CINCINSLOT - Cahaya menyelimuti segalanya.
Tidak ada suara.
Tidak ada waktu.
Hanya Aruna… dan tiga jalan di hadapannya.
Satu bersinar keemasan.
Satu diselimuti kegelapan.
Dan satu lagi… retak, berdenyut dengan cahaya ungu keperakan.
Aruna menatap ketiganya dengan napas perlahan.
“Ini… pilihan?”
Suara itu kembali muncul.
Namun kali ini—
lebih jelas.
Lebih tenang.
“Ini adalah asal dari segalanya.”
Di hadapannya, muncul sosok.
Bukan makhluk celah.
Bukan penjaga.
Melainkan sesuatu yang lebih tua.
Lebih kuno.
Bentuknya seperti bayangan cahaya yang terus berubah.
“Apa kau… pencipta dunia itu?” tanya Aruna.
Sosok itu menjawab—
“Kami bukan pencipta.”
“Kami adalah penjaga keseimbangan pertama.”
Aruna membeku.
“Pertama…?”
Sosok itu mengangkat tangannya.
Dan dalam sekejap—
bayangan masa lalu muncul di sekeliling Aruna.
Dahulu…
hanya ada satu dunia.
Satu keseimbangan sempurna.
Tidak ada terang.
Tidak ada gelap.
Hanya harmoni.
Namun—
makhluk di dalamnya mulai berubah.
Mereka menginginkan lebih.
Lebih terang.
Lebih kuat.
Lebih hidup.
Dan dari keinginan itu—
lahirlah perpecahan.
Dunia terbagi menjadi dua:
Alam Cahaya
dan
Alam Kegelapan
Awalnya… seimbang.
Namun perlahan—
keseimbangan itu goyah.
Untuk memperbaikinya—
para penjaga menciptakan dunia ketiga.
Alam Penyeimbang.
Tempat di mana cahaya dan kegelapan menyatu.
Namun—
eksperimen itu gagal.
Energi tidak stabil.
Dunia ketiga runtuh.
Dan hampir menghancurkan dua dunia lainnya.
Aruna gemetar.
“Jadi… dunia ketiga itu…”
“Adalah kesalahan kami.”
Suara itu terdengar berat.
Penuh penyesalan.
“Lalu kenapa masih ada sekarang?”
Sosok itu menatapnya.
“Karena keseimbangan belum pernah benar-benar tercapai.”
Aruna terdiam.
Semua mulai masuk akal.
Kekuatan dalam dirinya.
Hubungannya dengan dua dunia.
Bahkan makhluk celah itu—
bukan musuh.
Melainkan… sisa dari kegagalan.
“Lalu aku ini apa…?” bisik Aruna.
Sosok itu mendekat.
Cahaya lembut menyentuhnya.
“Kau adalah jawaban yang kami tunggu.”
“Pewaris yang mampu menyatukan, bukan memisahkan.”
Aruna menatap tiga jalan itu lagi.
“Kalau aku memilih salah satu…?”
“Dua dunia lainnya akan runtuh.”
Aruna mengepalkan tangannya.
“Dan kalau aku memilih semuanya…?”
Sosok itu terdiam sejenak.
Lalu berkata—
“Kau akan kehilangan dirimu.”
Hening.
Pilihan itu…
tidak adil.
Di dunia nyata—
cahaya di sekitar tubuh Aruna semakin besar.
Retakan di langit mulai berdenyut mengikuti ritmenya.
Ravian menatap dengan cemas.
“Dia terlalu lama di sana…”
Elyndra mengangguk.
“Dia sedang memilih takdirnya…”
Ravian menggertakkan giginya.
“Kalau pilihannya menghancurkan dia…”
Ia menatap ke atas.
“…aku tidak akan membiarkannya sendirian.”
Di dalam kesadaran—
Aruna menutup matanya.
Air mata jatuh perlahan.
“Aku tidak mau kehilangan diriku…”
“Tapi aku juga tidak bisa membiarkan dunia hancur…”
Ia mengingat semuanya.
Desanya.
Pertemuan dengan Ravian.
Pertarungan.
Dan suara hangat yang selalu menariknya kembali.
Ia membuka matanya.
Tatapannya berubah.
Tenang.
Namun kuat.
“Kalau tidak ada pilihan yang benar…”
Ia melangkah maju.
Menuju tengah—
di antara tiga jalan.
“…maka aku akan membuat jalanku sendiri.”
Tiga energi itu mulai bereaksi.
Cahaya, kegelapan, dan energi celah—
semuanya bergetar.
Sosok penjaga itu menatapnya.
Untuk pertama kalinya—
terlihat terkejut.
“Apa yang kau lakukan…?”
Aruna mengangkat tangannya.
Ketiga energi itu mulai tertarik ke arahnya.
Perlahan.
Namun pasti.
“Aku tidak akan memilih salah satu…”
“…aku akan menyeimbangkan semuanya.”
Energi mulai menyatu.
Namun—
tubuh Aruna mulai bergetar.
Kesakitan.
Cahaya meledak di sekitarnya.
Di dunia nyata—
ledakan energi besar terjadi.
Langit Aetherion bergetar hebat.
Ravian berteriak—
“ARUNA!!!”
Namun cahaya itu terlalu terang.
Tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya.
Dan di tengah cahaya itu—
takdir baru mulai terbentuk.
Kelahiran Sang Penyeimbang
CINCINSLOT - Ledakan cahaya menelan segalanya.
Langit Aetherion tidak lagi terlihat.
Hanya ada pusaran energi—
emas, hitam, dan ungu keperakan—
yang saling bertabrakan.
Di tengahnya—
Aruna.
Tubuhnya melayang, diselimuti tiga kekuatan yang kini tidak lagi bertarung…
melainkan menyatu.
Di bawah, Ravian berusaha tetap berdiri.
“Aruna… bertahanlah…”
Angin energi menghantamnya berkali-kali.
Namun ia tidak mundur.
Di sampingnya, Elyndra menatap dengan wajah serius.
“Ini… belum pernah terjadi sebelumnya…”
“Dia tidak memilih…”
“…dia memaksa keseimbangan itu sendiri.”
Di dalam pusaran—
Aruna menjerit.
Tubuhnya terasa seperti terbelah.
Cahaya membakar.
Kegelapan menekan.
Energi celah mengoyak kesadarannya.
Namun di tengah rasa sakit itu—
ia tetap bertahan.
“Aku… tidak akan… hancur…”
Tiga suara mulai terdengar.
Saling bertumpuk.
“Kau adalah cahaya.”
“Kau adalah kegelapan.”
“Kau adalah kehampaan.”
Aruna menggenggam tangannya.
“Tidak…”
Matanya terbuka.
Bersinar dengan tiga warna sekaligus.
“Aku… adalah diriku sendiri.”
BOOOOOOOOM!!!
Ledakan energi terbesar terjadi.
Cahaya menyebar ke seluruh langit.
Namun kali ini—
tidak menghancurkan.
Melainkan… menenangkan.
Pusaran perlahan mereda.
Retakan di langit mulai menutup.
Makhluk celah berhenti bergerak.
Dan untuk pertama kalinya—
semuanya menjadi sunyi.
Dari dalam cahaya—
sosok turun perlahan.
Aruna.
Namun kini—
ia berbeda.
Matanya bersinar lembut dengan tiga warna.
Aura di tubuhnya tenang.
Namun terasa… tak terbatas.
Ravian menatapnya tak percaya.
“Itu… benar-benar dia…?”
Elyndra mengangguk pelan.
“Bukan hanya Aruna…”
“…dia sekarang adalah Penyeimbang.”
Aruna membuka matanya perlahan.
Ia melihat sekeliling.
Aetherion.
Ravian.
Elyndra.
Semua masih ada.
Ia tersenyum kecil.
“Berhasil…”
Namun—
retakan di langit belum sepenuhnya hilang.
Di tengahnya—
inti dunia ketiga masih berdenyut.
Lebih kecil.
Namun masih ada.
Aruna menatapnya.
“Ini belum selesai…”
Tiba-tiba—
inti itu bergetar.
Dan dari dalamnya—
sesuatu keluar.
Lebih besar.
Lebih pekat.
Lebih sempurna.
Makhluk celah sebelumnya… hanyalah bagian kecil.
Kini—
wujud aslinya muncul.
Bentuknya seperti perpaduan semua energi.
Cahaya.
Kegelapan.
Dan kehampaan.
Matanya terbuka.
Menatap langsung ke Aruna.
“Akhirnya… kau lahir.”
Suaranya menggema di seluruh dunia.
Ravian langsung berdiri di depan Aruna.
Namun Aruna mengangkat tangannya.
“Tidak…”
Ia melangkah maju.
Tatapannya tenang.
Namun penuh kekuatan.
“Aku yang akan menghadapi ini.”
Makhluk itu tersenyum—
jika itu bisa disebut senyum.
“Kalau begitu… tunjukkan padaku…”
“…apakah keseimbangan benar-benar ada.”
Langit kembali bergetar.
Energi mulai berkumpul.
Pertarungan terakhir—
akan dimulai.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar