CINCINSLOT - Langit sore itu berwarna ungu keemasan, seolah semesta sedang melukis sesuatu yang tak biasa. Aira berdiri di tepi danau, tempat yang selalu ia datangi setiap kali dunia terasa terlalu sunyi. Angin berhembus lembut, membawa bisikan yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Sejak kecil, Aira sering merasa… berbeda. Ia kerap bermimpi tentang tempat asing—langit tanpa matahari, bintang-bintang yang bersinar terlalu dekat, dan sosok seseorang yang selalu berdiri di kejauhan, menatapnya dengan mata penuh kerinduan.
Hari itu, sesuatu berubah.
Air danau yang biasanya tenang tiba-tiba bergetar. Riaknya membentuk lingkaran, seakan membuka jalan menuju sesuatu yang tak terlihat. Aira mundur selangkah, jantungnya berdegup cepat.
“Ini… apa?”
Tiba-tiba, cahaya muncul dari tengah danau. Terang, namun tidak menyilaukan. Dari dalam cahaya itu, perlahan muncul sosok seorang pria.
Aira terpaku.
Pria itu berdiri di atas permukaan air, seolah hukum dunia tak berlaku baginya. Rambutnya hitam pekat, sedikit berkilau di bawah cahaya aneh itu. Matanya… bukan seperti manusia biasa. Ada sesuatu yang dalam, luas, dan tak terjangkau.
Mereka saling menatap.
Waktu seolah berhenti.
“Akhirnya…” suara pria itu lirih, hampir seperti bisikan angin. “Aku menemukanmu.”
Aira mengerutkan kening, tubuhnya gemetar. “Siapa… kamu?”
Pria itu melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat riak cahaya di air, seperti ia berasal dari dunia yang berbeda.
“Aku Kael.”
Nama itu terasa asing, tapi anehnya… juga familiar.
“Dan kamu,” lanjutnya, menatap Aira dengan tatapan yang membuat dadanya terasa sesak, “adalah seseorang yang tidak seharusnya ada di dunia ini.”
Aira tersentak. “Apa maksudmu?!”
Namun sebelum Kael menjawab, langit tiba-tiba berubah.
Awan bergerak cepat, membentuk pusaran gelap. Angin bertiup kencang, membawa suara seperti retakan—seolah semesta sedang marah.
Wajah Kael berubah serius.
“Mereka menemukanku…”
“Mereka?” Aira semakin bingung.
Tanpa peringatan, cahaya di sekitar Kael mulai meredup. Tubuhnya perlahan memudar.
“Aira, dengarkan aku,” katanya cepat, suaranya mulai terputus-putus. “Kita berasal dari dua dunia yang tidak boleh bersatu. Tapi takdir… telah melanggar aturan itu.”
Aira melangkah maju tanpa sadar. “Tunggu! Jangan pergi! Jelaskan semuanya!”
Kael mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh Aira. Namun ada jarak tak terlihat yang memisahkan mereka.
“Jika kita bertemu lagi… itu berarti semesta sudah mulai runtuh.”
Cahaya itu pecah.
Dan dalam sekejap, Kael menghilang.
Danau kembali tenang.
Langit kembali seperti semula.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun hati Aira tidak bisa kembali seperti sebelumnya.
Ia berdiri di sana, dengan satu pertanyaan yang terus bergema di pikirannya—
Siapa sebenarnya Kael… dan kenapa rasanya aku telah kehilangan seseorang yang bahkan baru saja kutemui?
Suara dari Dunia yang Retak
CINCINSLOT - Malam itu, Aira tidak bisa tidur.
Bayangan tentang Kael terus berputar di kepalanya—tatapannya, suaranya, dan kata-kata terakhirnya yang terasa seperti peringatan… sekaligus perpisahan.
“Jika kita bertemu lagi… itu berarti semesta sudah mulai runtuh.”
“Apa maksudnya itu…” gumam Aira pelan, memeluk lututnya di atas tempat tidur.
Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari.
Tiba-tiba—
duk… duk… duk…
Aira terdiam.
Suara itu bukan berasal dari luar… melainkan dari dalam kamarnya.
Ia menoleh perlahan ke arah cermin di sudut ruangan.
Pantulannya tampak biasa.
Namun beberapa detik kemudian, bayangan di cermin itu… terlambat bergerak.
Aira membeku.
“Tidak… ini tidak mungkin…”
Pantulan dirinya di cermin perlahan mengangkat kepala—padahal Aira tidak bergerak sama sekali.
Lalu—
Mata di dalam cermin itu berubah.
Bukan lagi miliknya.
Warna gelapnya berganti menjadi kilau asing yang dalam… sama seperti mata Kael.
“Aira…”
Suara itu terdengar, tapi tidak berasal dari mana pun—atau mungkin… dari mana saja.
Napas Aira tercekat. “Kael?!”
Cermin itu bergetar pelan, seakan menjadi batas tipis antara dua dunia.
“Aku tidak punya banyak waktu,” suara Kael terdengar samar, terdistorsi seperti terhalang sesuatu. “Dunia kita… mulai saling bertabrakan.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa kamu bilang aku tidak seharusnya ada di sini?!”
Hening sejenak.
Lalu suara Kael kembali, lebih berat.
“Karena kamu… bukan sepenuhnya milik dunia itu, Aira.”
Jantung Aira terasa berhenti.
“Apa maksudmu…?”
Tiba-tiba, bayangan di cermin itu berubah.
Bukan lagi kamar Aira.
Melainkan sebuah tempat asing—langit gelap tanpa matahari, dipenuhi bintang yang sangat dekat, hampir bisa disentuh. Tanahnya berpendar seperti kristal, dan di kejauhan terlihat bangunan-bangunan tinggi yang melayang di udara.
Aira tertegun.
“Aku pernah… melihat tempat ini dalam mimpiku…”
“Itu bukan mimpi,” jawab Kael pelan. “Itu ingatan.”
“Ingatan…?”
“Dunia itu adalah tempat asalmu.”
Seolah dunia runtuh di dalam dada Aira.
“Tidak… itu tidak mungkin. Aku hidup di sini sejak kecil. Aku punya keluarga, punya kehidupan—”
“Tapi hatimu tidak pernah benar-benar merasa utuh, bukan?” potong Kael lembut.
Aira terdiam.
Kata-kata itu… benar.
Selalu ada rasa kosong yang tidak bisa ia jelaskan.
Seperti ada bagian dari dirinya yang hilang.
“Aira, dengarkan aku baik-baik,” suara Kael semakin melemah. “Ada kekuatan di dalam dirimu yang mulai bangkit. Itu yang membuat batas antar dunia retak.”
“Dan jika itu terus terjadi… kedua dunia akan hancur.”
Air mata mulai menggenang di mata Aira. “Lalu… apa yang harus aku lakukan?”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Kael terlihat ragu.
“Kamu harus memilih.”
“Memilih…?”
“Dunia tempat kamu tinggal sekarang…” suaranya bergetar, “atau dunia tempat kamu berasal.”
Aira menggeleng pelan. “Aku… tidak mengerti…”
Cermin mulai retak.
Garis-garis halus menyebar, seperti luka yang tak bisa disembuhkan.
“Aku akan mencarimu lagi,” kata Kael cepat. “Apa pun yang terjadi.”
“Kael, tunggu—!”
CRAAK!
Cermin itu pecah.
Pantulannya kembali normal.
Sunyi.
Tidak ada Kael.
Tidak ada dunia lain.
Hanya Aira… yang kini berdiri di antara dua kenyataan.
Ia menatap pecahan cermin di lantai, napasnya tidak teratur.
“Memilih…?”
Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasakan sesuatu berdenyut dari dalam dirinya.
Cahaya kecil… yang perlahan mulai bersinar.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar