Api yang Tak Bisa Dipadamkan
CINCINSLOT - Sisa cahaya gerhana masih menggantung di langit ketika tanah hutan terbelah.
Dari retakan itu muncul aura gelap — energi kuno yang telah lama tersegel. Dewan Vampir mundur beberapa langkah. Bahkan pemimpin mereka tak mampu menyembunyikan kegelisahan.
“Ramalan itu benar…” bisiknya.
“Darah Bulan telah terbangun.”
Laras terjatuh berlutut. Energi merah berputar liar di sekelilingnya, membentuk lingkaran cahaya yang membakar tanah tanpa api.
Arsen memeluknya dari belakang.
“Laras, dengarkan suaraku. Kau masih dirimu.”
Namun di dalam pikirannya, Laras mendengar bisikan lain.
Hancurkan mereka. Akhiri ketidakadilan. Bangun dunia baru.
Nafasnya memburu. Matanya bersinar merah terang.
Tiba-tiba salah satu anggota Dewan menyerang lebih dulu, melesat cepat dengan taring terbuka.
Arsen bereaksi secepat kilat — menahan serangan itu dan membantingnya ke tanah. Hutan bergemuruh. Pertempuran pun meledak.
Vampir melawan vampir.
Cahaya merah melawan bayangan kelam.
Laras berdiri perlahan. Tangannya terangkat, dan energi di sekelilingnya berubah menjadi gelombang kuat yang memaksa semua orang berhenti bergerak.
“Cukup!” teriaknya.
Suaranya menggema bukan hanya di telinga — tapi di dalam dada setiap makhluk di sana.
Ia menatap Dewan satu per satu.
“Kalian hidup berabad-abad dalam ketakutan. Kalian melarang cinta. Kalian menciptakan musuh dari manusia karena takut kehilangan kekuasaan.”
Pemimpin Dewan menyipitkan mata.
“Dan kau pikir bisa mengubah hukum yang telah ada sejak darah pertama ditumpahkan?”
Laras melangkah maju.
“Aku bukan ingin menghancurkan kalian… tapi aku tidak akan tunduk.”
Energi Darah Bulan membentuk simbol bercahaya di udara — lambang perjanjian baru.
Tiba-tiba salah satu vampir Dewan berlutut.
“Aku… merasakan kekuatan leluhur dalam dirinya.”
Satu per satu, dua anggota lainnya ikut berlutut.
Pemimpin Dewan terdiam lama. Lalu dengan suara berat ia berkata,
“Jika kau memilih jalan ini… maka kau akan memimpin. Tapi jika kau gagal, perang antara manusia dan vampir akan meledak lebih hebat dari sebelumnya.”
Hutan kembali hening.
Arsen menatap Laras dengan bangga — dan sedikit khawatir.
“Ini jalanmu sekarang,” bisiknya.
Laras menggenggam tangannya erat.
“Tidak. Ini jalan kita.”
Di bawah langit yang mulai kembali terang, Laras resmi menjadi simbol baru bagi dunia vampir — bukan sebagai ratu yang menakutkan… tetapi sebagai jembatan antara dua dunia.
Namun jauh di balik bayangan pepohonan, seorang sosok tak dikenal menyaksikan semuanya.
Matanya dingin.
“Biarkan mereka merayakan,” gumamnya.
“Revolusi sejati baru saja dimulai.”
Mahkota yang Berdarah
CINCINSLOT - Kabut pagi belum sepenuhnya turun ketika seluruh vampir dari wilayah utara berkumpul di Hutan Hitam.
Di tengah lingkaran batu kuno, Laras berdiri mengenakan gaun gelap yang menjuntai seperti bayangan malam. Rambutnya tergerai, simbol Darah Bulan di pergelangan tangannya masih bersinar samar.
Hari itu bukan sekadar pertemuan.
Hari itu adalah penobatan.
Pemimpin Dewan melangkah maju membawa sebuah mahkota perak tua — bukan mahkota emas penuh kemewahan, melainkan lingkaran logam dingin dengan batu merah di tengahnya.
“Sejak perjanjian darah pertama,” ucapnya berat,
“tidak pernah ada hibrida yang memimpin. Kau adalah yang pertama.”
Arsen berdiri di sisi Laras, tidak sebagai raja — tetapi sebagai penjaga, sebagai cinta, sebagai kekuatan yang tidak terlihat namun tak tergantikan.
Mahkota diletakkan perlahan di kepala Laras.
Begitu menyentuh rambutnya—
Energi meledak.
Langit berubah kelam sesaat. Tanah bergetar. Semua vampir berlutut, bukan karena perintah, tetapi karena dorongan kekuatan yang tak bisa ditahan.
Namun Laras terengah.
Di dalam dirinya, dua sisi bertarung.
Sisi manusianya berteriak ketakutan.
Sisi vampirnya menikmati kekuasaan itu.
Ia melihat kilasan masa depan — peperangan, darah, desa yang terbakar… dan Arsen terbaring tak bergerak.
“Tidak…” bisiknya.
Arsen menangkap tubuhnya sebelum ia jatuh.
“Apa yang kau lihat?”
Laras menatapnya dengan mata yang kini bercahaya lebih dalam dari sebelumnya.
“Takdir… ingin mengambil sesuatu dariku.”
Sementara para vampir bersorak menyambut ratu baru mereka, Laras merasakan sesuatu yang berbeda.
Denyut jantungnya — yang dulu masih terasa samar seperti manusia — kini hampir hilang.
Ia menyentuh dadanya.
Sunyi.
Arsen menyadarinya.
“Kau masih Laras,” katanya tegas. “Mahkota itu tidak mengubah siapa dirimu.”
Namun dari kejauhan, sosok misterius yang mengawasi sejak malam gerhana tersenyum tipis.
“Semakin besar kekuatannya… semakin mudah ia kehilangan dirinya.”
Malam itu, Laras resmi menjadi Ratu Vampir.
Tapi dalam bayangannya sendiri, ia mulai bertanya—
Apakah mahkota itu hadiah… atau kutukan?
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar