CINCINSLOT - Langit Aetherion tidak lagi tenang.
Retakan besar itu kini semakin melebar.
Namun kali ini… sesuatu terasa berbeda.
Bukan kegelapan.
Bukan pula cahaya.
Melainkan… sesuatu yang asing.
Di tengah kota, semua penjaga bersiaga.
Elyndra berdiri di garis depan, tatapannya tajam ke arah langit.
“Itu bukan energi dari dua alam…” ucapnya pelan.
Di sampingnya, Ravian menggenggam pedangnya erat.
“Lalu… dari mana itu berasal?”
Elyndra tidak langsung menjawab.
Namun wajahnya menunjukkan satu hal—
kekhawatiran.
Di belakang mereka, Aruna menatap retakan itu dengan jantung berdebar.
“Aku… bisa merasakannya…”
Ravian menoleh.
“Apa maksudmu?”
Aruna memegang dadanya.
“Energi itu… seperti memanggilku…”
Tiba-tiba—
KRRRRAAAKKK!!!
Langit retak lebih besar.
Cahaya aneh keluar dari dalamnya.
Berwarna ungu keperakan.
Berputar seperti pusaran.
Dan dari dalamnya—
sesuatu muncul.
Bentuknya tidak stabil.
Seperti bayangan… namun berkilau.
Tubuhnya berubah-ubah.
Kadang terlihat seperti manusia.
Kadang seperti makhluk tak berbentuk.
Matanya—
kosong.
Namun terasa menembus segalanya.
Semua orang terdiam.
Bahkan para penjaga.
“Makhluk… apa itu…” bisik Aruna.
Elyndra melangkah maju.
Suaranya tegas—
“Semua mundur! Jangan dekati!”
Namun sudah terlambat.
Makhluk itu turun ke tanah.
Tanpa suara.
Tanpa gerakan.
Namun kehadirannya saja—
membuat udara terasa berat.
Ravian mencoba mendekat.
Namun saat ia melangkah—
BRAK!
Ia terpental ke belakang tanpa disentuh.
“Ravian!” teriak Aruna.
Makhluk itu akhirnya bergerak.
Perlahan menoleh—
langsung ke arah Aruna.
Seolah hanya dia yang terlihat.
Jantung Aruna berhenti sesaat.
“Ia… melihatku…”
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Ruang di sekitarnya… terdistorsi.
Seperti realitas mulai retak.
Elyndra langsung berteriak—
“Itu bukan makhluk biasa!”
“Itu… celah itu sendiri!”
Makhluk itu berbicara—
namun bukan dengan suara.
Melainkan langsung di dalam pikiran.
“Pewaris… ditemukan…”
Aruna terhuyung.
“Apa… kau ini…?”
“Dua alam… tidak cukup…”
“Keseimbangan… akan dihapus…”
Tiba-tiba—
makhluk itu bergerak cepat.
Langsung menuju Aruna.
Namun kali ini—
Aruna tidak mundur.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya muncul.
Namun berbeda dari sebelumnya.
Cahaya itu bergetar.
Tidak stabil.
Seolah bereaksi terhadap makhluk itu.
“Kenapa… kekuatanku…?”
Makhluk itu berhenti di depannya.
Sangat dekat.
Dan untuk pertama kalinya—
Aruna melihat dirinya sendiri…
di dalam tubuh makhluk itu.
Bayangan dirinya.
Terpecah.
Terbelah.
“Apa ini…?”
Elyndra berteriak—
“Aruna! Jangan melihatnya!”
Namun sudah terlambat.
Makhluk itu menyentuh tangan Aruna.
FLASH!!!
Cahaya dan energi asing meledak.
Seluruh Aetherion terguncang.
Aruna menjerit.
Kepalanya dipenuhi bayangan.
Dunia yang hancur.
Langit tanpa cahaya.
Dan dirinya—
berdiri sendirian di tengah kehampaan.
“Tidak… ini bukan nyata…”
Di dunia nyata—
tubuh Aruna mulai melayang.
Cahaya dan energi asing bercampur di sekitarnya.
Ravian mencoba bangkit.
“Aruna…!”
Namun ia tidak bisa mendekat.
Energi itu terlalu kuat.
Elyndra mengepalkan tangannya.
“Kalau ini terus terjadi…”
“Dia akan kehilangan dirinya!”
Makhluk itu berbisik—
“Pewaris… bukan milik dua alam…”
“…tapi milik semua.”
Cahaya semakin tidak stabil.
Dan untuk pertama kalinya—
Aruna kehilangan kendali.
Cahaya yang Kehilangan Kendali
CINCINSLOT - Energi berputar liar di langit Aetherion.
Cahaya emas milik Aruna kini bercampur dengan kilatan ungu keperakan dari makhluk celah.
Udara terasa berat.
Seolah dunia tidak lagi stabil.
Di tengah pusaran itu, tubuh Aruna melayang.
Matanya terbuka—
namun kosong.
“Aruna…!” teriak Ravian.
Ia mencoba berdiri, memaksa tubuhnya yang terluka.
Namun setiap langkah terasa seperti melawan tekanan tak terlihat.
Di dekatnya, Elyndra mengangkat tangannya.
“Semua penjaga! Bentuk penghalang sekarang!”
Para penjaga segera bergerak.
Lingkaran cahaya terbentuk mengelilingi Aruna.
Namun—
CRACK!
Penghalang itu retak hanya dalam hitungan detik.
Elyndra menggertakkan giginya.
“Kekuatannya… meningkat terlalu cepat!”
Di dalam kesadaran Aruna—
ia tidak lagi berada di Aetherion.
Ia berdiri di ruang kosong.
Gelap.
Tak berbatas.
“Di mana aku…?”
Suara itu kembali terdengar.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
“Di antara.”
Aruna menoleh.
Makhluk itu muncul di hadapannya.
Namun kini—
bentuknya lebih jelas.
Setengah cahaya.
Setengah kegelapan.
Dan di tengahnya—
retakan.
“Apa kau… musuh?” tanya Aruna pelan.
Makhluk itu mendekat.
“Aku… adalah sisa.”
“Dari dunia yang dilupakan.”
Aruna mengernyit.
“Dunia ketiga…?”
Makhluk itu tidak menjawab langsung.
Namun tangannya terulur.
Dan saat menyentuh udara—
bayangan muncul.
Sebuah dunia yang hancur.
Langit runtuh.
Tanah pecah.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada kegelapan.
Hanya kehampaan.
Aruna membeku.
“Itu…?”
“Dunia yang gagal.”
“Keseimbangan… tidak tercapai.”
Makhluk itu menatapnya.
“Dan kau… adalah kunci berikutnya.”
Aruna mundur.
“Aku tidak mau jadi seperti itu…”
Makhluk itu semakin dekat.
“Kau tidak memilih.”
“Takdir memilihmu.”
Di dunia nyata—
energi di tubuh Aruna semakin tidak terkendali.
Cahaya mulai berubah.
Lebih tajam.
Lebih berbahaya.
Tanah di bawahnya retak.
Beberapa penjaga terpental.
Ravian akhirnya berhasil mendekat beberapa langkah.
“Aruna! Dengarkan aku!”
Namun tidak ada respons.
Matanya masih kosong.
Elyndra berteriak—
“Kalau kita tidak menghentikannya sekarang…”
“Dia akan menghancurkan Aetherion!”
Ravian menatap Aruna.
Lalu mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu… aku yang akan menghentikannya.”
Elyndra terkejut.
“Itu berbahaya! Kau bisa—”
“Aku tidak peduli.”
Ravian melangkah maju.
Perlahan.
Menembus tekanan energi itu.
Setiap langkah membuatnya kesakitan.
Namun ia terus berjalan.
“Aruna… kau dengar aku kan…”
Ia semakin dekat.
Cahaya liar itu mulai melukainya.
Namun ia tetap maju.
Di dalam kesadaran—
Aruna menutup telinganya.
“Aku tidak mau mendengar lagi!”
Namun tiba-tiba—
suara lain muncul.
Lembut.
Familiar.
“Aruna…”
Ia membeku.
Suara itu…
bukan dari makhluk itu.
Melainkan—
Ravian.
“Jangan hilang…”
“Jangan biarkan dirimu diambil…”
Aruna gemetar.
“Aku… takut…”
Makhluk itu mencoba mendekat lagi.
“Lepaskan dirimu.”
“Dan semuanya akan berakhir.”
Namun kali ini—
Aruna tidak mundur.
Ia mengangkat kepalanya.
Air mata mengalir.
“Aku… tidak sendiri…”
Cahaya kecil muncul di dadanya.
Hangat.
Stabil.
Berbeda dari energi liar tadi.
Di dunia nyata—
Ravian akhirnya berhasil mendekat.
Ia mengulurkan tangannya.
“Aruna!”
Dan tepat saat itu—
mata Aruna berkedip.
Untuk pertama kalinya—
ia sadar.
“Ravian…?”
Cahaya di sekitarnya bergetar hebat.
Makhluk celah itu bergerak lagi.
Namun kali ini—
Aruna mengangkat tangannya.
“Cukup…”
Cahaya dan energi asing itu bertabrakan.
Namun tidak meledak.
Melainkan… berhenti.
Sesaat.
Hening.
Semua orang terdiam.
Namun—
retakan di langit belum menutup.
Dan makhluk itu…
belum benar-benar pergi.
Ia hanya… menunggu.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar