Sabtu, 04 April 2026

Cerita Romantis ( Kita yang Dipisahkan Semesta ) Eps 4

 

CINCINSLOT Retakan itu terus membesar.

Langit di dalam kamar Aira seolah robek, memperlihatkan kegelapan tak berujung yang berdenyut seperti makhluk hidup. Kilatan energi biru dan hitam saling bertabrakan, menciptakan suara gemuruh yang membuat seluruh ruangan bergetar.

Namun Aira… tidak mundur.

Ia berdiri tepat di depan retakan itu.

Cahaya di tangannya kini menyala terang—bukan lagi liar seperti sebelumnya, tapi stabil… seolah akhirnya tunduk pada kehendaknya.

“Aku tidak akan lari lagi…”

Suara Aira tegas.

Untuk pertama kalinya—ia benar-benar menghadapi takdirnya.

Dari dalam kegelapan, sosok besar mulai terbentuk.

Lebih jelas dari sebelumnya.

Tinggi.

Masif.

Dengan mata putih yang menyala seperti kehampaan itu sendiri.

“Kau… penghubung…”

Suara itu menggema, membuat udara bergetar.

“Kau… adalah kesalahan…”

Aira menatap lurus ke arah makhluk itu.

“Kalau aku kesalahan…” katanya pelan, “kenapa aku masih ada?”

Makhluk itu terdiam sesaat.

Seolah tidak memiliki jawaban.

Atau… tidak mengerti pertanyaan itu.

“Keseimbangan… harus dijaga…”

“Dengan menghancurkan dunia?” Aira menatap tajam. “Atau… dengan menghapusku?”

Makhluk itu tidak menjawab.

Namun kegelapan di sekitarnya mulai bergerak.

Menyerang.

Aira mengangkat tangannya.

Cahaya emas meledak keluar—

DUA ENERGI BERTABRAKAN.

Ledakan besar mengguncang ruang.

Namun kali ini—

Aira tidak terpental.

Ia berdiri.

Menahan.

Mendorong balik.

“Aku bukan kehancuran!” teriaknya. “Aku bukan kesalahan!”

Cahaya di tubuhnya semakin kuat.

Rambutnya terangkat oleh energi yang berputar di sekelilingnya.

Matanya bersinar.

Dan untuk sesaat—

di belakangnya muncul bayangan lain.

Siluet dunia lain.

Langit berbintang.

Tanah kristal.

Dunia Kael.

“Kau… membawa dua dunia…” suara makhluk itu mulai berubah. “Kau… adalah gerbang…”

Aira mengepalkan tangannya.

“Bukan gerbang…”

Ia melangkah maju.

“AKU ADALAH PILIHAN!”

Cahaya meledak lebih besar dari sebelumnya.

Kegelapan itu mulai retak.

Namun—

tiba-tiba, tubuh Aira bergetar.

Cahaya di tangannya tidak stabil.

“A-apa ini…?!”

Energi itu terlalu besar.

Terlalu kuat untuk ditahan sendirian.

Retakan justru semakin melebar.

Makhluk itu tertawa pelan.

“Tubuh manusia… tidak mampu menahan kekuatan itu…”

Aira terjatuh berlutut.

Napasnya berat.

Penglihatannya mulai kabur.

“Tidak… aku belum…”

Ia menggigit bibirnya.

Berusaha bangkit.

Namun tubuhnya menolak.

Dan saat itulah—

cahaya biru muncul lagi.

Lemah.

Namun nyata.

Melindunginya.

Mata Aira membesar.

“Kael…?”

Di tengah cahaya itu—

bayangan Kael muncul.

Tidak sepenuhnya nyata.

Seperti ilusi.

Namun cukup untuk membuat jantung Aira kembali berdetak kuat.

“Kamu… tidak sendirian…” suara Kael terdengar, terputus-putus. “Kekuatan itu… bukan untuk kamu tanggung sendiri…”

Aira menatapnya, air mata jatuh.

“Tapi kamu tidak di sini…”

Kael tersenyum tipis.

“Aku selalu di sini…”

Ia menunjuk ke dada Aira.

“…selama kamu masih percaya.”

Cahaya di tubuh Aira kembali stabil.

Hangat.

Lebih lembut.

Namun lebih kuat.

Seolah kini—

ia tidak lagi sendirian menahannya.

Aira perlahan berdiri.

Mengangkat tangannya.

Cahaya emas dan biru menyatu.

Berputar.

Harmonis.

Makhluk kegelapan itu mundur untuk pertama kalinya.

“Tidak… itu tidak mungkin…”

Aira menatapnya dengan tenang.

“Keseimbangan bukan berarti memisahkan…”

Langkahnya maju.

“Kadang… keseimbangan berarti menyatukan.”

Ia mengarahkan tangannya ke retakan itu.

Cahaya besar meledak—

bukan menghancurkan.

Tapi… menutup.

Perlahan.

Retakan itu mulai menyusut.

Kegelapan tersedot kembali ke dalamnya.

Makhluk itu mencoba melawan—

namun gagal.

“Ini belum berakhir… penghubung…”

Dan dalam satu kilatan terakhir—

retakan itu tertutup.

Sunyi.

Ruangan kembali normal.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Aira berdiri diam.

Napasnya berat.

Namun…

ia tersenyum kecil.

Karena untuk pertama kalinya—

ia menang.

Walau belum sepenuhnya.

Ia menatap tangannya.

Cahaya itu masih ada.

Namun kini terasa… berbeda.

Lebih tenang.

Lebih hidup.

Dan di dalam hatinya—

ia bisa merasakan satu hal.

Kael.

Masih ada.

Belum hilang.

“Aku akan menemukanmu…”

bisiknya pelan.

Karena kini—

ia tahu.

Pertarungan ini bukan hanya tentang bertahan.

Tapi tentang—

menyatukan dua dunia yang selama ini terpisah.

Jalan Menuju Dunia yang Hilang

CINCINSLOT Pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena langit lebih cerah, atau angin lebih lembut—
tapi karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…
Aira merasa punya arah.

Ia berdiri di depan cermin yang dulu pernah retak.
Kini sudah utuh kembali.

Namun pantulannya… tidak lagi sama.

Ada cahaya samar di matanya.
Ada keteguhan yang dulu tidak ada.

“Aku tidak bisa hanya menunggu…” gumamnya pelan.
“Aku harus menemukanmu, Kael.”

Cahaya di telapak tangannya merespon.

Berdenyut pelan.

Seolah setuju.

Malam harinya—

Aira kembali ke danau.

Tempat di mana semuanya dimulai.

Langit dipenuhi bintang, dan air danau memantulkan cahaya bulan dengan tenang.
Namun Aira tahu—di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang tersembunyi.

Ia melangkah mendekat.

“Kalau memang ada jalan…” katanya lirih, “tunjukkan padaku.”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya muncul.

Lebih stabil dari sebelumnya.

Lebih… terkendali.

Perlahan—

permukaan air bergetar.

Riak kecil muncul… lalu membesar.

Seperti dulu.

Namun kali ini—

Aira tidak mundur.

Ia melangkah masuk.

DUNIA BERUBAH.

Air menghilang.

Tanah berubah menjadi cahaya.

Langit menjadi luas… tanpa batas.

Aira kembali berdiri di dunia itu.

Dunia Kael.

Namun…

tidak seperti sebelumnya.

Sunyi.

Kosong.

Bangunan kristal yang dulu bersinar kini redup.
Langit masih dipenuhi bintang… tapi tidak lagi hangat.

Seperti dunia yang… kehilangan sesuatu.

“Kael…?” panggil Aira pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan perlahan.

Setiap langkah terasa berat.

Seolah dunia ini… hampir runtuh.

Tiba-tiba—

suara langkah terdengar.

Aira langsung menoleh.

Dari kejauhan, seseorang muncul.

Namun bukan Kael.

Seorang perempuan.

Rambutnya panjang, berwarna perak, berkilau seperti cahaya bulan.
Matanya tajam… namun menyimpan sesuatu yang dalam.

“Kau… akhirnya datang.”

Aira terdiam.

“Siapa kamu…?”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Aku adalah seseorang yang seharusnya bertemu denganmu sejak lama.”

Ia melangkah mendekat.

“Aku Liora.”

Nama itu terasa asing.

Namun entah kenapa—

juga familiar.

“Aku sudah menunggumu… penghubung.”

Aira menegang.

“Kamu tahu tentang aku?”

Liora mengangguk.

“Lebih dari yang kamu tahu tentang dirimu sendiri.”

Aira mengepalkan tangannya.

“Kalau begitu—katakan padaku di mana Kael!”

Hening sejenak.

Tatapan Liora berubah.

Sedikit… sedih.

“Dia masih ada.”

Jantung Aira berdegup cepat.

“Tapi…”

“Tapi apa?!”

Liora menatap langit.

“Dia bukan lagi dirinya yang dulu.”

Dunia terasa runtuh di dalam dada Aira.

“Apa maksudmu…?”

Liora kembali menatapnya.

“Kekuatan yang kau gunakan untuk menutup retakan…” katanya pelan, “tidak hanya menyelamatkan duniamu.”

Aira mulai gemetar.

“Itu juga… mengorbankan sesuatu di dunia ini.”

“Tidak…” bisik Aira.

“Kael menjadi penjaga terakhir batas dunia.”

Aira membeku.

“Penjaga…?”

“Itu berarti…” suara Liora semakin pelan,
“dia tidak bisa kembali. Tidak bisa pergi. Tidak bisa… hidup seperti sebelumnya.”

Air mata Aira jatuh.

“Tidak… ini salah… aku hanya ingin menyelamatkan semuanya…”

“Dan kamu melakukannya,” jawab Liora lembut. “Tapi setiap keseimbangan… selalu punya harga.”

Aira terdiam.

Dunia terasa terlalu berat untuk dipahami.

“Kalau begitu…” suaranya gemetar, “aku akan mengembalikannya.”

Liora menatapnya.

“Kamu tidak mengerti.”

“Aku tidak peduli!”

Aira mengangkat kepalanya, matanya penuh tekad.

“Aku tidak akan menerima dunia yang menyelamatkan semua orang… tapi kehilangan dia.”

Cahaya di tangannya menyala.

Lebih kuat dari sebelumnya.

“Aku akan menemukan cara.”

Liora tersenyum kecil.

Bukan mengejek.

Tapi… seperti melihat harapan.

“Kalau begitu… kamu harus siap.”

“Siap untuk apa?”

Liora melangkah mendekat.

Matanya menatap dalam.

“Untuk menghancurkan batas yang kamu buat sendiri.”

Aira terdiam.

Dan untuk pertama kalinya—

ia menyadari.

Perjalanannya… baru saja dimulai.








**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar