Bayangan yang Membelah Hati
CINCINSLOT - Malam pertama setelah penobatan terasa berbeda.
Istana batu kuno yang kini menjadi kediaman Laras sunyi, namun sunyi itu terasa berat. Lilin-lilin menyala redup di sepanjang lorong, memantulkan bayangan mahkota perak di dinding.
Laras berdiri sendirian di balkon tinggi, memandang hutan yang luas.
Ia bisa mendengar semuanya sekarang.
Detak jantung rusa di kejauhan.
Bisikan angin di sela daun.
Bahkan denyut darah manusia dari desa yang berjarak bermil-mil.
Kekuatan itu… terlalu jelas.
Arsen muncul di belakangnya.
“Kau belum beristirahat.”
“Aku tidak bisa,” jawab Laras pelan. “Semua suara ini… terlalu keras.”
Tiba-tiba ia terdiam. Matanya menyala merah pekat.
Dari arah desa, ia merasakan sesuatu — ketakutan. Kepanikan. Jeritan.
Tanpa menunggu, Laras menghilang dalam bayangan.
Arsen mengikutinya.
Di tepi desa, sekelompok vampir liar menyerang sebuah rumah. Mereka bukan bagian dari Dewan — mereka vampir yang menolak aturan.
Seorang pria manusia terjatuh, lehernya hampir digigit.
Laras mendarat di depan mereka.
“Berhenti.”
Suaranya tenang… namun penuh tekanan.
Salah satu vampir liar tertawa.
“Ratu baru datang sendiri? Kau pikir kami akan tunduk?”
Ia menyerang cepat.
Dalam satu gerakan, Laras menangkapnya di udara. Matanya bertemu dengan mata vampir itu — dan untuk sepersekian detik, naluri gelapnya bangkit.
Darah.
Aroma hangat.
Dorongan untuk menggigit.
Taringnya memanjang tanpa ia sadari.
Arsen berteriak, “Laras!”
Suara itu memecah kabut dalam pikirannya.
Namun sudah terlambat.
Ia menjatuhkan vampir liar itu — tapi bukan sebelum darahnya menyentuh bibir Laras.
Dunia terasa hening.
Rasanya… manis. Menggoda. Kuat.
Laras terhuyung mundur.
“Apa yang baru saja kulakukan…”
Arsen mendekat perlahan. Tidak marah. Tidak takut.
Hanya cemas.
“Itu nalurimu. Tapi kau berhenti. Itu yang penting.”
Namun dari balik pepohonan, sosok misterius yang selama ini mengawasi tersenyum tipis.
“Benihnya sudah tumbuh.”
Angin berputar. Bayangan gelap muncul di belakang Laras — bukan bayangan tubuhnya, tapi bentuk lain, lebih tinggi, lebih menyeramkan.
Bisikan terdengar lagi dalam pikirannya.
Ratu tidak boleh lemah.
Ratu harus ditakuti.
Laras memejamkan mata, mencoba menahan sisi yang semakin kuat itu.
Arsen menggenggam tangannya.
“Kalau kau jatuh ke dalam gelap… aku akan menarikmu kembali. Apa pun yang terjadi.”
Laras membuka mata. Untuk sesaat, merahnya meredup.
Tapi jauh di dalam dirinya, pertarungan belum selesai.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya…
Ratu Vampir takut pada dirinya sendiri.
Wajah di Balik Kegelapan
CINCINSLOT - Hutan masih dipenuhi aroma darah ketika Laras berdiri terpaku.
Angin malam berembus lebih dingin dari biasanya. Bahkan para vampir liar yang tersisa memilih mundur tanpa perlawanan. Mereka merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada ratu baru mereka.
Sosok itu akhirnya melangkah keluar dari bayangan.
Tinggi. Pucat. Rambutnya putih keperakan, matanya hitam tanpa cahaya. Aura di sekelilingnya tidak seperti vampir biasa — lebih tua… lebih pekat… lebih dingin.
Arsen langsung berdiri di depan Laras.
“Aku tahu siapa kau,” gumamnya pelan.
“Valthera.”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Sudah lama sekali tak ada yang menyebut namaku.”
Laras mengernyit.
“Siapa dia?”
Arsen menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
“Vampir pertama yang menolak perjanjian damai dengan manusia. Ia menghilang ratusan tahun lalu… setelah mencoba memulai perang besar.”
Valthera menatap Laras dengan minat yang aneh.
“Aku tidak hilang. Aku menunggu.”
“Menunggu apa?” tanya Laras tegas.
“Menunggu dirimu.”
Udara terasa menekan. Tanah di sekitar mereka membeku perlahan.
“Kau bukan kesalahan, Laras,” lanjut Valthera. “Kau adalah evolusi. Vampir yang tak lagi terikat hukum lama. Dengan kekuatanmu… kita bisa menghancurkan batas antara dua dunia.”
“Aku tidak ingin perang,” jawab Laras.
Valthera tertawa lirih.
“Kau sudah memulainya sejak menerima mahkota itu.”
Tiba-tiba bayangan di belakang Laras bergerak sendiri, membentuk siluet yang sama dengan milik Valthera.
Arsen menyadari sesuatu.
“Dia terhubung dengan sisi gelapmu…”
Valthera mengangguk pelan.
“Darah Bulan tidak hanya memberi kekuatan. Ia membuka gerbang bagi darah purba — darahku.”
Jantung Laras terasa sesak, meski hampir tak lagi berdetak.
“Kau… bagian dariku?”
“Bukan,” bisik Valthera.
“Aku adalah masa depanmu, jika kau berhenti menahan diri.”
Dalam sekejap, Valthera melesat dan menyerang Arsen.
Arsen terpental keras menghantam batang pohon. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Arsen!” teriak Laras.
Sesuatu dalam dirinya retak.
Energi merah meledak keluar tanpa kendali. Tanah retak, pohon-pohon roboh. Matanya menyala terang seperti api neraka.
Valthera tersenyum puas.
“Itu dia. Ratu yang seharusnya.”
Laras menyerang balik dengan kekuatan penuh. Benturan energi mereka mengguncang seluruh hutan.
Namun di tengah amarahnya, ia melihat Arsen terbaring lemah.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar—
Jika ia kehilangan kendali… bukan hanya musuhnya yang akan hancur.
Tapi juga orang yang paling ia cintai.
Valthera menghilang dalam pusaran bayangan.
“Latih kekuatanmu, Ratu,” suaranya menggema.
“Karena saat kita bertemu lagi… kau harus memilih.”
Hutan kembali sunyi.
Laras berlutut di sisi Arsen, memeluknya dengan tangan gemetar.
“Aku hampir… kehilangan diriku,” bisiknya.
Arsen tersenyum lemah.
“Selama kau masih takut kehilangan dirimu… kau belum benar-benar hilang.”
Namun jauh di dalam hati Laras, ia tahu—
Pertarungan berikutnya bukan hanya melawan Valthera.
Tapi melawan darahnya sendiri.
**** Bersambung****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar