“Kalau aku kuncinya… berarti aku juga yang bisa menutupmu.”
Makhluk itu diam sejenak.
Lalu—
tersenyum.
Senyum yang tidak seharusnya ada.
“Kau masih berpikir… kau yang mengendalikan semuanya?”
Dalam sekejap—
makhluk itu menghilang.
Dan muncul tepat di depan Raka.
DUAAK!!
Raka terpental keras.
Menghantam permukaan gelap itu.
“Ngh—!”
“Raka!!” teriak Nara.
Ia langsung menyerang.
Cahaya biru meledak.
Namun—
tidak berpengaruh.
Makhluk itu hanya mengangkat tangannya—
dan cahaya itu lenyap.
Seolah tidak pernah ada.
Nara membeku.
“Tidak mungkin…”
Makhluk itu menatapnya sekilas.
“Kau… hanya gangguan kecil.”
Dalam satu gerakan—
Nara terpental.
Jauh.
Tak berdaya.
Raka berusaha bangkit.
Napasnya berat.
Namun matanya tetap tajam.
“Aku tidak peduli siapa kamu…”
Cahaya di tubuhnya menyala.
Putih… dan merah.
Seimbang.
“Selama aku masih berdiri… aku tidak akan membiarkanmu keluar.”
Makhluk itu menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya—
sedikit… tertarik.
“Kau berbeda dari yang lain…”
Ia melangkah mendekat.
“Kau tidak hanya membuka…”
Ia berhenti tepat di depan Raka.
“Kau mencoba menguasai.”
Sunyi.
“Menarik.”
Raka menyerang.
Cahaya besar meledak.
Menghantam makhluk itu.
Namun—
tidak cukup.
Makhluk itu hanya terdorong sedikit.
Lalu—
menangkap tangan Raka.
Kuat.
Tidak bisa dilepaskan.
“Namun… masih terlalu lemah.”
Raka berusaha melawan.
Namun tubuhnya tidak bergerak.
Makhluk itu mendekat.
Sangat dekat.
“Aku akan mengambil kuncinya sekarang.”
Mata Raka membesar.
“Tidak—!”
Tiba-tiba—
cahaya biru kembali muncul.
Nara.
Dengan sisa tenaga—
ia menyerang lagi.
“LEPASKAN DIA!!”
Serangan itu kali ini—
tidak menghancurkan.
Namun cukup—
untuk mengganggu.
Makhluk itu sedikit menoleh.
Raka memanfaatkan celah itu.
Ia menarik tangannya—
dan mundur.
Napasnya terengah.
Namun ia tersenyum kecil.
“Terima kasih…”
Nara tersenyum lemah.
“Jangan mati dulu…”
Makhluk itu menatap mereka berdua.
Kali ini—
tidak tersenyum.
Namun juga tidak marah.
Seperti… menilai.
“Kalian…”
Ia mengangkat tangannya.
Kegelapan di sekitar mulai berkumpul.
“Mungkin… layak untuk diuji.”
Raka bersiap.
Nara juga.
Namun sebelum mereka bergerak—
makhluk itu berkata pelan—
“Aku tidak akan menghancurkan kalian sekarang.”
Mereka terdiam.
“Aku akan membiarkan kalian tumbuh…”
Matanya menyala lebih terang.
“Karena saat aku kembali…”
Suaranya berubah lebih dalam.
“Dunia ini… akan runtuh oleh tangan kalian sendiri.”
Sunyi.
Dan dalam sekejap—
makhluk itu menghilang.
Gerbang perlahan menutup.
Kegelapan mereda.
Dunia kembali sunyi.
Raka jatuh berlutut.
Napasnya berat.
“Itu… apa tadi…”
Nara mendekat perlahan.
Wajahnya pucat.
“Itu bukan sekadar makhluk…”
Ia menatap gerbang yang kini tertutup.
“Itu… bencana.”
Raka mengepalkan tangannya.
Tatapannya serius.
“Kalau dia akan kembali…”
Ia berdiri.
Meski tubuhnya gemetar.
“…maka sebelum itu terjadi…”
Ia menatap Nara.
“Kita harus siap.”
Nara mengangguk.
“Ya.”
Namun di dalam hati mereka—
keduanya tahu.
Ini bukan sekadar pertarungan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan mungkin—
tidak semua dari mereka akan selamat.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar