CINCINSLOT - Langit Aetherion masih bergetar.
Retakan besar itu belum tertutup.
Namun kini… semuanya terasa lebih sunyi.
Seolah dunia sedang menunggu sesuatu.
Di tengah kota, cahaya di sekitar Aruna perlahan mereda.
Tubuhnya turun kembali ke tanah.
Napasnya berat.
Namun matanya… sudah kembali sadar.
“Aruna…” suara Ravian terdengar pelan.
Ia langsung menangkap tubuh Aruna sebelum terjatuh.
“Kau… kembali…”
Aruna membuka matanya perlahan.
“Ravian…”
Suaranya lemah.
Namun ada satu hal yang berbeda—
tatapannya lebih dalam.
Seolah ia telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya.
Di belakang mereka, Elyndra mendekat dengan cepat.
“Bagaimana kondisinya?”
Ravian menggeleng.
“Dia sadar… tapi sesuatu berubah.”
Aruna menatap tangannya sendiri.
Cahaya kecil masih berdenyut.
Namun kini—
ada kilatan ungu samar di dalamnya.
“Aku… melihat sesuatu…” bisiknya.
Elyndra langsung fokus.
“Apa yang kau lihat?”
Aruna menutup matanya sejenak.
Mengingat.
Sebuah dunia…
yang kosong.
“Hanya kehampaan…” katanya pelan.
“Tidak ada cahaya… tidak ada kegelapan…”
Semua penjaga terdiam.
Elyndra mengepalkan tangannya.
“Itu benar…”
Ravian mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Elyndra menarik napas dalam.
Lalu berkata—
“Ada dunia ketiga.”
Semua mata tertuju padanya.
“Namun… dunia itu telah hilang.”
Aruna menatapnya.
“Hilang…?”
Elyndra mengangguk.
“Dulu… sebelum cahaya dan kegelapan seimbang…”
“Pernah ada dunia yang gagal menjaga keseimbangan.”
Suaranya semakin pelan.
“…dan dunia itu runtuh.”
Hening.
Angin berhembus dingin.
Aruna menggenggam tangannya.
“Makhluk itu… berasal dari sana…”
Elyndra mengangguk.
“Bukan makhluk biasa…”
“…melainkan sisa dari kehancuran.”
Ravian menatap langit retak.
“Jadi… celah itu bukan sekadar gerbang…”
Elyndra melanjutkan—
“Itu adalah luka dari dunia yang pernah ada.”
Tiba-tiba—
langit kembali bergetar.
Namun kali ini—
lebih dalam.
Lebih… menekan.
KRRRRAAAKKK!!!
Retakan itu melebar lagi.
Namun bukan hanya satu.
Beberapa retakan kecil mulai muncul di langit.
Seperti jaringan.
Aruna membelalakkan mata.
“Tidak… ini menyebar…”
Elyndra langsung berseru—
“Semua penjaga bersiap!”
Ravian berdiri di depan Aruna.
“Apa yang akan terjadi?”
Elyndra menjawab dengan suara serius—
“Jika celah itu terus terbuka…”
“…dua alam kita akan mengalami nasib yang sama.”
Aruna menggertakkan giginya.
“Aku tidak akan membiarkan itu…”
Namun sebelum ia bisa bergerak—
suara itu kembali terdengar.
Di dalam pikirannya.
Lebih jelas dari sebelumnya.
“Pewaris…”
Aruna membeku.
“Apa lagi…?”
“Kau telah melihat…”
“…sekarang pilih.”
Tiba-tiba—
penglihatannya berubah.
Ia kembali berada di ruang kosong itu.
Namun kali ini—
ia tidak sendiri.
Di depannya—
muncul dua bayangan.
Satu bersinar terang.
Satu gelap pekat.
Dan di belakang mereka—
kehampaan.
“Dua alam… tidak cukup…”
“Keseimbangan harus diperbarui…”
Aruna menatap keduanya.
“Apa maksudmu… pilih?”
Suara itu menjawab—
“Jika tidak… semua akan menjadi seperti kami.”
Bayangan dunia hancur muncul lagi.
Lebih jelas.
Lebih nyata.
Aruna mengepalkan tangannya.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!”
Tiba-tiba—
kedua bayangan itu bergerak.
Mendekat.
Seolah ingin menyatu dengannya.
Aruna terkejut.
“Apa ini?!”
Di dunia nyata—
tubuhnya kembali bersinar.
Namun kali ini—
cahaya dan kegelapan muncul bersamaan.
Ravian terkejut.
“Tidak… lagi?!”
Elyndra menatap serius.
“Bukan…”
Ia menyipitkan mata.
“…ini bukan kehilangan kendali.”
Cahaya di sekitar Aruna mulai berubah.
Lebih stabil.
Lebih dalam.
Seolah ia mulai… memahami.
Namun—
di langit—
retakan semakin besar.
Dan dari dalamnya—
lebih banyak makhluk mulai muncul.
Perang… tidak bisa dihindari lagi.
Menutup Celah Takdir
CINCINSLOT - Langit Aetherion kini hampir tak terlihat.
Retakan besar itu telah berubah menjadi gerbang raksasa.
Di baliknya—
dunia ketiga terbuka semakin jelas.
Pecahan tanah melayang.
Langit pecah seperti kaca.
Dan di tengah kehancuran itu—
sebuah inti energi berdenyut perlahan.
Seperti jantung yang masih hidup.
Semua orang merasakannya.
Tekanan yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah keberadaan mereka sendiri mulai terganggu.
Di bawah, Aruna berdiri di tengah medan.
Cahaya kecil di tangannya mulai membesar.
Namun kali ini—
tidak liar.
Tidak tak terkendali.
Melainkan… terarah.
Ravian berdiri di sampingnya.
“Aku akan membuka jalan.”
Elyndra mengangkat tangannya.
Para penjaga membentuk formasi.
“Kami akan menahan makhluk-makhluk itu.”
Ia menatap Aruna.
“Kau fokus pada celahnya.”
Aruna mengangguk.
“Aku mengerti.”
Namun sebelum ia bergerak—
langit tiba-tiba bergetar hebat.
DUUUUUM!!!
Dari dalam gerbang—
sesuatu bergerak.
Lebih besar dari sebelumnya.
Lebih berat.
Lebih… nyata.
Makhluk utama dari dunia ketiga perlahan muncul.
Tubuhnya seperti gabungan pecahan realitas.
Sebagian transparan.
Sebagian padat.
Dan di dadanya—
terdapat retakan bercahaya gelap.
Aruna membeku.
“Itu… sumbernya…”
Makhluk itu membuka mata.
Kosong.
Namun dalamnya… tak terbatas.
Dan suaranya menggema di seluruh Aetherion—
“Keseimbangan… adalah ilusi…”
Para penjaga langsung menyerang.
Namun—
serangan mereka menembus tubuh makhluk itu.
Seolah tidak berpengaruh.
Ravian melesat maju.
Pedangnya bersinar terang.
SLASH!
Namun hasilnya sama.
Makhluk itu bahkan tidak bergerak.
Elyndra menggertakkan giginya.
“Serangan fisik tidak akan berhasil…”
Ia menoleh ke Aruna.
“Hanya kau yang bisa menyentuhnya.”
Aruna menarik napas dalam.
Jantungnya berdegup cepat.
Namun kali ini—
ia tidak ragu.
“Aku akan mencobanya.”
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Cahaya di tubuhnya mulai menyebar.
Mengalir ke tanah.
Ke udara.
Ke langit.
Seolah terhubung dengan segalanya.
Makhluk itu menatapnya.
“Pewaris…”
“Akhirnya… kau datang…”
Aruna berhenti di depannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dunia ini.”
Makhluk itu sedikit menunduk.
Seolah tertarik.
“Dunia… selalu berakhir…”
“Aku hanya mempercepatnya…”
Aruna menggeleng.
“Tidak.”
Cahaya di tangannya membesar.
“Keseimbangan bukan ilusi.”
“Itu pilihan.”
Makhluk itu diam sejenak.
Lalu—
mengangkat tangannya.
Ruang di sekitar mereka retak.
Serangan besar terbentuk.
Namun Aruna tidak mundur.
Ia menutup matanya.
Dan mengingat—
dua dunia.
Cahaya.
Kegelapan.
Dan dunia ketiga yang hancur.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi…”
Ia membuka matanya.
Dan—
cahayanya berubah.
Lebih luas.
Lebih dalam.
Tidak hanya terang—
namun juga menerima kegelapan.
Energi dari dua alam mengalir melalui dirinya.
Makhluk itu menyerang.
BOOOOOOM!!!
Namun kali ini—
Aruna tidak terpental.
Ia berdiri di tengah ledakan.
Cahaya di sekitarnya membentuk jalur.
Langsung menuju inti makhluk itu.
Ravian membelalakkan mata.
“Dia… menyatu dengan energinya…”
Elyndra berbisik pelan—
“Itulah… kekuatan sejati pewaris…”
Aruna melangkah lebih dekat.
Hingga akhirnya—
ia menyentuh inti makhluk itu.
Hening.
Untuk sesaat—
semuanya berhenti.
Lalu—
cahaya dan energi asing mulai menyatu.
Bukan bertabrakan.
Namun… beresonansi.
Makhluk itu bergetar.
“Ini… bukan… kehancuran…”
Aruna berbisik—
“Ini adalah keseimbangan.”
Cahaya menyebar.
Perlahan.
Namun pasti.
Retakan di langit mulai menutup.
Makhluk-makhluk kecil menghilang satu per satu.
Namun—
inti itu belum sepenuhnya stabil.
Dan Aruna mulai goyah.
Energi itu terlalu besar.
Ravian berteriak—
“Aruna! Jangan memaksakan diri!”
Namun Aruna tetap bertahan.
“Aku… hampir berhasil…”
Cahaya semakin terang.
Namun tubuhnya mulai melemah.
Jika ia teruskan—
ia mungkin tidak akan kembali.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar