CINCINSLOT - Langit Aetherion kembali berguncang.
Retakan besar itu kini menjadi gerbang terbuka.
Dan dari dalamnya—
entitas dunia ketiga sepenuhnya muncul.
Bentuknya tidak lagi samar.
Kini jelas.
Raksasa.
Tubuhnya seperti gabungan cahaya, kegelapan, dan kehampaan.
Matanya bersinar ungu dingin.
Menatap langsung ke arah Aruna.
“Jadi… kau adalah hasil dari kegagalan yang diperbaiki…”
Suaranya menggema ke seluruh dunia.
Di tanah, para penjaga mundur perlahan.
Aura makhluk itu terlalu besar.
Bahkan udara terasa seperti akan hancur.
Namun di tengah semua itu—
Aruna melayang tenang.
Aura tiga warna mengelilinginya.
Emas.
Hitam.
Dan ungu.
Ia menatap makhluk itu tanpa rasa takut.
“Aku bukan kegagalan.”
“Dan aku juga bukan perbaikan.”
Ia mengangkat tangannya.
“Aku adalah keseimbangan baru.”
Makhluk itu tertawa.
Suara berat yang mengguncang langit.
“Keseimbangan?”
“Itu hanya ilusi yang diciptakan oleh yang lemah.”
Tiba-tiba—
ia mengangkat tangannya.
Energi besar terkumpul.
Dan dalam sekejap—
BOOOOOM!!!
Serangan pertama dilepaskan.
Gelombang energi raksasa menuju Aruna.
Ravian berteriak—
“ARUNA!!”
Namun Aruna tidak bergerak.
Ia hanya mengangkat tangannya.
Dan—
WOOOOSH!
Energi itu berhenti.
Tertahan di depannya.
Bergetar.
Lalu—
perlahan menghilang.
Semua terdiam.
Makhluk itu menyipitkan matanya.
“Menarik…”
Ia melesat maju.
Kecepatannya luar biasa.
Dalam sekejap—
ia sudah di depan Aruna.
Serangan bertubi-tubi dilepaskan.
Cahaya.
Kegelapan.
Distorsi ruang.
Namun Aruna bergerak ringan.
Menghindar.
Menahan.
Menyeimbangkan.
Setiap serangan yang datang—
tidak ia hancurkan.
Melainkan ia ubah.
Menjadi netral.
Di bawah, Ravian menatap tak percaya.
“Dia… bahkan tidak menyerang balik…”
Elyndra menjawab pelan—
“Itulah kekuatan sejati seorang penyeimbang.”
Namun—
pertarungan belum selesai.
Makhluk itu mulai berubah.
Tubuhnya membesar.
Energinya meningkat drastis.
Langit kembali retak.
“Kalau kau tidak menghancurkan…”
“…maka aku yang akan menghancurkan semuanya!”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Energi raksasa terbentuk.
Lebih besar dari sebelumnya.
Menelan hampir seluruh langit.
Aruna menatapnya.
Tenang.
Namun kali ini—
ia tidak hanya bertahan.
Ia menutup matanya.
Menarik napas dalam.
Dan mengangkat kedua tangannya.
“Kalau kau adalah kehancuran…”
Matanya terbuka.
Cahaya tiga warna bersinar lebih terang.
“…maka aku adalah batasnya.”
CLAAAAASH!!!
Dua kekuatan bertabrakan.
Ledakan besar terjadi.
Langit pecah.
Tanah retak.
Seluruh Aetherion terguncang.
Namun di tengah benturan itu—
Aruna tetap berdiri.
Tidak mundur.
Tidak goyah.
Makhluk itu mulai terdorong.
Untuk pertama kalinya—
ia terlihat goyah.
“Ini… tidak mungkin…”
Aruna melangkah maju.
Perlahan.
Namun pasti.
“Selama ada keseimbangan…”
“…kau tidak akan pernah menang.”
Ia mengulurkan tangannya—
langsung ke arah inti makhluk itu.
Makhluk itu mencoba melawan.
Namun energinya mulai tidak stabil.
Di bawah—
Ravian mengepalkan tangannya.
“Ini… kesempatan…”
Elyndra mengangguk.
“Ini akhir dari segalanya.”
Di langit—
Aruna hampir menyentuh inti makhluk itu.
Namun sebelum itu terjadi—
makhluk itu berbicara sekali lagi.
“Jika aku hilang…”
“…dunia ketiga akan benar-benar lenyap.”
Aruna terdiam.
“Dan bersama itu…”
“…bagian dari dirimu juga akan ikut hilang.”
Hening.
Untuk pertama kalinya—
Aruna ragu.
Namun di bawah—
Ravian berteriak.
“ARUNA!”
Aruna menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan dalam tatapan itu—
ada satu hal yang jelas.
kepercayaan.
Aruna tersenyum kecil.
Lalu kembali menatap makhluk itu.
“Aku tidak akan menghapusmu…”
Ia mengulurkan tangannya lebih jauh.
“…aku akan menyelamatkanmu.”
Cahaya besar kembali muncul.
Lebih lembut.
Namun lebih kuat.
Dan untuk pertama kalinya—
makhluk itu tidak melawan.
Cahaya yang Abadi
CINCINSLOT - Langit Aetherion menjadi saksi akhir dari segalanya.
Di tengah retakan dunia—
Aruna dan entitas dunia ketiga saling berhadapan.
Namun kali ini…
tidak ada amarah.
Tidak ada kehancuran.
Hanya… keheningan.
Tangan Aruna akhirnya menyentuh inti makhluk itu.
SENTUH.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada benturan.
Yang ada—
hanya cahaya yang perlahan menyebar.
Makhluk itu terdiam.
Matanya yang dingin mulai bergetar.
“Apa… yang kau lakukan…?”
Aruna menatapnya lembut.
“Aku tidak datang untuk menghancurkanmu.”
“Dan juga bukan untuk menghapusmu.”
Cahaya dari tangannya semakin dalam.
Lebih hangat.
“Aku datang… untuk mengembalikanmu.”
Dalam sekejap—
semuanya berubah.
Aruna melihat kembali dunia ketiga.
Namun kali ini—
bukan dalam kehancuran.
Melainkan seperti dulu.
Utuh.
Seimbang.
Cahaya dan kegelapan hidup berdampingan.
Tenang.
Damai.
Makhluk itu gemetar.
“Ini… dunia kami…”
Suaranya berubah.
Tidak lagi dingin.
Namun… rapuh.
Aruna tersenyum tipis.
“Kau bukan kehancuran.”
“Kau hanya… kehilangan tempatmu.”
Air mata jatuh dari wajah makhluk itu—
jika itu bisa disebut air mata.
Energinya mulai berubah.
Tidak lagi liar.
Tidak lagi merusak.
Di dunia nyata—
retakan di langit mulai menutup.
Perlahan.
Makhluk-makhluk celah menghilang satu per satu.
Seolah kembali ke tempat asalnya.
Ravian menatap ke atas dengan napas tertahan.
“Dia… benar-benar melakukannya…”
Elyndra menutup matanya sejenak.
“Keseimbangan… akhirnya tercapai…”
Di langit—
tubuh makhluk itu mulai larut menjadi cahaya.
Namun sebelum menghilang—
ia menatap Aruna.
“Terima kasih… Pewaris…”
Dan untuk pertama kalinya—
ia tersenyum.
Lalu—
menghilang.
Cahaya menyelimuti seluruh langit.
Retakan itu akhirnya—
tertutup sepenuhnya.
Langit kembali utuh.
Lebih indah dari sebelumnya.
Namun—
tubuh Aruna mulai melemah.
Cahaya di sekitarnya perlahan memudar.
“Aruna…?” bisik Ravian.
Ia berlari.
Menangkap Aruna saat tubuhnya jatuh.
“Aruna! Bangun!”
Aruna membuka matanya perlahan.
Lemah.
Namun tersenyum.
“Sudah… selesai…”
Air mata jatuh dari mata Ravian.
“Iya… tapi kau… kenapa…?”
Aruna menatap langit.
Cahaya kecil masih berpendar di sekitarnya.
“Keseimbangan… membutuhkan penjaga…”
Ravian membeku.
“Jangan bilang kau—”
Aruna menatapnya.
Lembut.
“Aku tidak pergi…”
“aku hanya… berada di antara.”
Tubuh Aruna mulai berubah menjadi cahaya.
Perlahan.
Seperti partikel yang terbang ke langit.
Ravian menggenggam tangannya erat.
“Jangan… tinggalkan aku…”
Aruna tersenyum.
“Selama dua dunia masih ada…”
“…aku juga akan selalu ada.”
Cahaya semakin terang.
Dan perlahan—
Aruna menghilang.
Menyatu dengan langit.
Hening.
Angin berhembus pelan.
Langit Aetherion kini bersinar damai.
Lebih hangat.
Lebih hidup.
Beberapa waktu kemudian…
Kota kembali pulih.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
Namun semuanya tahu—
ada sesuatu yang berubah.
Di sebuah bukit—
Ravian berdiri sendirian.
Menatap langit.
“Aku harap… kau bisa melihat ini…”
Angin berhembus.
Cahaya kecil turun dari langit.
Menyentuh tangannya.
Ravian tersenyum.
“Ya… aku tahu…”
Di antara dua dunia—
di tempat yang tak terlihat—
cahaya itu masih ada.
Menjaga.
Mengawasi.
Menyeimbangkan.
Karena—
Pewaris dari Dua Alam… tidak pernah benar-benar pergi.
**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar