Sabtu, 04 April 2026

Cerita Romantis ( Kita yang Dipisahkan Semesta ) Eps 3


CINCINSLOT Udara di kamar Aira terasa semakin berat.

Bayangan-bayangan itu kini berdiri di hadapannya—lebih dari satu, lebih dari yang bisa ia hitung. Mata mereka menyala putih, kosong… tanpa perasaan.

Aira mundur perlahan, tangannya masih bersinar.

“Jangan mendekat…” suaranya gemetar.

Namun mereka tidak berhenti.

Langkah mereka tidak terdengar.

Tapi setiap gerakan mereka membuat ruang terasa… tertekan.

Seolah keberadaan mereka saja sudah cukup untuk merusak dunia.

“Target… harus… dihapus…”

Suara itu kembali menggema.

Dingin.

Tanpa belas kasihan.

Aira menggenggam tangannya lebih erat.

Cahaya itu semakin besar, berdenyut kuat seperti jantung kedua di dalam tubuhnya.

“Aku tidak akan… lari lagi…”

Untuk pertama kalinya—

Aira melangkah maju.

Cahaya di tangannya meledak.

WHOOOOSH!

Gelombang energi menyebar ke seluruh ruangan.

Bayangan di depannya terpental, tubuh mereka seperti retak oleh cahaya.

Namun—

mereka tidak hancur.

Mereka bangkit kembali.

Lebih cepat.

Lebih marah.

Aira terkejut. “Kenapa mereka tidak hilang?!”

Salah satu bayangan tiba-tiba muncul tepat di depannya.

Terlalu cepat.

Tangannya yang gelap meraih Aira—

Namun sebelum menyentuh—

Cahaya biru menembus ruang.

“MENJAUH DARINYA!”

Suara itu.

Kael.

Seketika, ruang di depan Aira terbelah.

Kael muncul, dikelilingi energi biru yang berkilau seperti bintang.

Tanpa ragu, ia menarik Aira ke belakangnya.

“Kael…!”

Wajah Kael tegang, matanya fokus pada bayangan-bayangan itu.

“Aku bilang kamu harus lari…” katanya pelan, tapi penuh tekanan.

“Aku tidak bisa terus lari!” balas Aira, hampir menangis. “Mereka akan terus datang!”

Kael terdiam sejenak.

Dan itu berarti… Aira benar.

Bayangan-bayangan itu mulai mengelilingi mereka.

Tidak memberi ruang.

Tidak memberi waktu.

“Kita tidak punya banyak pilihan,” kata Kael cepat.

“Apa maksudmu…?”

Kael menoleh pada Aira.

Tatapannya… berbeda.

Lebih dalam.

Lebih berat.

“Aku harus menutup jalur antara dunia kita.”

Aira membeku.

“Menutup… jalur?”

“Itu satu-satunya cara menghentikan mereka masuk ke duniamu.”

“Lalu… bagaimana dengan kita…?”

Hening.

Itu jawaban yang paling menyakitkan.

Aira menggeleng pelan, air matanya jatuh.

“Tidak… pasti ada cara lain…”

“Aira…” suara Kael melembut, “kalau aku tidak melakukan ini, kamu akan mati.”

“Aku tidak peduli!” teriak Aira.

Semua bayangan berhenti sesaat.

Seolah dunia ikut terdiam.

Aira menatap Kael, matanya basah.

“Aku lebih takut kehilangan kamu… daripada mereka.”

Jantung Kael terasa terhenti.

Untuk sesaat—

ia lupa bagaimana cara bernapas.

Namun bayangan-bayangan itu kembali bergerak.

Mendekat.

Semakin dekat.

Waktu mereka habis.

Kael menggenggam tangan Aira.

Hangat.

Nyata.

“Maafkan aku…”

“Kael, jangan—”

Cahaya biru dan cahaya emas dari tangan Aira menyatu.

Energi besar berputar di sekitar mereka.

Angin berhembus kencang, membuat seluruh ruangan bergetar.

“KAEL!!”

Aira mencoba menahannya.

Namun cahaya itu semakin kuat.

Kael menatapnya untuk terakhir kali.

Dengan senyum kecil yang penuh luka.

“Aku akan selalu menemukanmu… di dunia mana pun.”

BOOM!

Ledakan cahaya memenuhi segalanya.

Bayangan-bayangan itu hancur dalam sekejap.

Dan kemudian—

Sunyi.

Cahaya menghilang.

Kael… juga menghilang.

Aira terjatuh ke lantai.

Tangannya kosong.

Tidak ada lagi kehangatan itu.

Tidak ada lagi cahaya biru.

“Aku… sendirian…?”

Air matanya jatuh tanpa henti.

Namun di telapak tangannya—

cahaya kecil itu masih ada.

Lebih redup.

Namun belum padam.

Seolah menyimpan satu janji—

bahwa ini belum benar-benar berakhir.

Janji di Ujung Kehilangan

CINCINSLOT Malam kembali turun.

Namun kali ini, dunia terasa… kosong.

Aira duduk di tepi tempat tidurnya, menatap telapak tangannya yang kini hanya menyisakan cahaya kecil—redup, hampir padam.

Tidak ada lagi suara Kael.

Tidak ada lagi kehangatan itu.

Hanya sunyi.

Dan kehilangan.

“Kenapa… harus seperti ini…” bisiknya pelan.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—Aira merasa benar-benar sendiri.

Hari-hari berlalu.

Seminggu.

Dua minggu.

Tidak ada lagi bayangan hitam.

Tidak ada lagi retakan dunia.

Semuanya… kembali normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu yang terasa aneh.

Aira berjalan seperti biasa. Tersenyum seperti biasa. Berbicara seperti biasa.

Namun hatinya…

tidak pernah kembali.

Ia sering kembali ke danau tempat pertama kali bertemu Kael.

Duduk diam.

Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.

“Aku di sini…” bisiknya suatu sore. “Kalau kamu bisa dengar… aku masih di sini.”

Angin hanya berhembus pelan.

Tidak ada jawaban.

Hingga suatu malam—

sesuatu berubah.

Aira terbangun tiba-tiba.

Jantungnya berdegup kencang.

Cahaya di tangannya… menyala lagi.

Lebih terang dari sebelumnya.

“Apa ini…?”

Tiba-tiba, udara di sekitarnya bergetar.

Sama seperti saat pertama kali semuanya dimulai.

Namun kali ini—

lebih kuat.

Lebih tidak stabil.

Di depan Aira—

ruang mulai retak.

Bukan seperti cermin.

Tapi seperti… langit yang robek.

“Apa… jalurnya belum tertutup…?”

Dari dalam retakan itu—

muncul cahaya biru.

Lemah.

Bergetar.

Namun sangat familiar.

Napas Aira tercekat.

“Kael…?”

Ia melangkah mendekat, tangannya gemetar.

“Kael… itu kamu…?”

Cahaya itu berdenyut pelan.

Seolah mencoba menjawab.

Namun bersamaan dengan itu—

retakan tersebut mulai melebar.

Dan sesuatu yang lain ikut muncul.

Bukan Kael.

Melainkan—

kegelapan yang lebih besar dari sebelumnya.

Aura dingin langsung menyelimuti ruangan.

Lebih berat.

Lebih menekan.

Lebih… berbahaya.

Aira mundur, tubuhnya gemetar.

“Tidak… bukan lagi mereka…”

Dari dalam retakan itu, terdengar suara yang berbeda.

Lebih dalam.

Lebih kuat.

Lebih… mengerikan.

“Penghubung… telah bangkit…”

Aira membeku.

“Dunia… harus… disatukan… atau dimusnahkan…”

Jantungnya terasa berhenti.

“Disatukan…?”

Tiba-tiba—

cahaya biru itu bergerak.

Cepat.

Melindungi Aira dari kegelapan yang merayap keluar.

Seperti perisai.

Dan untuk sesaat—

Aira mendengar suara itu lagi.

Lemah.

Namun jelas.

“Aira… lari…”

Air mata langsung jatuh dari mata Aira.

“Itu kamu… Kael… itu kamu kan?!”

Cahaya itu bergetar.

Seolah menjawab.

Namun retakan semakin membesar.

Kegelapan mulai menelan cahaya biru itu.

“Aira…” suara Kael semakin samar, “kali ini… kamu harus… menyelamatkan… kita berdua…”

“Aku?! Bagaimana caranya?!”

Tidak ada jawaban.

Cahaya itu mulai padam.

“KAEL!!”

Aira mengulurkan tangannya—

namun terlambat.

Cahaya biru itu menghilang.

Digantikan oleh kegelapan yang semakin mendekat.

Namun kali ini—

Aira tidak mundur.

Air matanya berhenti.

Tatapannya berubah.

Lebih kuat.

Lebih tegas.

Jika sebelumnya ia hanya bertahan—

kali ini…

ia akan melawan.

“Aku tidak akan kehilanganmu lagi…”

Cahaya di tangannya menyala terang.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih stabil.

Seolah akhirnya—

ia mulai mengendalikan kekuatannya.

“Kalau semesta ingin memisahkan kita…”

Aira melangkah maju, menghadapi retakan itu.

“Maka aku yang akan melawannya.”

Kegelapan bergerak.

Menyambutnya.

Namun Aira tidak lagi takut.

Karena kini—

ia bukan hanya seseorang yang terpisah oleh dunia.

Ia adalah—

penghubung yang akan menentukan takdir keduanya.










**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š..


                    

๐Ÿ‘‰ Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar