Kamis, 26 Maret 2026

Cerita Romantis ( Pewaris dari Dua Alam ) eps 2

 

CINCINSLOT Cahaya perlahan meredup.

Langkah Aruna terasa goyah saat kakinya kembali menyentuh tanah.

Namun… tanah ini berbeda.

Lebih hangat.

Lebih hidup.

Ia membuka matanya perlahan.

Dan yang ia lihat—

membuat napasnya terhenti.

Di hadapannya terbentang sebuah kota besar yang bercahaya.

Menara-menara tinggi berkilau seperti kristal.

Jalanan dipenuhi cahaya lembut yang melayang di udara.

Langitnya berwarna keemasan, seolah matahari tak pernah benar-benar tenggelam.

“Aku… benar-benar di dunia lain…” bisik Aruna.

Pemuda di sampingnya memperhatikan reaksinya.

“Ini adalah Aetherion,” katanya.

“Kota pusat di Alam Kedua.”

Aruna menoleh.

“Aetherion…”

Ia mengulang pelan, masih belum percaya.

“Tunggu… kau belum memberitahuku namamu.”

Pemuda itu terdiam sesaat.

Lalu menjawab singkat—

“Ravian.”

Aruna mengangguk pelan.

“Aruna.”

Ravian sedikit tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Aruna mengernyit.

“Kau tahu?”

Namun sebelum Ravian menjawab—

suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Beberapa orang mendekat.

Mereka mengenakan jubah putih dengan simbol cahaya di dada mereka.

Tatapan mereka tertuju langsung pada Aruna.

Salah satu dari mereka, seorang wanita berambut perak, melangkah maju.

“Jadi… dia orangnya.”

Aruna sedikit mundur.

“Siapa kalian?”

Wanita itu menatapnya dengan dalam.

Tatapannya tidak dingin… tapi juga tidak hangat.

“Kami adalah penjaga keseimbangan.”

Ia berhenti sejenak.

“…dan kami telah menunggumu.”

Aruna menelan ludah.

“Menungguku…?”

Wanita itu mengangguk.

“Sejak lama.”

Ravian melangkah ke samping Aruna.

“Aku menemukannya sebelum mereka.”

Wanita itu melirik Ravian.

“Dan kau membawanya ke sini tanpa izin.”

Ravian tidak menjawab.

Namun tatapannya tetap tenang.

Wanita itu kembali fokus pada Aruna.

“Kau mungkin bingung.”

“Tapi keberadaanmu… bukan kebetulan.”

Aruna mengepalkan tangannya.

“Aku tidak mengerti apa-apa…”

“Kenapa semua orang bilang aku penting?!”

Suasana menjadi hening.

Lalu wanita itu mengangkat tangannya perlahan.

Sebuah cahaya kecil muncul di telapak tangannya.

“Kalau begitu… lihat sendiri.”

Cahaya itu melayang menuju Aruna.

Dan saat menyentuhnya—

FLASH!

Aruna tersentak.

Dunia di sekitarnya menghilang.

Ia melihat—

dua dunia.

Satu gelap.

Satu terang.

Keduanya terhubung oleh sebuah garis cahaya tipis.

Namun garis itu… mulai retak.

Dan di tengah garis itu—

ada dirinya.

Aruna membuka matanya dengan napas terengah.

“Apa… itu tadi…?”

Wanita itu menjawab pelan—

“Itu adalah keseimbangan dua alam.”

Ia menatap Aruna dengan serius.

“Dan kau… adalah titik tengahnya.”

Aruna terdiam.

Pikirannya kacau.

Namun satu hal kini jelas—

ini bukan sekadar kebetulan.

Ravian mendekat sedikit.

“Ada sesuatu yang harus kau ketahui.”

Aruna menatapnya.

“Apa…?”

Ravian terlihat ragu sejenak.

Namun akhirnya berkata—

“Gerbang yang kita lewati tadi…”

Ia menatap langit.

“…bukan satu-satunya.”

Aruna membeku.

“Maksudmu…?”

Wanita berambut perak melanjutkan—

“Jika satu gerbang terbuka… yang lain juga akan menyusul.”

Dan suaranya berubah lebih serius.

“Dan tidak semuanya… mengarah ke tempat yang aman.”

Angin tiba-tiba berhembus.

Langit keemasan Aetherion sedikit bergetar.

Seolah merasakan sesuatu yang akan datang.

Aruna menatap langit itu.

Hatinya berdebar pelan.

Petualangan ini…

ternyata baru permulaan.

Dan di balik keindahan dunia ini—

tersimpan rahasia yang jauh lebih besar.

Ujian Sang Pewaris

CINCINSLOT Langit keemasan Aetherion perlahan meredup.

Bukan karena malam—

melainkan karena sesuatu sedang dipersiapkan.

Di tengah kota, sebuah arena besar terbuka.

Lingkaran batu putih dengan simbol-simbol kuno yang berpendar samar.

Di sanalah Aruna berdiri.

Sendirian.

Jantungnya berdetak cepat.

“Ini… ujian?” bisiknya pelan.

Di sekeliling arena, para penjaga berjubah putih berdiri mengawasi.

Termasuk wanita berambut perak tadi.

Namanya kini Aruna ketahui—

Elyndra.

Elyndra melangkah maju.

Tatapannya tajam namun tenang.

“Jika kau benar-benar Pewaris dari Dua Alam…”

“…maka kekuatan itu pasti ada di dalam dirimu.”

Aruna menelan ludah.

“Aku bahkan tidak tahu cara menggunakannya…”

Elyndra mengangkat tangannya.

Simbol di lantai arena langsung menyala terang.

“Justru itu yang akan kita lihat.”

Di sisi lain, Ravian berdiri dengan wajah serius.

Ia ingin membantu—

namun tidak bisa.

Ini adalah ujian Aruna sendiri.

Elyndra memberi isyarat.

Dan dalam sekejap—

cahaya di arena berubah.

Udara menjadi berat.

Lalu dari lantai—

muncul bayangan.

Makhluk gelap, mirip dengan yang menyerang Aruna di dunia sebelumnya.

Namun kali ini—

lebih besar.

Lebih nyata.

Aruna mundur satu langkah.

“Itu… benda itu lagi…”

Makhluk itu menggeram.

Matanya merah menyala.

Elyndra berbicara dengan dingin—

“Buktikan… bahwa kau bisa bertahan.”

Makhluk itu langsung menyerang.

SWOOSH!

Aruna refleks menunduk.

Serangan itu nyaris mengenainya.

“Aku tidak bisa melawan ini!”

Ia berlari, menghindar.

Namun arena itu tertutup.

Tidak ada jalan keluar.

Makhluk itu terus mengejar.

Serangan demi serangan.

Aruna terjatuh.

Tangannya gemetar.

“Aku… tidak kuat…”

Di luar arena, beberapa penjaga mulai berbisik.

“Dia tidak bisa mengendalikan apa pun…”

“Apakah ini benar pewarisnya?”

Ravian mengepalkan tangannya.

“Bangkit… Aruna…”

Di dalam arena—

makhluk itu mengangkat tangannya.

Serangan terakhir siap dilepaskan.

Aruna menutup matanya.

“Aku tidak mau… berakhir seperti ini…”

Namun saat itu—

sesuatu muncul.

Hangat.

Lembut.

Dari dalam dirinya.

Suara yang familiar.

“Aruna…”

Matanya terbuka.

Cahaya kecil muncul di telapak tangannya.

“Apa… ini…?”

Makhluk itu menyerang.

Namun kali ini—

Aruna tidak lari.

Ia mengangkat tangannya.

Dan—

WOOOOOSH!

Cahaya itu meledak.

Membentuk perisai.

Serangan gelap itu terpental.

Semua orang terdiam.

Elyndra menyipitkan mata.

“Jadi… akhirnya muncul…”

Aruna menatap tangannya.

Cahaya itu masih berdenyut.

Namun berbeda.

Tidak liar.

Tidak menyakitkan.

Seolah… melindungi.

Makhluk itu kembali menyerang.

Namun kali ini—

Aruna melangkah maju.

“Aku… tidak takut lagi…”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya membesar.

Lalu—

FLASH!

Makhluk itu terkena cahaya.

Tubuhnya bergetar.

Dan perlahan—

menghilang.

Hening.

Arena kembali tenang.

Aruna terengah-engah.

Namun ia masih berdiri.

Elyndra berjalan mendekat.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi meragukan.

“Menarik…”

Ia berhenti di depan Aruna.

“Kau tidak menghancurkannya…”

Aruna menatapnya bingung.

“Aku… hanya menghentikannya…”

Elyndra tersenyum tipis.

“Itulah perbedaan antara kekuatan biasa… dan kekuatanmu.”

Ravian tersenyum kecil dari kejauhan.

“Dia berhasil…”

Namun sebelum suasana benar-benar tenang—

DUUUUM!!!

Suara besar mengguncang seluruh Aetherion.

Langit keemasan tiba-tiba retak.

Lebih besar dari sebelumnya.

Semua orang menoleh ke atas.

Wajah Elyndra langsung berubah serius.

“Tidak mungkin…”

Ravian mengepalkan pedangnya.

“Gerbang lain… terbuka.”

Di langit—

sebuah retakan besar muncul.

Dan dari dalamnya—

cahaya… yang berbeda.

Bukan terang.

Bukan gelap.

Namun sesuatu yang asing.

Aruna menatap ke atas.

Jantungnya berdegup keras.

“Apa lagi sekarang…?”

Elyndra berbicara pelan—

“…sesuatu yang bahkan bukan dari dua alam kita.”

Hening menyelimuti arena.

Dan untuk pertama kalinya—

mereka sadar.

Ancaman yang datang…

mungkin jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.










**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊..


                    

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar