CINCINSLOT - Cahaya emas memenuhi langit Eryndor.
Namun kali ini… bukan cahaya yang menenangkan.
Melainkan cahaya yang mengamuk.
Di tengah badai energi itu, Lyra melayang tanpa kendali.
Sayap cahayanya terbentang lebar, namun bentuknya semakin liar.
Angin berputar kencang di sekelilingnya.
Tanah retak.
Langit bergetar.
Dan setiap detik—
kekuatannya semakin besar.
Namun juga… semakin berbahaya.
Di bawah, Kael terhuyung berdiri.
Tubuhnya penuh luka.
Namun matanya hanya tertuju pada satu hal.
“Lyra…”
Ia melangkah maju.
Meski setiap langkah terasa seperti melawan badai.
Di kejauhan, Seren berteriak—
“Kael, berhenti! Kau akan terbunuh!”
Namun Kael tidak berhenti.
“Aku tidak bisa… membiarkannya sendirian…”
Ia terus melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya—
ia berada tepat di bawah Lyra.
Di atasnya, cahaya berputar seperti pusaran.
Siap meledak kapan saja.
Kael menarik napas dalam.
Lalu berteriak sekuat mungkin—
“LYRA!!!”
Suara itu menembus badai.
Untuk sesaat—
cahaya itu bergetar.
Di dalam pusaran, mata Lyra berkedip.
Seperti seseorang yang tersadar dari mimpi buruk.
“Kael…?”
Namun sekejap saja.
Kekuatan itu kembali mengamuk.
“Pergi… dari sini…” suara Lyra terdengar terpecah.
“Aku… tidak bisa… mengendalikannya…”
Kael menggeleng.
“Aku tidak akan pergi.”
Ia melangkah lebih dekat.
Meski cahaya mulai melukai tubuhnya.
Kulitnya terbakar.
Namun ia tetap maju.
“Kau pernah menyelamatkanku…”
Suaranya pelan, namun tegas.
“Sekarang… biarkan aku yang menyelamatkanmu.”
Lyra menggertakkan giginya.
Air mata jatuh dari matanya yang bersinar.
“Tidak… aku akan menyakitimu…”
Kael tersenyum tipis.
“Kalau itu terjadi… aku akan tetap di sini.”
Ia mengulurkan tangannya ke arah Lyra.
“Aku percaya padamu.”
Cahaya di sekitar Lyra bergetar hebat.
Seolah menolak.
Namun di dalamnya—
hati Lyra mulai goyah.
Bayangan masa lalu muncul lagi.
Tawa ibunya.
Cahaya hangat.
Dan suara lembut—
“Cahaya sejati… bukan tentang kekuatan…”
“Melainkan tentang hati yang memilih untuk melindungi.”
Lyra menutup matanya.
“Aku…”
Air matanya mengalir deras.
“Aku tidak ingin… menyakiti siapa pun lagi…”
Cahaya di sekelilingnya mulai berubah.
Tidak lagi liar.
Namun masih belum stabil.
Di kejauhan—
Penguasa Kegelapan mengamati.
Tatapannya tajam.
“Menarik…”
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Energi kegelapan mulai berkumpul lagi.
“Kalau begitu… aku akan memaksamu memilih.”
Dalam sekejap—
ia melepaskan serangan besar ke arah Kael.
BOOOOOOM!
Serangan itu melesat cepat.
Langsung menuju Kael yang tidak bergerak.
“KAEL!” teriak Seren.
Namun Kael tetap berdiri.
Tatapannya hanya pada Lyra.
Lyra membuka matanya.
Dan melihat—
serangan itu.
Menuju seseorang yang paling ia lindungi.
“Tidak…!”
Dalam satu detik—
semuanya berhenti.
Lalu—
Cahaya Lyra berubah.
Bukan lagi badai.
Bukan lagi amarah.
Namun—
perisai.
WOOOOOOOSH!
Cahaya emas besar turun, melindungi Kael.
Serangan kegelapan menghantam—
BRAAAAAK!
Namun kali ini—
tidak menembus.
Lyra melayang turun perlahan.
Sayap cahayanya masih bersinar…
namun kini lebih tenang.
Lebih… murni.
Ia berdiri di depan Kael.
Terengah-engah.
Namun matanya kembali jernih.
“Aku… tidak akan kehilangan diriku lagi…”
Kael tersenyum lemah.
“Itu Lyra yang aku kenal…”
Di kejauhan, Penguasa Kegelapan menatap mereka.
Namun kali ini—
senyumnya menghilang.
“Jadi kau memilih jalan itu…”
Langit kembali bergetar.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“Kalau begitu… aku akan menghancurkan segalanya… bersamamu.”
Cahaya dan kegelapan kembali meningkat.
Namun kini—
Lyra tidak lagi sendirian.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar memilih siapa dirinya.
Cahaya yang Hampir Padam
CINCINSLOT - Cahaya emas memenuhi langit Eryndor.
Namun kali ini… bukan cahaya yang menenangkan.
Melainkan cahaya yang mengamuk.
Di tengah badai energi itu, Lyra melayang tanpa kendali.
Sayap cahayanya terbentang lebar, namun bentuknya semakin liar.
Angin berputar kencang di sekelilingnya.
Tanah retak.
Langit bergetar.
Dan setiap detik—
kekuatannya semakin besar.
Namun juga… semakin berbahaya.
Di bawah, Kael terhuyung berdiri.
Tubuhnya penuh luka.
Namun matanya hanya tertuju pada satu hal.
“Lyra…”
Ia melangkah maju.
Meski setiap langkah terasa seperti melawan badai.
Di kejauhan, Seren berteriak—
“Kael, berhenti! Kau akan terbunuh!”
Namun Kael tidak berhenti.
“Aku tidak bisa… membiarkannya sendirian…”
Ia terus melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya—
ia berada tepat di bawah Lyra.
Di atasnya, cahaya berputar seperti pusaran.
Siap meledak kapan saja.
Kael menarik napas dalam.
Lalu berteriak sekuat mungkin—
“LYRA!!!”
Suara itu menembus badai.
Untuk sesaat—
cahaya itu bergetar.
Di dalam pusaran, mata Lyra berkedip.
Seperti seseorang yang tersadar dari mimpi buruk.
“Kael…?”
Namun sekejap saja.
Kekuatan itu kembali mengamuk.
“Pergi… dari sini…” suara Lyra terdengar terpecah.
“Aku… tidak bisa… mengendalikannya…”
Kael menggeleng.
“Aku tidak akan pergi.”
Ia melangkah lebih dekat.
Meski cahaya mulai melukai tubuhnya.
Kulitnya terbakar.
Namun ia tetap maju.
“Kau pernah menyelamatkanku…”
Suaranya pelan, namun tegas.
“Sekarang… biarkan aku yang menyelamatkanmu.”
Lyra menggertakkan giginya.
Air mata jatuh dari matanya yang bersinar.
“Tidak… aku akan menyakitimu…”
Kael tersenyum tipis.
“Kalau itu terjadi… aku akan tetap di sini.”
Ia mengulurkan tangannya ke arah Lyra.
“Aku percaya padamu.”
Cahaya di sekitar Lyra bergetar hebat.
Seolah menolak.
Namun di dalamnya—
hati Lyra mulai goyah.
Bayangan masa lalu muncul lagi.
Tawa ibunya.
Cahaya hangat.
Dan suara lembut—
“Cahaya sejati… bukan tentang kekuatan…”
“Melainkan tentang hati yang memilih untuk melindungi.”
Lyra menutup matanya.
“Aku…”
Air matanya mengalir deras.
“Aku tidak ingin… menyakiti siapa pun lagi…”
Cahaya di sekelilingnya mulai berubah.
Tidak lagi liar.
Namun masih belum stabil.
Di kejauhan—
Penguasa Kegelapan mengamati.
Tatapannya tajam.
“Menarik…”
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Energi kegelapan mulai berkumpul lagi.
“Kalau begitu… aku akan memaksamu memilih.”
Dalam sekejap—
ia melepaskan serangan besar ke arah Kael.
BOOOOOOM!
Serangan itu melesat cepat.
Langsung menuju Kael yang tidak bergerak.
“KAEL!” teriak Seren.
Namun Kael tetap berdiri.
Tatapannya hanya pada Lyra.
Lyra membuka matanya.
Dan melihat—
serangan itu.
Menuju seseorang yang paling ia lindungi.
“Tidak…!”
Dalam satu detik—
semuanya berhenti.
Lalu—
Cahaya Lyra berubah.
Bukan lagi badai.
Bukan lagi amarah.
Namun—
perisai.
WOOOOOOOSH!
Cahaya emas besar turun, melindungi Kael.
Serangan kegelapan menghantam—
BRAAAAAK!
Namun kali ini—
tidak menembus.
Lyra melayang turun perlahan.
Sayap cahayanya masih bersinar…
namun kini lebih tenang.
Lebih… murni.
Ia berdiri di depan Kael.
Terengah-engah.
Namun matanya kembali jernih.
“Aku… tidak akan kehilangan diriku lagi…”
Kael tersenyum lemah.
“Itu Lyra yang aku kenal…”
Di kejauhan, Penguasa Kegelapan menatap mereka.
Namun kali ini—
senyumnya menghilang.
“Jadi kau memilih jalan itu…”
Langit kembali bergetar.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“Kalau begitu… aku akan menghancurkan segalanya… bersamamu.”
Cahaya dan kegelapan kembali meningkat.
Namun kini—
Lyra tidak lagi sendirian.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar memilih siapa dirinya.

**** Bersambung ****
Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh πππ..
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar